
Hello! Im an artic!
Dia mengenakan gaun berwarna ungu muda yang disulam dengan manik-manik, dengan bunga berumbai dan juga pola brokat, bagian dalam ditutupi dengan lapisan sutra berwarna keperakan, dilapisi dengan pola lili air putih dan merah muda, dengan ikat pinggang pendek yang terbuat dari kumpulan benang lembut biru muda berpola gunung. Gaun yang sangat elegan dan halus, ditambah dengan cadarnya yang misterius, saat angin berhembus, dia benar-benar terlihat seperti seorang peri.
Untuk sesaat, meski tidak bisa melihat wajah pihak lain, tapi ada semacam perasaan terguncang secara emosional.
Hello! Im an artic!
Tidak dapat disangkal bahwa dia yang seperti ini memberikan orang lain konsepsi artistik yang berbeda dan juga jenis keindahan yang berbeda.
Ziyue membenci dirinya sendiri, sebagai wanita yang memiliki kecantikan tiada tara, dia malah melihat temperamen dan pesona yang tak tertandingi pada wanita seperti ini.
Ziyue berharap dirinya salah lihat, berharap dirinya seperti ini karena bersimpati padanya. Tapi semua ini sama sekali tidak bisa menipu dirinya sendiri, karena bagaimana mungkin Pangeran bisa salah menilai? Apa Pangeran pernah salah menilai wanita mana pun?
__ADS_1
Hari ini Ziyue akhirnya mengerti mengapa Pangeran selalu memperlakukan “wanita jelek” ini lebih baik dibanding dirinya, ternyata di dalam diri wanita ini terdapat aura bangsawan yang acuh, dingin dan mulia yang tidak dimilikinya.
Hello! Im an artic!
Meskipun kebenarannya seperti ini, tapi Ziyue masih tetap seperti seekor burung merak yang sombong dan berpuas diri, ya, bagaimana mungkin burung merak yang begitu angkuh bisa mengaku kalah di hadapan orang yang dielu-elukan sebagai itik yang jelek? Jadi Ziyue mendengus dingin, mengangkat dagunya, menatapnya dengan dingin dan berkata memarahi: “Dibanding menanyakan hal seperti ini padaku, lebih baik pikirkan saja masa depanmu sendiri, jika aku tidak salah ingat, parasmu itu telah rusak!” Berbicara mengenai paras rusak, itu hanya untuk memberi pukulan pada wanita yang selalu terlihat acuh dan melihat segala sesuatunya dengan tenang, Ziyue bahkan sengaja menekankan nada bicaranya.
Tanpa sadar , Leng Bingxin mengulurkan jari-jarinya yang ramping dan sedikit memegang wajahnya. Wajah yang disembunyikan di balik cadar, wajah yang membuatnya mendapatkan semua kebencian dan amarah.
Ziyue berpikir ucapan itu benar-benar bisa menyakiti Leng Bingxin, setidaknya ada kilatan rasa sakit hati di tatapan matanya. Ketika Ziyue hendak tertawa dengan sinis, mata yang jernih itu malah terlihat begitu datar dan dia tertawa.
“Aku menertawakanmu, kenapa kamu masih harus berpura-pura pada saat ini? Jelas-jelas kamu menyukai Bei Fengchen, kenapa kamu malah menyulitkan dirimu dan menjadi Selir Pangeran Mahkota? Ini tidak seperti dirimu, kamu begitu sombong, apa kamu benar-benar rela seperti ini?”
Serangkaian kalimat ini membuat Ziyue terdiam dalam sekejap.
__ADS_1
Dia menatap mata yang jernih itu dengan takjub, pada awalnya dia terkejut, terpana, marah, emosi itu melintas dalam sekejap. Pada akhirnya, Ziyue berkata dengan raut wajah sedih: “Lalu memangnya kenaoa?”
“Jika kamu menyukainya maka jangan mudah menyerah, jika seperti ini maka mungkin akan sulit bagimu untuk melepaskan diri.”
“Huh, apa menurutmu semua ini semudah yang kamu ucapkan? Aku akui bahwa aku memang jatuh cinta pada Pangeran, dia itu seperti Dewa yang berada di atas, membuat orang lain kagum dan hormat padanya, membuat orang lain mencintainya, tapi tidak ada wanita yang bisa mendekatinya. Seumur hidupku, aku sudah puas karena bisa mendapatkan bantuannya.”
Leng Bingxin sedikit menarik sudut bibirnya dan berkata: “Apa kamu yakin bahwa ini adalah bantuan? Dan bukannya dimanfaatkan?”
Detik berikutnya, wajah yang awalnya masih terlihat bangga dan angkuh itu seketika langsung berubah menjadi kesedihan yang hampa, sepasang mata itu memelototi Leng Bingxin dengan jejak amarah, keengganan dan sedikit penipuan pada diri sendiri, dia kemudian berkata: “Kenapa? Datang ke Istana Pangeran Mahkota kali ini, apa kamu hanya ingin melihat leluconku?”
“Tidak, hanya saja Pangeran memintaku untuk datang kemari menemaninya.”
“Huh, jangan bersikap sombong di sini, aku sudah keluar dari kediaman Pangeran dan sekarang tempat itu adalah duniamu, benar bukan?”
__ADS_1
“Aku tidak pernah berpikir seperti itu.”
“Tapi kenyataannya seperti itu, tidak ada lagi yang berebut Pangeran denganmu, dia itu milikmu.”