Permaisuri Dibalik Cadar

Permaisuri Dibalik Cadar
Bab 201 Dia Tidak Mau Menyerah Padanya


__ADS_3

Asalkan Qin Ruojiu bersedia, tidak peduli meskipun dia harus mati di sini pun dia tetap akan terus berjuang sampai akhir.


Wajah Kaisar Zhaolie terlihat begitu dingin, tatapan matanya juga terlihat begitu dingin dan mengerikan. Di saat emosinya hendak meluap, dia menoleh ke arah Qin Ruojiu dan melihatnya dengan tatapan dingin lalu bertanya, “Ratu, Kasiar bertanya, apakah kamu bersedia memainkan kecapi untuk Pangeran Funing?”


Qin Ruojiu pun tercengang, dia melihat ke arah Kaisar Zhaolie dengan tatapan gugup lalu melihat ke arah Kang Yin yang sedang melihatnya dengan tatapan peduli dan tidak berdaya.


Kang Yin menggelengkan kepalanya dengan perlahan seolah sedang memberitahukannya untuk jangan pergi.


Melihat hal itu, Qin Ruojiu langsung mengalihkan pandangannya dan berusaha untuk mengubur semua rasa sedih dan pahit itu di dalam lubuk hatinya yang paling dalam. Dia beranjak berdiri dengan perlahan lalu menoleh ke arah Kaisar dan tersenyum, “Karena itu adalah permintaan dari Pangeran Funing, itu juga merupakan sebuah kehormatan untuk hamba. Asalkan Pangeran Funing tidak merasa tersinggung dan menyukainya, hamba akan pergi untuk menunjukkan.”

__ADS_1


Melihat senyumannya yang dipenuhi dengan kesedihan yang hampa dan pucat itu hanya membuat hati Kaisar Zhaolie terasa seperti tertusuk pisau, mengapa dia menyetujuinya, kalau dia menolak, pria itu juga tidak akan mempersulitnya. Kaisar Zhaolie hanya tidak ingin membiarkan Kang Yin memberikan semua perasaannya pada wanita ini. Dia hanya ingin membiarkan wanita ini tahu kalau dialah yang pantas menjadi sandarannya, dia barulah segalanya untuknya. Kenapa, kenapa dia tidak mau menyerah padanya?


Tepat ketika Kaisar Zhaolie masih terbengong, Qin Ruojiu sudah berjalan sampai ke tengah panggung.


Tatapan semua orang tertuju padanya. Dia terlihat seperti bunga yang rapuh. Ketika angin bertiup, rok yang dia kenakan itu pun menari-nari terbawa angin. Semua orang terpesona dengannya.


“Ambilkan kecapinya ….” Qin Ruojiu berbicara dengan lembut.


Qin Ruojiu mengibaskan rambutnya yang berserakan di pundaknya. Dari pupil matanya yang jernih itu terlihat pantulan sinar bulan yang dingin. Ketika angin bertiup, gaunnya sedikit terangkat dan gaya dan posturnya yang sedang bersiap-siap untuk memainkan kecapi itu terlihat begitu mempesona bagaikan seorang dewi yang turun dari langit.

__ADS_1


Tatapan semua orang yang ada di tempat itu seolah terhipnotis dengan keindahan Qin Ruojiu. Bahkan tatapan mata Pangeran Funing yang tadinya terus menyulitkannya itu pun terpanah padanya yang ada di tengah panggung.


Kaisar Zhaolie pun melihatnya dengan tatapan tidak percaya. Wanita yang ada di depannya ini tampak begitu cantik dan memukau. Meskipun dia mengenakan cadar hitam yang menutupi bagian wajahnya, tetapi dia tetap bisa menggunakan gayanya yang anggun dan berkharisma itu untuk menarik perhatian semua orang. Betapa bagusnya jika wanita ini adalah Li Qing. Mungkin jika Li Qing tidak hadir dihidupkan, dia akan jatuh cinta dengan wanita ini, tetapi … tidak, tidak ada tetapi. Wanita ini tidak akan bisa mengalahkan Li Qing.


Kang Yin juga melihatnya dengan tatapan khawatir. Di saat yang bersamaan, dia juga menunjukkan tatapan terobsesi dan terpukau. Benar, dia sangat cantik, tidak peduli apa itu perawakannya atau gayanya, dia tetap bisa membuat tatapan semua orang terpikat pada dirinya.


Qin Ruojiu sama sekali tidak tahu gaya dan gerakan yang dia buat saat itu sudah membuat semua orang terpukau padanya. Kemudian, dia menundukkan kepalanya dan melihat ke arah kecapi itu. Dia duduk dengan lembut dan menaikkan lengan bajunya yang memperlihatkan tangannya yang indah dan putih bagaikan salju.


Dalam seketika, keheningan malam itu pun langsung dipenuhi dengan suara alunan kecapi yang dimainkan olehnya. Setelah mendengar alunan musik itu, ekspresi semua orang yang hadir di sana tampak begitu menikmati dan terus menganggukkan kepala.

__ADS_1


Kemudian, hanya terlihat sepuluh jarinya yang menari-nari di atas kecapi itu.


Suara alunan kecapi yang merdu itu terdengar sampai begitu jauh dan terasa abadi. Senar-senar yang ada di kecapi itu terangkat dengan lembut secara berurutan, rasanya seperti perahu yang sedang berayun-ayun lembut di atas air yang biru. Nada-nada indah yang terus melompat itu bersatu dengan cahaya bulan pada malam itu. Alunan musik itu seolah membawa orang-orang yang ada di aula itu berjalan di tepi sungai dengan cahaya bulan yang menerangi mereka.


__ADS_2