
Hello! Im an artic!
“Sudah, di sini tidak aman. Sebaiknya kamu cepat pergi.”Setelah memberikan sepotong ucapan manis pada pria itu, Zhao Xueyan kembali membangunkan pria itu dari mimpi indahnya.
Ji Xingfeng menatap Zhao Xueyan dengan sedikit tidak rela, “Kamu sebegitu inginnya aku pergi?”
Hello! Im an artic!
“Kaisar memanggilmu hari ini. Kalau kamu terlambat, nanti dia akan curiga. Kalau dia menyuruh orang datang mencarimu, takutnya akan terjadi masalah.”
“Baiklah. Xueyan, aku pergi dulu. Kamu harus jaga dirimu dengan baik. Mengenai si ****** Qin Ruchen, aku pasti akan membuatnya mati tanpa kuburan.”
“Baiklah, Pangeran Keempat. Kutunggu kabar baikmu.”
__ADS_1
Melihat punggung pria itu yang semakin menjauh, senyum lembut yang tersungging di bibir Zhao Xueyan perlahan menjadi kaku. Sampai akhirnya, senyum itu berubah menjadi ekspresi ganas dan kejam yang tanpa batas. Setelah dia mati, batu pijakan berikutnya yang harus disingkirkan adalah dirimu.
Hello! Im an artic!
Sejak saat itu, tidak ada yang bisa menggoyahkan posisi Ji Xingyun sebagai kaisar. Juga tidak ada siapa pun yang bisa menggoyahkan posisi Zhao Xueyan sebagai ratu.
Pada pertengahan Juni, Negara Qi sangat panas. Bahkan para bangsawan istana tidak dapat menahan kekesalan batinnya dan rasa tertekan mereka.
Hari ini, keputusan yang Ji Xingyun turunkan segera menyebabkan kehebohan di seantero istana.
Sementara seluruh negeri berduka, banyak pasang mata yang tampak penasaran d istana saat ini. Permaisuri Qin baik-baik saja beberapa waktu lalu, kenapa tiba-tiba meninggal? Meski merasa agak aneh, tapi tidak ada ruginya untuk mereka. Karena posisi di sisi kaisar yang diidam-idamkan semua wanita di dunia akhirnya kosong.
Dan Selir Zhen, Selir Chang, dan Zhao Xueyan yang tahu kebenarannya, bersembunyi di sudut yang tersembunyi untuk curi-curi tertawa.
__ADS_1
Tentu saja, Zhao Xueyan sedikit kecewa dengan keputusan yang diambil Ji Xingyun. Dia kecewa karena kaisar rela membiarkannya keluar istana, itu artinya kaisar masih punya perasaan lama padanya. Dia pikir, Ji Xingyun akan menggunakan sisi paling kejam dan ganas dalam dirinya untuk menghadapi Qin Ruchen. Tanpa diduga, Ji Xingyun sedikit gelisah.
Pada hari dia meninggalkan istana, Ye Wushuang tidak mengambil satu pun barang dari dalam istana. Dia hanya membiarkan Yuya mengikutinya. Mereka naik kereta yang sudah diatur oleh para kasim, tidak ada yang mengantar mereka, jadi mereka hanya bisa berjalan perlahan menuju ke gerbang istana.
Ibu Suri sudah tua, jantungnya sudah kurang baik. Dia tidak tahan dengan perasaan sentimen dan kesedihan untuk berpisah. Jadi dia hanya meminta orang untuk menyediakan sedikit uang perjalanan untuk Ye Wushuang, tapi tidak mengatakan apa-apa. Tapi Ye Wushuang tahu, meski Ibu Suri tidak datang, tapi kasih sayangnya telah sampai. Setelah kelahirannya kembali, Ibu Suri adalah penyelamat terbesarnya.
Namun selain mengingat kebaikan ini seumur hidup, Ye Wushuang tidak punya kesempatan untuk membalasnya.
Kereta bergerak perlahan, suara gemuruh dari roda kereta membuat orang merasa rileks dan bebas. Begitu keluar dari sini, Ye Wushuang bisa hidup di dunianya sendiri. Dia tidak usah dikendalikan oleh siapa pun, tidak perlu merasa ketakutan setiap waktu, tidak perlu berhati-hati akan segala sesuatu di sisinya.
Hari-hari di istana, hampir setiap hari bagaikan siksaan mental. Dia sangat ingin pergi, ingin keluar. Sekarang semuanya terwujud, seperti mimpi.
Namun dia tidak tahu, di paviliun tinggi Menara Caijun, seorang bangsawan yang mendominasi hidup dan mati semua orang sedang berdiri di sana sambil meletakkan tangannya di balik punggung. Alisnya bagaikan pedang, matanya sangat bermartabat. Sosok agungnya tidak bergerak dan terus mengawasi semuanya.
__ADS_1
Dia melihat kereta kuda itu melaju ke gerbang istana selangkah demi selangkah. Tiba-tiba salah satu sudut tirai kereta kuda itu tertiup angin. Kebetulan, menampakkan mata indah Ye Wushuang yang setengah menyipit.