
Hello! Im an artic!
Hati Leng Bingxin tiba-tiba menjadi tegang, rasa sakit itu sangat menyakitkan hingga dirinya tidak bisa berkata-kata: “Mengapa kamu berkata seperti itu?”
“Aku mengakui bahwa aku kalah, aku tidak bisa dibandingkan denganmu. Tidak peduli sekarang atau sebelumnya, aku tidak bisa dibandingkan denganmu. Kamu benar-benar sangat cantik.” Ziyue mengatakan ucapan ini dengan tulus, tapi tatapan matanya menunjukkan sentuhan cemburu.
Hello! Im an artic!
Setelah mendengar ucapan ini, raut wajah Leng Bingxin tertegun, mata sejernih kristal yang walanya kosong dan menyedihkan itu sekarang seolah-olah telah kehilangan jiwanya.
Leng Bingxin berkata: “Apa gunanya kecantikan? Kita berdua bagaimanapun juga hanyalah bidak yang digunakan oleh orang lain. Kamu di hari ini adalah diriku besok.”
Ziyue malah melangkah maju dengan antusias, tatapan matanya dipenuhi keengganan dan dia berkata: “Melakukan sesuatu untuk Pangeran, bahkan meski matipun itu sepadan.”
__ADS_1
“Benarkah? Lalu apa kamu tidak menyesal sudah berjalan hingga ke tahap ini?”
Hello! Im an artic!
“Tidak menyesal, nyawaku ini adalah miliknya sejak aku bertemu dengannya.”
“Kenapa kamu begitu bodoh? Jika kamu mengatakan bahwa semua ini adalah…”
“Diam!” Tiba-tiba Ziyue menerjang, melihat sekeliling dengan hati-hati, setelah menemukan bahwa tidak ada kejanggalan, dia tiba-tiba ketakutan dan berlutut sambil menangis, dia melambaikan tangannya dan berkata: “Nona Leng, kumohon padamu jangan mengatakannya, jangan mengatakannya, ini adalah hal terakhir yang bisa kulakukan untuknya, jika kamu mengatakannya maka semua ini akan gagal, dia akan membenciku, dia akan membenciku … ”
Kemudian Leng Bingxin menggenggam erat tangan Ziyue yang terulur, kedua tangannya gemetar, terus-menerus menggenggamnya, Leng Bingxin berkata menenangkan Ziyue: “Lihatlah dirimu, seluruh tubuhmu terluka, kamu ini seorang wanita, bagaimana bisa menahan semua ini.”
Ziyue tidak peduli, dia hanya menangis dengan tak berdaya, jenis rasa sakit yang tidak bisa diungkapkan, ini sudah seperti tulangnya dipotong dengan menggunakan gergaji besi, rasa sakit yang begitu menusuk, tangisannya begitu parau: “Tidak sakit, tidak sakit, selama kamu bisa membantuku untuk menyelesaikan langkah berikutnya dan membiarkan Pangeran mencapai segalanya maka itu sudah cukup… ”
__ADS_1
Ketika meninggalkan penjara itu, Leng Bingxin awalnya ingin memenuhi keinginan terakhir Ziyue, membuatnya bertemu dengan Bei Fengchen.
Tapi setelah Ziyue memahami pemikirannya, Ziyue malah dengan tegas menolak.
Ziyue berkata dengan suara yang begitu parau: “Jangan … jangan … Diriku yang sekarang tidak layak untuk dilihat oleh Pangeran, tampilanku yang seperti ini pasti akan membuatnya terkejut. Bahkan jika matipun, aku tetap ingin mempertahankan sosokku yang sebelumnya di dalam hati Pangeran… ”
Mendengarkan suara isak tangisnya, Leng Bingxin bergegas menyeka air mata dari wajahnya, mengangguk dan berkata: “Baik, aku tidak akan memanggilnya kemari, aku tidak akan memanggilnya kemari…”
Sebenarnya di dalam hatinya Leng Bingxin berkata, ‘Ziyue, Ziyue, jelas-jelas kamu bisa menjadi seperti ini hari ini dikarenakan pria itu, tapi kenapa kamu begitu merendahkan dirimu sendiri? Bukankah kamu seharusnya membencinya?
Di kedua sisi anak tangga yang panjang, penjaga yang memakai jirah baja yang kokoh berdiri dengan ekspresi dingin, mereka sudah seperti puncak gunung di kedua sisi tebing, berdiri dengan kokoh dan berjaga di posisinya masing-masing.
Sedangkan Bei Fengchen malah berdiri di ujung anak tangga yang panjang, tubuhnya yang tegak sedikit bersandar ke dinding, rambut panjangnya tergerai di belakang punggungnya, kepalanya dengan lembut terangkat, menghadap ke langit seperti seorang Dewa.
__ADS_1
Dia yang seperti ini terlihat begitu tampan, tapi di saat bersamaan juga terlihat menanggung beban berat.
Bei Fengchen yang melihat Leng Bingxin sudah keluar sedikit memutar tubuhnya, melihat langkah pelan Leng Bingxin yang sama sekali tidak bertenaga sedang berjalan ke arahnya, setelah beberapa saat, dia berkata dengan tegas: “Bagaimana? Ziyue, dia…” Ucapannya itu pada akhirnya tidak selesai diucapkan dan ditelan kembali ke dalam perutnya, itu benar-benar rasa malu yang tak ada habisnya.