
Hello! Im an artic!
Qin Ruojiu menunduk, menilai pakaian lama yang dipakainya, sekujur tubuhnya gemetar pada saat itu, tanpa sadar memeluk dirinya sendiri dengan erat.
Wanita paruh baya itu bergegas berkata: “Nona jangan khawatir, aku yang mengganti pakaianmu. Saat itu Nona jatuh dari tebing dan sekujur tubuhmu terluka, selain itu gaun panjangmu itu juga sudah compang-camping, jika dipakai juga tidak akan bisa menutupi tubuhmu. Jadi aku yang mengambil inisiatif menggantinya untukmu!”
Hello! Im an artic!
Qin Ruojiu menghela nafas lega setelah mendengar ucapan itu, matanya itu menatap ke kejauhan dengan acuh, kosong dan tanpa harapan.
Wanita paruh baya itu melihat ekspresi Qin Ruojiu, seakan mendengarkan tapi tidak berbicara sama sekali. Jadi wanita paruh baya itu menganggap Qin Ruojiu ketakutan karena menerima pukulan yang terlalu besar jadi dirinya tidak memaksanya.
Wanita paruh baya itu hanya berdiri dengan lembut dan berkata: “Aku akan meletakkan obat ini di sini untukmu, minumlah nanti, ini baik untuk lukamu!” Setelah selesai berbicara, wanita paruh baya itu berbalik ingin pergi, ketika melangkah keluar dari ambang pintu, dia kembali berbalik dan berkata menasihati: “Aku sekarang akan pergi keluar untuk menjual kayu bakar, kamu istirahatlah lebih dulu, jika ada masalah, maka tunggu sampai aku kembali untuk membicarakannya, jangan sembarangan keluar!”
Setelah mengatakan hal itu, pintu itu ditutup, kemudian di kejauhan, sebuah ******* pelan terdengar.
Hello! Im an artic!
__ADS_1
Gadis itu sungguh menyedihkan, baik-baik saja bagaimana bisa jatuh dari tebing yang begitu tinggi?
Meskipun lukanya tidak terlalu parah, tapi ada luka gores yang begitu besar di wajahnya itu, ketika gadis itu diselamatkan, tampilannya itu sangat mengerikan.
Meski noda darah dan kotoran sudah dibersihkan, tapi luka itu masih saja begitu mengerikan. Jika memberitahu gadis itu bahwa wajahnya itu sudah cacat, tidak tahu apa gadis itu akan memiliki pemikiran yang pendek?
Wanita paruh baya itu sekaan sudah mencegah hal ini sedari awal, dengan sengaja menyingkirkan semua benda yang dapat merefleksikan wajah Qin Ruojiu.
Sebenarnya wanita paruh baya itu tidak tahu kalau Qin Ruojiu sudah tahu kalau parasnya itu sudah hancur, Qin Ruojiu sekarang masih hidup, apa bedanya dengan mayat hidup?
Selama 10 hari ini, Qin Ruojiu samar-samar mengetahui bahwa dirinya berada di sebuah tempat kecil bernama Kota Wumu.
Dia diselamatkan oleh pasangan paruh baya berusia lebih dari 40 tahun, sang pria adalah seorang penebang kayu yang naik gunung untuk mengumpulkan kayu bakar sepanjang hari. Sang wanita mengurus keluarganya di rumah, sesekali mendapatkan pekerjaan serabutan menyulam untuk dijual, terkadang membantu Suaminya untuk menjual kayu bakar ke pasar. Mereka berdua sangat miskin, tapi saling mencintai, satu-satunya penyesalan mereka adalah mereka tidak memilii anak.
Namun setelah diskusi mereka belakangan ini, tampaknya jika mereka tidak dapat melahirkan anak mereka sendiri di tahun depan, maka mereka akan mengadopsi seorang anak gelandangan, agar ada yang bisa mengurus mereka di hari tua.
Selama 10 hari, Qin Ruojiu tidak mengucapkan sepatah kata pun.
__ADS_1
Selain memakan bubur, nasi dan sedikit roti kukus setiap hari untuk menopang nyawanya, Qin Ruojiu tidak makan lebih dari itu.
Qin Ruojiu tidak bisa tidur setiap malamya, kemudian dia akan mengenakan sebuah mantel dan berdiri di halaman depan, menatap langit berbintang yang tak berujung.
Matanya penuh dengan kesedihan, kabut menutupi dirinya seolah-olah tidak ada apa pun di dunia ini yang dapat menghilangkannya.
Ya, sejak Qin Ruojiu memutuskan untuk melompat dari tebing, dia berkata pada dirinya sendiri bahwa pemilik tubuh ini sudah menjadi dingin dan mati …
Qin Ruojiu hidup sekarang, bukan demi apapun, dirinya hidup demi hidup.
Qin Ruojiu tidak menangis, tidak berbicara, tidak mengatakan apapun, perilakunya yang aneh ini selalu membuat “Bibi Jing” membicarakan dirinya di belakang.
Rumah para petani tidak besar, jadi di antara dua kamar biasanya hanya dipisahkan oleh bambu, jadi semua tindakan yang dilakukan sangat terbuka.
Kamar yang ditempati Qin Ruojiu gelap dan lembab, Bibi Jing tidak rela untuk menyalakan lampu, jadi dia mematikannya lebih awal.
Setelah sekian lama, Bibi Jing mengira Qin Ruojiu sudah tertidur, kemudian dia berbisik pada Suaminya: “Lao Tiezi, menurutmu apa gadis ini hilang ingatan? Sudah begitu lama tapi dia sama sekali tidak mengucapkan sepatah kata pun, dia juga dia mengatakan dari mana asalnya, di mana orangtuanya, jika terus berlanjut seperti ini, apa yang harus kita lakukan?”
__ADS_1