
Awalnya Qin Ruojiu mengerutkan alisnya, lalu dia lanjut berkata, “Baiklah!”
Ketika baru mau keluar dari kamar, dari luar terlihat Xiaohuan yang sedang berlari ke arah mereka dengan muka yang terkejut, “Nyonya, Pangeran Kesembilan sudah datang.”
Qin Ruojiu pun terkejut dan mengangkat kepalanya. Dia mengerutkan keningnya dan bertanya bingung, “Dia datang? Dia nggak apa-apa?”
Xiaohuan yang ada di samping itu pun berkata, “Nggak ada masalah besar apa-apa kok!”
Selesai bicara, Xiaohuan menoleh ke belakang dan berkata, “Nah, sudah datang, Nyonya, anda lihat sendiri dulu nanti anda juga bakalan tahu.”
Selesai Xiaohuan berbicara, dari belakangnya pun tampak seorang pria berjubah putih yang sedang berjalan ke arah mereka dengan senyuman hangat di wajahnya.
Ketika dia melihat Qin Ruojiu, tatapan matanya itu langsung dipenuhi dengan perasaan dan berkata, “Ruojiu ….”
Qin Ruojiu langsung tercengang karena dilihat seperti itu oleh Kang Yin. Kemudian dia melihat ke arah Lu’er dan Xiaohuan yang ada di belakangnya dan berkata, “Kalian pergi dulu!”
“Baik!”
__ADS_1
Lu’er dan Xiaohuan menganggukkan kepalanya dan langsung pergi meninggalkan tempat itu.
Setelah mereka berdua pergi, Qin Ruojiu pun langsung melihat ke arah tubuh Kang Yin dengan tatapan khawatir. Tetapi dia sadar selain tangannya yang diperban dengan kasa putih, tidak ada bagian lain dari tubuhnya yang terluka lagi.
Beban berat terus mengganjal di dalam hatinya itu pun langsung terlepas. Dia merasa lega dan berkata, “Untung saja kamu tidak apa-apa.”
Kang Yin malah tertawa senang seolah tidak begitu peduli dengan luka kecil yang ada di tangannya, “Kenapa, kamu khawatir sama aku?”
“Iya!” Meskipun Qin Ruojiu merasa sedikit gugup, tetapi dia tidak bisa menyembunyikan rasa pedulinya pada Kang Yin.
Bagaimana mungkin Kang Yin yang secerdas itu tidak ngerti maksud pembicaraan Qin Ruojiu? Kemudian, dia langsung menarik Qin Ruojiu menuju Paviliun Batu Merlin yang ada di belakang istana.
Setelah lewat beberapa saat dan sampai di tempat tujuan, Kang Yin baru melepaskan tanganya. Wajah Kang Yin terlihat begitu ceria, lalu dia berkata, “Aku cuman ingin ngobrol denganmu.”
Pada saat itu, Qin Ruojiu melihat ada beberapa dayang istana yang memegang nampan dan berjalan ke arah Paviliun ini. Ketika dia melihat ke arah mereka, para dayang itu memberikan hormat padanya lalu menyajikan sepoci teh, dua cangkir porselen kecil dan sepiring makanan ringan di meja Paviliun Batu Merlin. Kang Yin langsung menarik untuk masuk ke dalam paviliun itu.
Kemudian, ada dua dayang istana yang membawakan sebuah kecapi ke arah mereka lalu meletakkannya di atas baju paviliun yang ada di sana.
__ADS_1
Qin Ruojiu yang melihat itu pun terkejut dan menatap ke arah Kang Yin sambil berkata, “Kamu mau ngapain?”
Kang Yin tersenyum dengan tatapan matanya yang suci bagaikan anak kecil dan berkata, “Ruojiu, waktu kita menetap di dalam istana tidak panjang lagi. Aku ingin mendengarkan kamu memainkan kecapi lagi. Meskipun aku tidak suka hidup di sini, tetapi bagaimanapun juga aku tumbuh besar sini. Meskipun kali ini saya tidak merasa sedih karena harus meninggalkan tempat ini, tetapi tetap saja ada sedikit perasaan tidak rela. Hari ini aku menyuruhmu datang karena saya ingin meninggalkan kenangan indah kita berdua di sini!”
Qin Ruojiu langsung terkejut mendengar semua penjelas itu. Dia melototi Kang Yin dengan tatapan bingung dan bertanya, “Kamu bilang apa?”
Kang Yin pun tertawa dan berkata, “Aku ingin menggunakan waktu dua hari ini untuk meninggalkan istana.”
“Meninggalkan istana?”
“Benar, kamu sudah pernah janji padaku mau meninggalkan istana.” Melihat tatapan mata Qin Ruojiu yang terlihat sedikit terkejut itu membuat Kang Yin merasa ada yang tidak beres. Kang Yin langsung menganggukkan kepalanya seolah takut kalau tidak cepat wanita ini akan menyesal.
Qin Ruojiu seolah tahu apa yang sedang dikhawatirkan pria ini, kemudian dia berusaha untuk tersenyum dan berkata, “Aku pasti akan menepatinya, tapi ….”
“Tapi kenapa?” Kang Yin langsung maju selangkah ke arahnya. Dia takut ada apa-apa yang akan berubah.
Qin Ruojiu berkata dengan sedikit gugup, “Tapi, bagaimana kita bisa berhasil melarikan diri dari istana di bawah pengawasan Kaisar? Lagian, setelah aku pergi, dayang-dayangku gimana?”
__ADS_1
Dia tahu jelas sikap Kaisar Zhaolie yang brutal itu. Kalau dia melarikan diri dari istana, Kaisar Zhaolie pasti tidak akan melepaskan mereka.