Permaisuri Dibalik Cadar

Permaisuri Dibalik Cadar
Bab 90 Kamu Berani Membunuh Anakku


__ADS_3

Ketika Lu’Er dan Xiao Huan ditarik keluar, mereka pun melihat ke arah Qin Ruojiu dengan tatapan pasrah dan sedih. Mereka tidak meminta pertolongan dengan Qin Ruojiu, mereka hanya menatapnya dengan tatapan sedih.


Tetapi, walaupun mereka tidak mengucapkannya, tetapi Qin Ruojiu tahu di dalam hati mereka yang terdalam mereka sedang meminta pertolongan dengannya. Benar, mereka sudah hidup bersamanya selama dia berada di istana ini, kalau saja mereka benar-benar mati dengan cara seperti ini, Qin Ruojiu benar-benar tidak bisa menerima ini, dia merasa tidak tega dan tidak rela.


Qin Ruojiu pun berjalan mundur dan mulai meneteskan air matanya. Lalu dia melihat ke arah Kaisar Zhaolie, tersenyum sinis dan berkata dengan dingin, “Berhenti, Kaisar Zhaolie, orang yang harus kamu bunuh itu jelas-jelas bukan mereka, kenapa kamu mau menghukum orang yang tidak bersalah?”


Melihat senyuman sinis di wajah Qin Ruojiu itu, Kaisar Zhaolie pun semakin marah dan berkata, “Kenapa? Kamu sudah tahu apa yang ada di pikiranku?”


“Aku tahu, bahkan aku sudah bisa membaca semua isi pikiranmu!” Qin Ruojiu pun melihat lurus ke dalam matanya dan terus memelototinya.


Kaisar Zhaolie pun tersenyum dingin, lalu dia terlihat sedikit puas dan berkata, “Kalau sudah tahu, kenapa kamu harus menunggu perintahku? Cepat lakukan!”

__ADS_1


Kangyong berkata dalam hati, “Qin Ruojiu, asalkan kamu berlutut meminta pengampunan padaku, aku pasti akan melepaskan semua ini.”


Setelah mendengar itu, Qin Ruojiu pun mengerutkan keningnya lalu tersenyum dingin dan bertanya, “Kalau aku berbuat demikian, apa kamu benar-benar akan melepaskan mereka?”


Kaisar Zhaolie pun melihatnya sambil tersenyum dan berkata, “Pasti!”


“Baik!”


Setelah selesai berbicara, Qin Ruojiu pun berjalan ke samping kasurnya lalu meraba-raba kasurnya seolah sedang mencari sesuatu.


Tatapan mata Qin Ruojiu yang terlihat dingin dan tidak berperasaan, sedangkan tatapan mata Kaisar Zhaolie malah terpaku pada tongkat itu, lalu dia bertanya, “Kamu mau apa?”

__ADS_1


Qin Ruojiu pun memegang tongkat itu dengan kedua tangannya lalu menunjukkan sebuah senyuman di wajahnya. Tatapan matanya juga terlihat begitu dingin, tetapi tidak ada orang yang tahu apa yang hendak dilakukannya.


Qin Ruojiu berkata, “Bukannya ini akhir yang mau kamu lihat? Kalau anak ini memang adalah sebuah malapetaka, jadi kenapa aku harus mempertahankannya? Kalau saja keberadaannya harus mengorbankan begitu banyak orang, aku akan mengikuti kemauanmu!” Selesai berbicara, Qin Ruojiu pun menunjukkan senyuman yang puas lalu mengangkat tongkat itu dan menutup matanya. Kemudian dia memukul tongkat itu ke arah perutnya dengan keras ….


Setelah mendengar itu, Kaisar Zhaolie yang tidak sempat menghentikan gerakannya itu pun terlihat terkejut dan sekujur tubuhnya itu pun terasa dingin. Dia melihat dengan mata kepalanya sendiri, Qin Ruojiu memukul anak yang ada di dalam perutnya itu. Kaisar Zhaolie pun marah dan berkata, “Kamu mau apa ….”


“Permaisuri … jangan ….” Lu’Er yang sudah berada di luar pintu itu pun berteriak dan berusaha melepaskan dirinya dari pengawal yang sedang menariknya keluar. Tetapi semua usahanya gagal, dia tidak bisa melepaskan dirinya.


Kemudian, Kaisar Zhaolie bergegas secepat mungkin untuk berjalan ke arah Qin Ruojiu. Tetapi sayangnya, sebelum dia sampai di sana, suara tongkat yang jatuh ke tubuhnya itu sudah terdengar begitu keras. Setelah itu Qin Ruojiu pun terjatuh ke atas lantai.


Kaisar Zhaolie yang melihat itu pun terkejut dan marah besar. Dia mengigit bibirnya dan berkata, “Kamu berani membunuh anakku!”

__ADS_1


Dia marah besar seperti orang yang hendak menggila. Sial, dia sudah berusaha untuk meyakinkan dirinya dan menerima anaknya yang sedang dikandung oleh Qin Ruojiu itu. Tetapi, wanita ini malah sama sekali tidak mendengar nasehatnya dan langsung berusaha membunuh anak yang ada di dalam perutnya. Wanita ini benar-benar harus mati. Dia benar-benar harus mati.


Qin Ruojiu yang terjatuh di atas tanah itu pun mengerutkan alisnya dan terus mengeluarkan keringat dingin. Dia pun mengepalkan tangannya dengan erat untuk menahan rasa sakit itu.


__ADS_2