Permaisuri Dibalik Cadar

Permaisuri Dibalik Cadar
Bab 481 Bagaimana Jika Aku Menyukainya


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Bei Fengchen mendengarkan dan ekspresinya berubah, mata hitamnya memicing dan menarik sudut bibirnya: “Meskipun tampilan Bingxin memang memikat, tapi dibandingkan dengan para Selir di Istana ini, dia hanyalah setetes air di lautan yang luas.”


“Haha, benarkah?”


Hello! Im an artic!


“Ya!”


“Lalu bagaimana jika aku menyukainya?”


Mata hitam Bei Fengchen terlihat sedikit rumit, dia berkata dengan suara rendah: “Apa Kaisar sedang bercanda?”


Tiba-tiba, Kaisar Zhaolie berbalik, menatap dingin ke wajah Bei Fengchen dan berkata dengan dingin: “Bagaimana mungkin aku bercanda, sepertinya Pangeran Xiang tahu hal itu dengan sangat jelas.”


Hello! Im an artic!

__ADS_1


“…”


Raut wajah tampan Bei Fengchen menggelap, pupil hitamnya bersinar dengan cahaya dingin dan tajam. Saat ini sudah begitu lama ditunggunya, benar saja, Kaisar Zhaolie menyukai Leng Bingxin.


Hanya saja … jelas-jelas dirinya bisa langsung setuju pada saat ini, tapi mengapa hatinya malah menjadi ragu?


Memberikan Leng Bingxin pada Kaisar Zhaolie, maka impian Ibunya akan terpenuhi, dirinya akan bisa menguasai dunia. Tapi, kenapa hatinya begitu enggan?


Jika dirinya tidak setuju, maka semua yang telah direncanakannya setelah sekian lama, kerja kerasnya selama bertahun-tahun, apa semua itu akan hancur dikarenakan wanita ini? Bei Fengchen tidak rela.


Leng Bingxin dengan tenang berada di dalam ruangannya.


Leng Bingxin menolehkan wajahnya yang terpapar oleh sinar matahari hingga terlihat begitu putih, benar-benar sangat sempurna hingga membuat orang lain mabuk terpesona.


Apa yang terjadi kemarin masih melekat dengan jelas di dalam benaknya, seperti mimpi yang tidak dapat dihilangkan.


Tiba-tiba, pintu ruangannya dibuka dengan begitu kencang.

__ADS_1


Leng Bingxin tersadar dari pemikirannya akan kejadian tadi malam lalu berbalik dengan dingin. Adegan di depannya membuatnya sedikit terkejut.


Wanita itu mengenakan pakaian istana bermotif bunga berwarna hijau pucat, dengan lapisan tulle emas yang tipis, gaun yang lebar itu dihiasi dengan pola bunga bersulam ungu, rambut hitam panjangnnya yang lembut disanggul dengan sederhana, sisa-sisa rambutnya tergerai di sisi lehernya, terdapat aksesoris permata merah kecil yang tergantung di dahinya dan terlihat begitu cocok. Terdapat aksesoris rambut phoenix emas yang terselip di rambutnya, ketika melangkahkan langkahnya dengan ringan maka akan terdengar suara gemerincing dari aksesoris tersebut. Tampilannya itu benar-benar sangat indah dan menawan


Ya, wanita itu adalah wanita yang pernah mengambil segalanya darinya.


Putri Liqing, Putri Liqing yang tidak pernah dilupakan oleh Kaisar Zhaolie.


Meskipun terkadang Leng Bingxin cemburu pada wanita ini, tapi dirinya tidak pernah menyangka suatu hari nanti wanita ini akan mencari dirinya.


Karena di lubuk hatinya, sejak hari di mana Qin Ruojiu “meninggal”, dirinya sudah benar-benar terpisah dari dunia Kaisar Zhaolie.


Saat Liqing melihat Qin Ruojiu, dia berdiri di bawah sinar matahari yang begitu suci, Liqing yang terlihat lemah dan pucat itu tampak transparan ketika disinari oleh sinar matahari, dan juga menampakkan kecantikan yang terlihat sedikit menyedihkan. Mata Liqing menatap Leng Bingxin dengan tegas, itu adalah semacam kecantikan yang tenang dan dingin, terutama alis yang sedng mengerut itu, semakin menambahkan sentuhan gaya padanya.


Liqing belum pernah melihat seorang wanita dengan postur tubuh yang begitu memikat seperti ini, raut wajahnya menjadi dingin, Liqing menatapnya dengan perasaan yang sangat tidak nyaman. APa wanita ini benar-benar terlihat seperti mantan Ratu yang sudah meninggal itu? Jika benar, maka Kaisar Zhaolie pasti akan tergoda lagi olehnya, karena kecantikan wanita ini benar-benar membuat orang lain sulit untuk berpaling.


“Kamu siapa?”

__ADS_1


Meskipun Leng Bingxin sudah mengetahui identitas Liqing, tapi dia masih menahan emosinya yang sudah sedikit berfluktuasi.


“Kamu tidak tahu? Kemarin di aula, aku adalah wanita yang duduk di sebelah Kaisar Zhaolie, apa mungkin kamu tidak tahu akan hal itu?” Setelah ditanyai seperti itu oeh orang lain, hati Liqing merasa sedikit marah, demi membuat dirinya terlihat mulia, jadi Liqing mendongak dengan angkuh untuk menunjukkan ketegasannya. Ya, ini pertama kalinya Liqing merasakan krisis bahaya sejak dirinya memasuki Istana setelah sekian lama.


__ADS_2