Permaisuri Dibalik Cadar

Permaisuri Dibalik Cadar
Bab 404 Tersenyum Dengan Acuh


__ADS_3

Hello! Im an artic!


“Bingxin, apa yang sedang kamu tertawakan?” Tiba-tiba Bei Fengchen membuka matanya, dia memanggilnya dengan panggilan “Bingxin” yang terdengar begitu akrab, jika orang yang tidak tahu maka pasti akan berpikir bahwa Leng Bingxin memiliki hubungan tidak biasa dengannya. Bahkan Leng Bingxin sendiri hampir saja terpaku dikarenakan suaranya yang begitu dalam.


Leng Bingxin menggelengkan kepalanya: “Tidak ada!”


Hello! Im an artic!


“Tidak, kamu pasti sedang berbohong. Kamu pasti sedang memikirkan urusanku, apa kamu sedang menertawakan urusanku dan Ziyue tadi?”


“Kenapa aku harus menertawakannya? Dan lagi kualifikasi apa yang kumiliki untuk menertawakannya? Ziyue begitu cantik, tubuhnya itu begitu sempurna, sepasang matanya begitu menawan, pinggangnya juga begitu ramping, dia begitu cantik dan mempesona, seorang wanita yang begitu cantik seperti itu, untuk apa aku menertawakannya?”


Setelah mendengarkan ucapan itu, Bei Fengchen melirik sosok di luar jendela, mengulas senyum di sudut bibirnya, perlahan menundukkan kepalanya dan berkata, “Ya, Ziyue memang tidak buruk. Mungkin sebelum melihatmu, Ziyue adalah wanita cantik yang sangat langka. Tapi setelah bertemu denganmu, dia itu tidak sepadan, dia sudah berubah dari seorang wanita yang cantik mempesona menjadi seorang wanita yang tidak memiliki budaya sama sekali!”


Mendengar ucapan itu, Leng Bingxin tersenyum, lalu menghela nafas pelan dan berkata: “Pangeran benar-benar bisa bercanda, bahkan jika ada seribu diriku, itu bahkan masih tidak cukup untuk dibandingkan dengan satu jari Nona Ziyue bukan? Jika berkata seperti itu maka hanya akan membuatku terluka saja!”

__ADS_1


Hello! Im an artic!


Bei Fengchen ternyata hanya tersenyum tipis, tapi itu seperti angin dingin yang menggigit.


“Jika aku berkata bahwa sebelum paras Nona cacat, Nona pasti merupakan wanita yang amat cantik dan menawan, apa Nona akan menyangkalnya?”


Awalnya Leng Bingxin kaget dan menatap Bei Fengchen dengan tidak percaya, meski wajah tampannya itu bagai lukisan dan bagai khayalan, tapi pada saat ini malah tidak terdapat kehangatan.


Setelah sekian lama, Leng Bingxin tidak menjawab. Pihak lain sepertinya memahami sesuatu dan hanya tersenyum acuh.


“Kata-katamu itu terdengar sangat rendah hati, tapi dari raut wajahmu aku dapat melihat bahwa kamu tidak merasa rendah hati dikarenakan penampilanmu, kamu juga tidak iri pada kecantikan orang lain. Apa mungkin dirimu sama sekali tidak sedih karena parasmu sudah berubah seperti sekarang ini?”


“Pangeran terlalu perhatian melihat orang lain, tapi Pangeran tidak bisa melihat menembus hati orang lain, tidak semua wanita membutuhkan paras yang cantik. Ada pepatah yang berkata memiliki paras cantik maka berumur pendek, jika dibandingkan memiliki paras yang sangat cantik, maka lebih baik memiliki paras biasa dan dapat hidup dengan bebas di dunia!”


Melihat senyum getir di wajah Leng Bingxin yang seakan mendapatkan pelepasan, hati Bei Fengchen yang selama ini membeku seketika sedikit tergerak.

__ADS_1


Mengapa wanita ini bisa berkata seperti itu? Sebenarnya hal memilukan apa yang dialaminya? Bei Fengchen menatap tajam ke mata dingin tapi terlihat kesepian milik Leng Bingxin, seolah-olah dia ingin melihat sesuatu, tapi dirinya malah menyadari bahwa dirinya sama sekali tidak bisa melihatnya.


“Nona Leng jangan memanggilku dengan sebutan Pangeran lagi di kemudian hari, panggil saja aku Chen, jika memanggil dengan sebutan Pangeran itu terlalu asing, aku tidak menyukainya!”


Leng Bingxin berkata: “Itu tidak baik!”


“Tidak perlu pedulikan mengenai apa yang orang lain pikirkan, ikuti saja kemauanku!”


“…”


Bei Fengchen menatap mata Leng Bingxin yang jernih, begitu mempesona, bibir kecil yang bersinar dengan kilau yang memikat. Ya, selama bekas luka itu dihilangkan dan tidak diungkit, maka setiap bagian tubuh Leng Bingxin itu bisa membuat dirinya merasa tidak terkendali dan ingin menciumnya dengan lembut.


Untungnya gerbong kereta kuda itu tiba-tiba berguncang hingga bisa menarik kembali pemikirannya yang sudah kacau itu.


Bei Fengchen memaki dirinya sendiri dengan keras di dalam hati, benar-benar tidak masuk akal, dirinya ternyata lepas kendali ketika menghadapi Leng Bingxin? Sejak kapan kemampuan pengendalian dirinya menjadi begitu buruk?

__ADS_1


__ADS_2