Permaisuri Dibalik Cadar

Permaisuri Dibalik Cadar
Bab 554 Benar-Benar Sangat Menarik


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Seorang pria, jika tidak dapat mengambil kendali atas seorang wanita, bagaimana caranya bisa mengendalikan dunia? Karena itu, Ji Xingyun tidak akan pernah mentolerir wanita yang melakukan tindakan seenaknya di bawah matanya.


Ketika Ji Xingyun pergi ke Paviliun Lixiang, sama sekali tidak ada pelayan dan Bibi yang berjaga di dalam, dirinya masuk ke dalam tanpa ada hambatan di sepanjang jalan.


Hello! Im an artic!


Ketika berjalan ke aula samping paviliun, dari kejauhan Ji Xingyun melihat sosok cantik yang sedang membungkuk untuk berlatih kaligrafi. Pelayan kecil di sebelahnya sedang meracik tinta sambil mengobrol dengan wanita itu. Keduanya tampak mengobrol dengan sangat gembira.Meski wajah wanita yang sedang menulis kaligrafi itu tidak terlihat, tapi bisa dilihat bahwa pelayan kecil itu tersenyum begitu seperti bahagia bunga musim semi.


Cahaya matahari yang terbenam menembus celah-celah dahan pohon dan terpapar ke tubuh mereka berdua, seketika terdapat semacam kehampaan dan keindahan yang tampak bagai berada di dunia yang begitu jauh.


Ji Xingyun merasa Qin Ruchen pada saat ini benar-benar bahkan Tuhan pun sedang membantunya, semua yang terbaik, paling tulus dan paling indah di dunia ini, semuanya itu terselubung di tubuhnya. Pada saat ini, Qin Ruchen seakan tidak perlu memenangkan hati siapa pun bahkan sudah bisa mendapatkan kembali hati orang lain.


Tapi hanya Ji Xingyun yang mengerti bahwa semakin baik dan semakin cantik Qin Ruchen, maka itu bukan dirinya yang sebenarnya.

__ADS_1


Hello! Im an artic!


Ji Xingyun mengangkat pandangan matanya dan berjalan cepat menuju paviliun, Yuya yang pertama kali menyadari keberadaan Ji Xingyun, sedangkan Ye Wushuang yang tenggelam dalam keterampilan kaligrafinya itu sama sekali tidak memperhatikan.


Yuya melihat Kaisar yang menatap Permaisuri dengan tatapan dingin, tapi Permaisuri bahkan tidak menyadarinya, wajah Yuya seketika pucat karena ketakutan, dirinya ingin mengingatkan Ye Wushuang tapi dirinya malah mendapatkan tatapan dingin dari Ji Xingyun. Yuya hanya bisa diam, bahkan dirinya tidak berani bernapas.


Ketika kata “Kesedihan Abadi” selesai ditulis, Ye Wushuang akhirnya menyelesaikan puisi kaligrafi berjudul “Bring in the Wine” oleh Li Bai.


“Ratu, tidak disangka ternyata kamu benar-benar menarik!”


Ye Wushuang mengangkat kepalanya, menatap pria berwajah dingin di hadapannya yang tersenyum dengan datar, terdapat sedikit penyesalan yang muncul di tatapan matanya. Ye Wushuang selalu menyukai kaligrafi tapi tulisannya sendiri tidak terlalu bagus. Hari ini, Ye Wushuang sedang berada dalam suasana hati yang baik dan jarang sekali dirinya berlatih, awalnya dirinya merasa tulisannya masih lumayan, berpikir ingin membingkainya lalu menggantungnya di Istana. Sepertinya yang satu ini kembali gagal.


Ji Xingyun melirik sekilas ekspresi Qin Ruchen dengan datar, tapi tatapan matanya tanpa sadar tertuju pada tulisan kaligrafi yang ditulis oleh Qin Ruchen.


Kata itu begitu anggun dan jelas, rapi dan elegan. Keseluruhan tulisan itu mengungkapkan rasa ketenangan dan kedamaian.

__ADS_1


Ji Xingyun terkejut, dirinya sangat familiar terhadap tulisan tangan Qin Ruchen. Qin Ruchen yang dulu pernah menyalin kitab suci ketika Ibu kandungnya sakit parah untuk mendoakannya, pada waktu itu Qin Ruchen menulis hingga lengannya menjadi bengkak.


Ji Xingyun masih ingat dengan jelas tulisan tangan Qin Ruchen, itu adalah semacam keliaran dan kekuatan yang sebanding dengan seorang pria, di saat bersamaan juga mengungkapkan ambisi dan keinginan batinnya.


Seperti kata pepatah, sama seperti orangnya. Seseorang dapat berpura-pura dalam penampilan dan perilaku, tapi hanya tulisan saja yang tidak dapat disamarkan.


Tapi sekarang, Qin Ruchen benar-benar bisa melakukannya.


Pada saat ini, selain terkejut, Ji Xingyun sama sekali tidak tahu harus berkata apa.


Meskipun hatinya merasa sedikit tidak nyaman, tapi Ye Wushuang masih membungkuk hormat pada Ji Xingyun dengan lembut dan sopan, kemudian melihat kaligrafinya sendiri yang sudah kotor, menghela nafas pelan dalam hatinya lalu memberi isyarat pada Yuya untuk membuang kaligrafi itu.


Yuya juga merasa itu sangat disayangkan, meskipun dirinya tidak terlalu mengenal huruf tapi Yuya tahu bagaimana cara menghargainya. Yuya merasa merasa tulisan Ratu Qin sangat indah, guratan-guratan di atas kertas putih ini seperti bunga teratai hitam yang mekar, terasa seketika langsung muncul di hadapannya, sungguh sangat indah.


Ketika Yuya ingin membuang benda ini, tidak disangka tiba-tiba dirampas oleh Ji Xingyun.

__ADS_1


__ADS_2