
Hello! Im an artic!
Qin Ruojiu menatap lurus ke arah wajah dingin itu, raut serius dan tegas muncul di wajah pria itu, yang membuat orang lain tanpa sadar sedikit takut. Dia begitu dingin, seolah-olah Qin Ruojiu sudah terbiasa dengan kedinginan itu sejak lama.
Detik berikutnya, Qin Ruojiu bergidik tanpa sadar, tubuh kecilnya itu mundur beberapa langkah, matanya yang berkaca itu membelalak karena terkejut.
Hello! Im an artic!
“Kaisar…” Qin Ruojiu memanggil pelan, dirinya gemetar dan ketakutan. Pada saat ini, kehangatan yang biasanya terdapat di wajah Kaisar Zhaolie sudah menghilang, yang ada hanyalah lapisan es yang sangat tebal.
Kaisar Zhaolie bergegas ke sisi Qin Ruojiu seperti anak panah tajam yang melesat, menggenggam pergelangan tangan putih itu dan dengan kasar menyingkirkannya dari potret lukisan. Mengatupkan giginya dengan erat, terdengar suara yang bagai muncul dari kedalaman neraka: “Apa yang ingin kamu lakukan?”
Rasa sakit menusuk hati berasal dari pergelangan tangannya, Qin Ruojiu berusaha untuk melepaskan diri dan berkata: “Aku tidak, aku tidak …”
__ADS_1
“Apa yang ingin kamu lakukan pada Liqing? Apa yang ingin kamu lakukan padanya?”
Hello! Im an artic!
“Kaisar, aku… aku hanya ingin melihat-lihat, aku…”
“Apa kamu tidak tahu bahwa tidak ada yang boleh masuk ke sini kecuali diriku?” Kaisar Zhaolie terus menerus meraung seperti seekor singa gila.
Mata yang dingin dan sombong itu seakan tidak memiliki fokus, mata gelap yang dalam itu dipenuhi amarah, rambut hitamnya tersebar di pundak, di kedalaman mata hitam itu terdapat cahaya biru yang sekilas melintas. Wajah tampannya itu terdistorsi, tapi di saat bersamaan juga mengeluarkan aura dingin dari sisi tubuhnya. Membuat Qin Ruojiu tiba-tiba merasakan bahaya yang belum pernah dirasakannya sebelumnya dari ujung kepala hingga ujung kaki.
“Kaisar … kaisar … aku hanya …”
“Pergi, jangan biarkan aku melihatmu di sini lagi. Aku menyukaimu, tapi itu bukan berarti aku bisa membiarkanmu masuk ke dalam hatiku sesuka hati. Tempat ini bukanlah tempat yang bisa kamu datangi.”
__ADS_1
Tiba-tiba Kaisar Zhaolie melepaskannya, tangan besarnya itu mendorong Qin Ruojiu, pusat gravitasi Qin Ruojiu tidak stabil hingga dirinya mundur beberapa langkah.
Kepala Qin Ruojiu terbentur pada wadah dupa perunggu yang ada di samping. Asap yang keluar dari wadah dupa perunggu itu membuat mata Qin Ruojiu berkabut. Air mata Qin Ruojiu menetes jatuh sudah seperti hujan yang turun. Qin Ruojiu seketika terjatuh ke lantai.
Ternyata dirinya sedari awal hingga akhir tidak pernah masuk ke dalam hati Kaisar Zhaolie. Di dalam hati Kaisar Zhaolie, posisi paling penting ternyata merupakan milik wanita itu? Keberadaannya bahkan tidak sebanding dengan sebuah potret lukisan. Tidak sebanding dengan seorang wanita yang tidak pernah benar-benar muncul.
Mungkinkah segala sesuatu yang terjadi sebelumnya itu hanyalah sebuah lelucon konyol? Jiwa Qin Ruojiu bagai dikosongkan, Qin Ruojiu perlahan-lahan berdiri, air matanya menetes seperti mutiara yang transparan, saat air mata itu menetes dari sudut matanya, Qin Ruojiu malah tersenyum getir.
Senyum itu seperti bunga Lycoris yang basah kuyup di tengah hujan. Begitu cantik tapi terlihat putus asa, membuat orang lain merasa kasihan ketika melihatnya. Kaisar Zhaolie menatap Qin Ruojiu yang terjatuh di lantai, dirinya sedikit terkejut dan juga hatinya menjadi cemas.
Qin Ruojiu tidak mengatakan apa-apa, tapi hanya berjalan ke arahnya, mata Qin Ruojiu terlihat berkabut dan putus asa, nada bicaranya terdapat jejak perasaan yang tak terlukiskan: “Kaisar, jika kamu benar-benar menyukai Putri Liqing, mengapa tidak menikahinya? Kaisar berbuat seperti ini, hanya merindukan dan menatap sebuah potret lukisan, yang terluka adalah dirimu, tapi yang merasa sakit adalah aku!”
Kaisar Zhaolie menatap kedua mata itu yang seolah-olah tidak memiliki jiwa, amarahnya tadi menghilang secara bertahap. Ada sedikit rasa bersalah yang tersisa. Telapak tangan besar itu terentang ke depan tanpa sadar: “Ratu … aku …”
__ADS_1
“Kaisar, tidak perlu bicara lagi, aku sudah ingat. Mulai sekarang, aku tidak akan pernah datang lagi ke tempat ini.”
Setelah perkataan itu diucapkan, Qin Ruojiu berjalan menuju pintu tanpa daya sudah seperti sebuah bunga yang layu. Sosok kecil dan ringan itu, sudah seperti bunga dandelion yang akan menghilang ketika tertiup angin.