
Hello! Im an artic!
“Mari kita bicarakan masalah malam ini lebih dulu!” Tuyang membawa Qin Ruojiu dan Ye Ming (Kang Yong) langsung ke pintu masuk tempat kudus dan berdiri di sana, tidak berkata basa basi dan langsung membicarakan intinya.
“Xiangdong mengambil kesempatan memasukkan ular hijau beracun ke dalam kamar Jiu’er ketika Jiu’er sedang tidur, tujuannya adalah untuk membunuhnya! Pikiran yang begitu kejam, apa Klan Penyihir bisa mentolerirnya?”
Hello! Im an artic!
“Dong’er! Tidak mungkin, bagaimana Dong’er kami bisa melakukan hal yang begitu keji?” Sepasang suami istri bergegas maju dari kerumunan, mereka adalah orangtua Xiangdong, Ibunya langsung memeluk putrinya dan bergegas membantah: “Sifat Dong’er kami memang sedikit liar, tapi dia bahkan tidak berani membunuh ayam, bagaimana mungkin dia bisa membunuh orang?”
__ADS_1
“Kalau begitu maksud Nyonya adalah aku yang memfitnah Xiangdong?” Wajah Tuyang yang biasanya selalu tenang itu kini sedikit terlihat emosi, dia menatap ibu Xiangdong dengan tatapan mata dingin: “Aku, Tuyang, selama bertahun-tahun ini, apa aku pernah menipu orang-orang Klan Penyihir?”
Tuyang malam ini kembali memakai pakaian berwarna hijau yang sering dipakainya, dalam terang api, dia semakin terlihat seperti pohon bambu ramping dan tegap, di wajah sempurna bagai Dewa itu malah tidak terdapat senyum lembut, sebaliknya dia malah menguarkan aura yang dingin.
“Pendeta Besar… ini… aku tidak bermaksud begitu, bukan …” Mungkin karena belum pernah melihat Tuyang yang seperti ini sebelumnya, Ibu Xiangdong tertegun dan menundukkan kepalanya.
Hello! Im an artic!
“Kamu membencinya? Kenapa kamu membencinya? Hanya karena Ye Ming menebas 1 lenganmu?” Emosi Tuyang sudah sedikit bergejolak, dia terbatuk keras beberapa kali sebelum akhirnya menggunakan saputangan untuk menutupi mulutnya, Tuyang menatap ke arah Xiangdong dan berkata: “Aku ingin bertanya padamu, pada waktu itu ketika kamu memukuli Jiu’er sampai sekarat bersama orang-orang lainnya, berdasarkan aturan kedua dari klan Penyihir yaitu tidak diizinkan untuk menyakiti satu sama lain dari ras yang sama, kamu sudah melakukan kejahatan kematian, Ye Ming hanya menebas 1 lenganmu, itu bisa dikatakan adalah hukuman ringan, dari mana asalnya kebencianmu itu?”
__ADS_1
Xiangdong terpaku oleh kata-kata Tuyang, dia berpikir lama kemudian berkata dengan lemah: “Dia bukan orang dari Klan Penyihir.”
“Haha…” Setelah mendengar ucapan ini, Tuyang tiba-tiba tertawa, hanya saja malah terdengar kesedihan yang tak terucapkan dari tawa ini: “Dia bukan orang dari Klan Penyihir, dia lahir di Klan Penyihir, tumbuh besar di Klan Penyijir, bagaimana bisa dia bukan orang dari Klan Penyihir? Apa hanya karena dia tidak memiliki darah Klan Penyihir?”
Tatapan Tuyang langsung menyapu ke arah semua orang yang berada di alun-alun, Tuyang bertanya dengan nada suara yang tinggi: “Bagaimana dengan kalian? Apa kalian juga berpikir bahwa Jiu’er bukan anggota dari Klan Penyihir? Apa ini alasan mengapa kalian menyalahkan dan membencinya?
Aku sangat ingin bertanya, apa karena bertahun-tahun ini. kalian para orang yang tinggal di pemukiman Klan Penyihir hidup dengan begitu damai hingga lupa akan hal yang paling berharga dari Klan Penyihir? Apa lupa akan balas budi hingga sudah tidak bisa membedakan lagi mana yang benar dan mana yang salah?
Ya! Qin Ruojiu memang jelas tidak memiliki darah Klan Penyihir, tapi siapa yang memberikan kalian kehidupan yang damai selama beberapa tahun ini? Siapa? Orang itu adalah Qin Ruojiu!
__ADS_1
Kalian adalah anggota Klan penyihir, kalian adalah orang Klan Penyihir yang paham akan sihir dan nasib surga, tapi lalu memangnya kenapa? Bencana kalian itu ditangani oleh Qin Ruojiu demi kalian!
Pada awalnya, kalian memintanya untuk menikah ke tempat yang jauh hanya demi menyelamatkan nyawa kalian semua, Qin Ruojiu kemudian menikah! Bertahun-tahun ini, Qin Ruojiu berada di Istana seakan berjalan di atas lapisan es yang tipis, menerima begitu banyak penderitaan dan siksaan, Qin Ruojiu menahannya, dia berkorban begitu banyak demi kalian, tapi balas budi yang kalian berikan padanya adalah keluhan? Hanya ada kebencian? Bahkan jika kalian tidak berterima kasih atas kontribusinya, bagaimana bisa kalian menyakitinya lagi dan lagi? Di mana hati nurani kalian?”