Permaisuri Dibalik Cadar

Permaisuri Dibalik Cadar
Bab 461 Apa Yang Kamu Ingin Aku Lakukan


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Leng Bingxin mendengar helaan napasnya yang berat, anggota tubuhnya menjadi dingin, tenggorokannya tersumbat dan sulit untuk bernafas.


Leng Bingxin berkata: “Tidak apa-apa, ayo pergi …”


Hello! Im an artic!


Bei Fengchen tidak mengatakan apa-apa dan hanya bisa mengikuti di belakangnya, mengikuti langkah Leng Bingxin maju ke depan.


Setelah beberapa langkah, Bei Fengchen sepertinya tidak dapat menahan rasa bersalah di dalam hatinya, dia kemudian berkata dengan suara pelan: “Tenang saja, selama aku naik takhta suatu hari nanti, aku pasti akan melepaskannya kemudian memperlakukannya dengan baik seumur hidupnya.”


Mendengar ucapan ini, Leng Bingxin mencoba tersenyum untuk menghibur dirinya sendiri, tapi ekspresi wajahnya itu malah berubah menjadi raut kesakitan dan getir: “Kamu tahu, dia menggunakan seumur hidupnya hanya untuk hal-hal ini?”


Menghadapi pertanyaan tajam Leng Bingxin, Bei Fengchen menundukkan kepalanya dalam diam dan berpikir lama sebelum akhirnya berkata: “Sebenarnya aku tidak bisa memberikan padanya, dia juga tahu hal itu.”


Hello! Im an artic!


Setelah mendengarkan ucapan ini, Leng Bingxin perlahan memejamkan matanya, mengangkat tangannya dengan lemah dan berkata: “Aku mengerti.”

__ADS_1


Setelah selesai berbicara, Leng Bingxin ingin segera pergi. Tidak disangka, baru saja mengambil langkah, tapi dirnya ditarik kembali oleh kekuatan yang sangat besar.


Mendongak, Leng Bingxin berhadapan dengan tatapan mata Bei Fengchen yang jernih dan tampan, alis yang panjang dan ramping, batang hidung yang mancung, dan juga dagu yang runcing.


Tatapan matanya itu dipenuhi dengan pancaran sinar tak berujung, dia menatapnya dengan sedikit ketegasan dan berkata: “Apa kamu sedang mengeluh padaku?”


Leng Bingxin menolehkan dagunya dan berkata: “Aku tidak berani.”


“Kamu…” Berbicara sampai di sini, Bei Fengchen yang sudah tidak memiliki apa-apa untuk dikatakan akhirnya menghela nafas ringan, nadanya suaranya menjadi lemah. Tidak tahu mengapa, di antara semua wanita, dirinya tidak bisa berbuat kejam hanya pada Leng Bingxin saja. Sejak kecil Ibunya selalu mengatakan padanya bahwa dirinya tidak boleh terlalu memiliki perasaan terhadap siapapun dan terhadap apapun. Terutama terhadap orang yang ingin dimanfaatkan olehmu, kamu bahkan tidak boleh memiliki perasaan sedikit pun padanya, jika tidak maka dia akan membuatmu tidak bisa berbuat apapun, menghalangimu hingga tidak bisa melangkah maju.


“Pangeran, apa yang ingin kamu katakan?”


Leng Bingxin terlihat dingin tapi sebenarnya sangat baik hati. Dikarenakan Ziyue, kebencian Leng Bingxin terhadap Bei Fengchen semakin dalam, meski masih tinggal di sisi Bei Fengchen tapi hati Leng Bingxin sudah lama meremehkan tindakannya bukan?


Leng Bingxin menarik sudut bibirnya, menatap Bei Fengchen dengan dingin, dia berkata tanpa ada sedikit pun emosi di wajah cantiknya: “Pangeran, kamu membiarkanku bertemu dengan Ziyue, aku juga seharusnya menyetujui persyaratan darimu, katakan saja, apa yang kamu ingin aku lakukan selanjutnya?”


Mendengarkan kata-kata Leng Bingxin yang tajam dan lugas, Bei Fengchen sedikit terkejut, tatapan matanya yang tampan itu langsung mengelak. Rasa malu seakan pemikirannya terlihat dengan jelas oleh orang lain pada saat ini benar-benar terasa sangat canggung.


Leng Bingxin berkata: “Pangeran, karena itu adalah hal yang sudah direncanakan sedari awal, lalu mengapa repot-repot untuk mundur pada saat ini?”

__ADS_1


“Kamu… kamu sudah tahu?” Bei Fengchen sedikit mengernyit, merasa tidak berdaya atas kepintaran dan ketajaman Leng Bingxin.


“Ya, Pangeran merawatku begitu lama dan juga menghabiskan begitu banyak pemikiran padaku, tentu saja aku harus membalas budi pada Pangeran bukan? Ada pepatah yang sangat bagus, melatih tentara selama ribuan hari dan menggunakannya dalam sekejap. Bukankah itu persis seperti diriku?”


“Bingxin…”


“Pangeran, apa kamu tahu kenapa aku datang ke sini bersamamu?”


“Kenapa?”


Kedua bahu Leng Bingxin bergetar, dirinya tersenyum pahit dan berkata: “Karena kamu benar-benar sangat mirip dengan kenalan lamaku.”


“Kenalan lama?”


“Ya, kenalan lama. Dia sama sepertimu, memiliki senyum lembut dan juga tatapan mata yang begitu hangat. Karena itulah aku baru bisa mengikutimu kemari, di saat bersamaan aku juga bisa memikirkan mengapa para wanita itu rela menyerahkan nyawa mereka demi dirimu.”


“…”


“Kamu seperti racun yang mematikan, jelas-jelas berbahaya, tapi malah begitu memikat bagi mereka.”

__ADS_1


__ADS_2