
Hello! Im an artic!
“Dasar ******, ternyata kamu berani menjebakku?” Seiring dengan suara teriakan dingin yang tajam, tangan ramping Qin Ruchen sudah menghantam wajah putih dan halus milik Zhao Xueyan.
Dalam sekejap, tanda merah lima jari sudah tercetak di wajah cantik jelita milik Zhao Xueyan. Samar-samar juga terdapat noda darah dikarenakan tergores oleh kuku.
Hello! Im an artic!
Istana Fengyi yang mulia jatuh ke dalam keheningan yang mematikan untuk sesaat, para pelayan yang bertugas memandangi dua majikan cantik bagai Dewi itu dengan ketakutan. Beberapa tahun yang lalu, mereka masih merupakan saudari yang begitu akrab satu sama lain hingga membuat orang lain merasa iri, tapi dalam sekejap mata, semuanya berubah, kebencian di antara mereka membara sudah seperti api di padang rumput.
__ADS_1
Zhao Xueyan menatap Qin Ruchen yang sudah seperti anjing gila pada saat ini, senyum dingin dan sepi langsung muncul di wajah cantik itu, senyum itu seperti bunga poppy di atas tebing, seakan terdapat bahaya di tengah keindahan.
Pada saat ini, Zhao Xueyan memegangi wajahnya dengan pelan, menunjukkan sederet gigi putih bersih lalu mengatakan kata demi kata: “Kak Ruchen, aku selalu berpikir setelah bertahun-tahun bersaing di Istana, Kakak sudah mempelajari intrik dan metode di antara para saudari lainnya, tidak disangka Kakak malah jatuh di tanganku. Akhir ini sama seperti ketika Kakak berurusan dengan Selir Shu dan Selir Chen.”
Mendengar masa lalu yang diungkit oleh pihak lain, Qin Ruchen mengepalkan sepuluh jarinya di luar kendali, mendekatinya selangkah demi selangkah dengan tatapan mata penuh kebencian: “Dasar ******, aku akan membunuhmu …”
Hello! Im an artic!
Lapisan keringat dingin seketika keluar di dahinya, Qin Ruchen sedikit terengah-engah, berjuang sekuat tenaga untuk melihat ke arah itu.
__ADS_1
Pria tampan dan tegas yang mengenakan pakaian brokat kuning cerah, pria yang tidur dengannya selama 3 tahun itu pada saat ini melindungi Zhao Xueyan dengan sekuat tenaga, wajahnya yang tegas dan tampan itu dipenuhi dengan raut kekhawatiran dan kemarahan, itu benar-benar terlihat begitu jelas.
Bertahun-tahun yang lalu, ketika dirinya sedikit masuk angin, pria ini sepertinya juga menggunakan ekspresi seperti itu ketika menatapnya. Tapi sekarang… Qin Ruchen tersenyum dengan bodoh, matanya dipenuhi dengan kesedihan dan dia berkata: “Kaisar, Zhao Xueyan, wanita ****** ini ingin mencelakaiku…” Jelas-jelas dirinya sedang meminta bantuan dari pria ini, tapi Qin Ruchen menyadari, entah sejak kapan, diriny bahkan merasa bahwa kata-kata ini terlalu tidak berguna. Tapi meski demikian, Qin Ruchen masih berharap pria ini bisa menanggapinya.
Sedangkan pria itu hanya menatap Qin Ruchen sekilas dengan sangat dingin, tampilannya yang seperti itu seakan dirinya jijik melihat bangkai.
“Kaisar, aku tidak, aku selalu menganggap Permaisuri Ratu sebagai Kakakku sendiri, tapi tidak tahu kenapa, sejak Kaisar memanggilku memasuki Istana, Kakak malah memusuhiku.” Zhao Xueyan langsung berkata sambil menangis, di saat bersamaan Zhao Xueyan juga melepaskan tangan yang menutupi wajah kanannya, mata yang jernih dan indah itu ternyata memiliki kesedihan yang tak terungkapkan.
Setelah melihat pemandangan ini, pupil gelap Ji Xingyun seketika menyusut dalam, menatap tampilannya yang seperti itu, warna kebencian menjadi lebih dalam.
__ADS_1
Setelah mengikutinya selama bertahun-tahun, Qin Ruchen tentu saja tahu makna dalam di tatapan matanya. Kecuali untuk memperlakukan orang yang paling dibencinya, Ji Xingyun jarang memiliki ekspresi seperti itu.
Qin Ruchen menahan rasa sakit di punggungnya, dengan panik mencoba untuk meraih sesuatu, tapi pada akhirnya dirinya tidak meraih apa-apa. Qin Ruchen hanya bisa melampiaskan keluhannya pada wanita itu.