
Hello! Im an artic!
“Dasar wanita ******, aku berpikir kamu benar-benar bisa berubah, menyesal dan bertobat dari kejahatan masa lalumu itu, tidak disangka ternyata kamu masih tidak sadar.”
Raut wajah Ji Xingyun menggelap, kata-katanya seperti jarum, membuat seluruh tubuh orang yang mendengarnya berdenyut kesakitan karena tertusuk.
Hello! Im an artic!
Ye Wushuang marah, dia berdiri di sana dengan tenang, terdapat amarah yang muncul untuk pertama kalinya di tatapan matanya: “Aku tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh Kaisar.”
Ji Xingyun menatapnya dengan dingin, berpikir Ye Wushuang sengaja berpura-pura bodoh, detik berikutnya Ji Xingyun dengan marah mengeluarkan pedang tajam di pinggangnya, terdapat aura membunuh di wajah tampan yang kejam dan tidak berperasaan itu, membuat para dayang dan Kasim istana yang berada di samping ketakutan, mereka semua gemetar.
“Karena kamu masih berpura-pura, maka sekarang aku akan membunuhmu.” Kata-kata Ji Xingyun sama sekali tidak memiliki jejak kehangatan, pedang yang terangkat itu diarahkan ke arah Ye Wushuang tanpa belas kasih. Untungnya Ye Wushuang bereaksi tepat waktu, Ye Wushuang memiringkan tubuhnya untuk menghindar, pedang itu langsung tertancap di pilar sampingny. Lubang tanpa dasar itu terlihat di mata semua orang, mereka benar-benar tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi jika pedang itu dilayangkan ke tubuh Ye Wushuang.
Dari hal ini saja bisa terlihat kekejaman Kaisar terhadap Ratu Qin, cinta di antara suami istri itu sudah lama hilang. Selama Kaisar mengamuk maka nyawa Ratu Qin juga terancam.
__ADS_1
Hello! Im an artic!
“Kaisar, tidak boleh, tidak boleh…” Yuya berteriak dengan kencang tapi dirinya tidak berani melangkah maju, karena Yuya takut tubuhnya yang kurus ini tidak akan mampu menahan serangan tajam pedang dan hanya akan menambah beban pada Permaisuri.
Jelas ucapan seorang pelayan kecil tentu saja tidak berpengaruh di mata Ji Xingyun yang sudah sangat marah.
Ji Xingyun melihat Ye Wushuang berani menghindar, tidak diragukan lagi tindakan itu merupakan tindakan yang memprovokasinya, Ji Xingyun tidak hanya tidak berniat untuk melepaskannya, tapi dirinya semakin bertambah kejam dan raut wajahnya itu menjadi lebih serius, kemudian Ji Xingyung melangkah mendekat dan menekan Ye Wushuang ke dinding, ujung pisau dengan cahaya dingin itu diarahkan ke nadi milik Ye Wushuang.
Melihat pembuluh darah biru yang mengambang samar di kulit pucih pucat itu, Ji Xingyun tersenyum dingin dan terlihat haus darah: “Qin Ruchen, jika kamu berani bergerak lagi maka Dewa pun tidak akan dapat menyelamatkanmu.”
“Kaisar, mengapa kamu melakukan hal ini? Mengapa kamu ingin membunuh Permaisuri?” Yuya berteriak lemah di samping, air mata di matanya jatuh seperti tetesan mutiara.
Tatapan mata Ji Xingyun penuh rasa jijik, tanpa sedikit pun perasaan di dalamnya, Ji Xingyun menatap wanita di depannya dengan datar, meskipun matanya begitu jernih dan indah, tapi rencana yang tersembunyi di dalamnya itu membuatnya merasa mual.
Ji Xingyun tersenyum dingin dan mencibir: “Dia melakukan apa, hatinya tahu dengan sangat jelas, jika mengaku dengan jujur maka aku membuat mayatmu masih utuh.”
__ADS_1
“Aku tidak punya apa-apa untuk dikatakan.”
Ji Xingyun pikir Qin Ruchen akan berdalih, bahkan jika tidak berdalih maka dia akan memohon belas kasihan. Tapi Ji Xingyun tidak menyangka Qin Ruchen hanya memejamkan matanya dengan tenang, dan kemudian dengan santai mengucapkan kata-kata ini.
Itu karena Ye Wushuang tahu, dalam kondisi seperti ini, tidak peduli berapa banyak yang dikatakannya, itu akan sia-sia. Pria ini telah kehilangan akal sehatnya, pria ini sudah yakin bahwa dirinya mencelakai orang lain, sudah menjatuhkan kesalahan itu padanya di dalam hatinya, jika mengucapkan lebih banyak maka hanya akan dicap bersalah, jadi mengapa dia harus melakukannya?
“Qin Ruchen, kamu sendiri yang melakukannya, jangan salahkan aku karena bertindak kejam.”
Ji Xingyun tidak bisa menerima sikap Qin Ruchen yang masih bisa begitu tenang setelah melakukan kejahatan, dirinya sudah memberi kesempatan pada Qin Ruchen untuk memohon belas kasihan dan mengaku bersalah, tapi Qin Ruchen tidak menghargainya.
Ji Xingyun awalnya masih ingin membiarkannya hidup dan menyiksanya nanti, tapi sekarang sepertinya itu tidak perlu lagi.
“Kaisar, jangan…”
Yuya meraung keras, saat pedang tajam di tangan Ji Xingyun terangkat, Ji Xingyun melihat terdapat sedikit getaran di bulu mata Qin Ruchen yang sedikit tertutup itu, sudah seperti seekor kupu-kupu yang mengepakkan sayapnya dengan lemah. Ji Xingyun tidak bisa melihat wajah Qin Ruchen, tapi dirinya malah tertarik oleh ekspresi melankolis dan ketidakpedulian itu. Jangan bilang Qin Ruchen takut mati…
__ADS_1