
Hello! Im an artic!
“Tapi……”
Melihat ekspresi cemas dan marah Yuya, Ye Wushuang hanya bisa memegang tangannya untuk menghibur: “Sudahlah, jika tidak bisa bersabar maka hanya akan membuat rencana besar berantakan. Tidak peduli bagaimanapun, dia itu merupakan Tuan Putri sebuah negara, bahkan jika kita pergi mengadu pada Pangeran, itu juga tidak akan terlalu berguna.”
Hello! Im an artic!
Yuya merasa itu masuk akal, bersikap impulsif memang tidak ada gunanya sama sekali. Saat ini, Yuya hanya bisa mengangguk dengan sedih dan berkata: “Baiklah Nona Wushuang, kamu harus mengingat hal ini, jangan biarkan Putri Yongping bersikap sombong terlalu lama. Wanita itu benar-benar sangat kejam.”
“Yuya, kamu tenang saja.”
“Ya, Nona Wushuang, kamu cantik dan juga pintar, aku percaya padamu.”
__ADS_1
Setelah Su Qianhua terluka demi Ye Wushuang, dan Putri Yongping juga sudah diperingatkan dengan keras olehnya, kediaman Pangeran Ping ini tiba-tiba menjadi tenang untuk beberapa waktu.
Hello! Im an artic!
Tapi Ye Wushuang mengerti bahwa semua ketenangan ini hanya di permukaan belaka. Badai yang sebenarnya akan segera datang.
Ye Wushuang tidak akan bersikap berbelas kasih pada mereka yang ingin mencelakainya.
Hari ini, setelah Pangeran Ping menyelesaikan tugas resminya, dia datang ke ruangan Ye Wushuang seperti biasa, melihat Ye Wushaung sedang mengajari Yuya untuk memainkan permainan catur yang sangat spesial, tanpa sadar dirinya merasa tertarik.
Karena Yuya baru saja mempelajari permainan ini, dirinya tidak bisa dikatakan terlalu mahir, ditambah lagi Pangeran Ping sedang melihat dari samping, Yuya merasa sangat gugup, setelah memainkan beberapa ronde, Yuya dikalahkan dengan sangat mengenaskan. Ekspresi Yuya terlihat sedikit sedih sambil menghela nafas, sedangkan Ye Wushuang malah terlihat sangat bangga. Saat memberikan hukuman, Ye Wushuang menggambar seekor kura-kura kecil yang nakal dan lucu di wajah Yuya yang putih bersih.
Pangeran Ping yang selalu tenang dan dingin itu menonton beberapa ronde, dirinya seolah-olah sudah mengerti bagaimana cara bermain. Pangeran Ping mengangkat alisnya dan memberi arahan untuk Yuya di samping dari waktu ke waktu.
__ADS_1
Awalnya Ye Wushuang tidak peduli, tapi perlahan-lahan dirinya menyadari bahwa Ji Xingfeng benar-benar berbakat, dirinya hampir saja dikalahkan oleh Yuya yang diajari olehnya.
Hati Ye Wushuang merasa sedikit tidak rela, mengangkat pandangannya, menatap ke arah pria yang rautnya terlihat dingin tapi bijaksana, mengerutkan kening secara provokatif dan berkata: “Pangeran, jika Pangeran memiliki waktu luang, apa Pangeran ingin bermain melawanku?”
Mendengar ucapan ini, Ji Xingfeng sedikit bersemangat, mata hitamnya yang tajam memancarkan cahaya dan berkata: “Mengapa tidak?”
Ye Wushuang tersenyum ringan, tatapan matanya memancarkan cahaya yang menawan: “Baik, tapi ada hukuman bagi mereka yang kalah.”
“Hukuman?” Ji Xingfeng mengerutkan kening, jelas dirinya merasa sedikit tidak nyaman. Karena sudah dimanja sejak kecil, tidak ada yang berani menghukumnya, dan lagi dirinya juga tidak pernah kalah. Pertama, karena dirinya memang memiliki kemampuan, kedua, para pelayan yang menemaninya tumbuh dewasa itu tidak pernah berani mengalahkannya dikarenakan dirinya adalah anak seorang Kaisar.
Ye Wushuang sangat suka bermain, dan juga tidak mempedulikan status pihak lain yang merupakan seorang Pangeran, tatapan matanya terlihat lurus dan dengan terus terang berkata: “Ya, jika tidak ada hukuman maka tidak akan menyenangkan, semuanya harus adil, bahkan jika kamu adalah seorang Pangeran, aku juga tidak akan berbelas kasihan, apa kamu berani?”
Ucapan ini memang sedikit berani, jika didengar oleh orang lain, sudah pasti akan berpikir bahwa Ye Wushuang sama sekali tidak memandang Pangeran Ping di matanya. Saat ini Yuya benar-benar sangat khawatir, dirinya takut Pangeran yang temperamennya tidak bisa ditebak ini benar-benar akan mengamuk pada Ye Wushuang.
__ADS_1
Tapi Ji Xingfeng yang mendengarnya malah merasa sangat nyaman, karena tumbuh hingga sebesar ini, tidak ada yang pernah mengatakan kata ‘adil’ pada dirinya. Sejak lahir di keluarga kerajaan, Ji Xingfeng tidak pernah melihat apa yang disebut dengan keadilan. Kecuali kalah pada Kakaknya, Ji Xingyun, dirinya selalu menjadi pemenang yang berada di posisi atas.