Permaisuri Dibalik Cadar

Permaisuri Dibalik Cadar
Bab 605 Kekuasaannya Tidaklah Kecil


__ADS_3

Hello! Im an artic!


“Aku baik-baik saja…” Ye Wushuang yang akhirnya kembali fokus kemudian tersenyum pahit dan menggelengkan kepalanya, tapi tatapan matanya malah berubah menjadi sedih.


He Laosan tidak paham, jadi dia melihat sekeliling dan berkata: “Para tentara itu sudah lewat, mari kita bergegas pergi ke Kastil Wuyou, tidak pantas jika Tuan Penguasa Kota menunggu lama.”


Hello! Im an artic!


“Ya!”


Ketika pertama kali melihat Kastil Wuyou, Ye Wushuang terpana oleh bangunan besar ini. Ternyata seorang penguasa kota juga bisa membangun tempatnya sendiri seperti Istana, sepertinya tidak hanya memiliki uang, tapi kekuasaannya juga tidak kecil.


He Laosan berhenti di luar gerbang dalam Kastil Wuyou, dia tidak mengikuti Ye Wushuang, lagipula yang ingin ditemui oleh Tuan Penguasa Kota adalah Ye Wushuang saja.


Ruang pertemuan masih di Aula Jubao, pelayan di dalam kastil membawa Ye Wushuang berkeliling melewati beberapa jalan kecil, setelah melewati sebuah taman kemudian mereka berhenti tiba-tiba.

__ADS_1


Hello! Im an artic!


Ternyata ada kendala dalam perjalanan menuju Aula Jubao. Dalam perjalanan entah mengapa terdapat sebuah jalan kecil yang tertutup oleh lumpur, terdapat lubang di beberapa tempat hingga membuat jalan itu sulit untuk dilewati.


Ketika Ye Wushuang ingin bertanya pada pelayan itu apa yang harus mereka lakukan, Ye Wushuang malah baru menyadari entah sejak kapan pelayan itu sudah menghilang.


Adegan yang sudah seperti film fiksi ilmiah ini membuat Ye Wushuang memahami sebuah kebenaran, She Jingtian sang penguasa kota yang belum pernah ditemuinya itu sedang mempersulitnya.


Ya, di hari yang panas dan tidak turun hujan seperti ini, bagaimana mungkin jalan bisa berlumpur? Jelas ini disengaja. Dan lagi pelayan itu ketika menghadapi tamu yang diundang oleh Tuan Penguasa Kota, alih-alih memimpin jalan dengan baik, dia malah menghilang, hal ini sudah menjelaskan semuanya.


Tidak mungkin dirinya hanya berdiri di sini dan menunggu, karena pria itu dengan sengaja mempersulitnya maka tidak mungkin ada orang yang akan membantunya, jika dirinya disalahkan atas keterlambatan pertemuan dengan Tuan penguasa kota itu, maka dirinya pasti akan kesulitan. Jika tidak menunggu dan langsung melewati jalan ini dengan menginjak lumpur, maka itu akan membuat pakaiannya kotor, hal itu tidak sopan dan sepertinya hanya akan membuat orang lain mengejeknya.


Pilihan lainnya adalah mengambil jalan memutar, tapi Kastil Wuyou ini begitu besar, Ye Wushuang bisa dengan mudah tersesat di jalan memutar jika tidak ada orang yang menuntunnya. Jika membandingkan 2 metode itu, sepertinya metode terakhir paling tidak tepat.


Menunggu salah, tidak menunggu juga salah, hati Ye Wushuang sedikit cemas. Ye Wushuang yang tidak tahu apa yang dipikirkan oleh pihak lain itu hanya bisa memaksa dirinya sendiri untuk tenang.

__ADS_1


Ye Wushuang perlahan-lahan melihat sekeliling, tiba-tiba melihat tangga kayu panjang di sisi kiri sebuah paviliun yang sangat indah.


Di sisi tangga itu juga terdapat sebuah pohon yang tinggi dan kokoh seukuran orang dewasa, tangga kayu itu terletak di cabang pohon tersebut, dan di atasnya terdapat sebuah sarang burung yang berukuran kecil.


Tidak tahu apa tangga kayu ini digunakan untuk mengambil telur, atau digunakan untuk membersihkan paviliun dan semacamnnya, yang pasti tangga ini adalah alat yang sangat baik.


Ye Wushuang bahkan tidak berpikir, langsung menggulung lengan bajunya dan berjalan ke sisi paviliun, Ye Wushuang menggunakan sejumlah besar tenaga untuk mengambil tangga kayu lalu berjalan ke sisi jalan berlumpur, Ye Wushuang langsung meletakkan tangga itu di tengah jalan, sudut bibirnya mengulas senyum puas, Ye Wushuang lalu mengangkat gaunnya kemudian berjalan selangkah demi selangkah di atas papan tangga kayu itu.


Setelah turun dari tangga, Ye Wushuang menyadari tidak ada yang terkena lumpur kecuali bagian dasar sepatunya.


Terhadap hasil yang sangat memuaskan ini, Ye Wushuang langsung berjalan menuju ke Aula Jubao tanpa menoleh lagi ke belakang.


Memikirkan Tuan penguasa kota yang belum pernah ditemuinya tapi sudah mulai menjebaknya ini, Ye Wushuang sudah tidak sabar untuk bertemu dengannya.


Ketika sosok langsing dan cantik itu perlahan-lahan menjauh, She Jingtian yang ada di belakang mengulas senyum yang memiliki makna dalam.

__ADS_1


__ADS_2