
Hello! Im an artic!
Meski Qin Ruojiu dan Kang Yin selalu memiliki takdir tapi tidak bernasib bersama, tapi Kang Yin menempati posisi yang tidak biasa di dalam hatinya. Sekarang Kang Yin berkata bahwa dia akan pergi, bahkan meski itu adalah teman biasa, Qin Ruojiu juga akan merasa sedih, terlebih lagi Qin Ruojiu selalu menganggap Kang Yin sebagai teman baoknya. Selain itu, Kang Yin adalah orang yang paling dekat dengan Kaisar, bagaimana mungkin Kang Yin bisa pergi dengan begitu mudah?
Kang Yin meletakkan tangannya di belakang, matanya yang hangat berbinar, menatap ke arah Qin Ruojiu sambil tersenyum tipis: “Sebenarnya, aku tahu masalah ini tidak layak untuk diungkit. Tapi di Istana yang luas ini, selain dirimu, aku juga tidak tahu lagi aku bisa mengucapkan selamat tinggal pada siapa.”
Hello! Im an artic!
Setelah selesai berbicara, Kang Yin berbalik tapi dirinya malah melihat ada jejak keterkejutan yang terlintas di mata Qin Ruojiu yang jernih. Sekali lagi Kang Yin tersenyum getir dan bertanya: “Apa kamu juga berpikir bahwa aku sangat menyedihkan? Sebagai Pangeran ke-9 dari Negara Kangqing, ketikan ingin pergi bahkan tidak memiliki teman untuk diberitahu?”
“Pangeran ke-9 salah paham, aku hanya tidak paham, baik-baik saja di Istana, mengapa Pangeran ke-9 ingin pergi? Apa Kaisar tahu?” Melihat Kang Yin salah paham dengan maksudnya, Qin Ruojiu segera menjelaskan.
__ADS_1
Lu’er yang berada di samping juga menyela dan berkata: “Benar, mengapa Pangeran ingin pergi dari Istana? Apa dunia luar itu lebih baik dari Istana?”
Pada saat ini, ada jejak kesuraman yang terlintas di raut wajah Kang Yin, dia kemudian berkata: “Dengan sifatku ini, aku seharusnya tidak dilahirkan dalam keluarga kerajaan. Aku menyukai kehidupan tanpa persaingan, tanpa keinginan dan juga tanpa permintaan. Di dalam Istana, Hidup di dalam Istana, harus hidup dengan berhati-hati dan juga waspada karena segala hal tidak dapat diprediksi. Aku sudah hidup seperti ini selama 20 tahun, hidup seperti zombie selama 20 tahun. 20 tahun mendatang, aku ingin menjalani kehidupan yang kuinginkan, menjalani hidup tanpa penyesalan.”
Hello! Im an artic!
Setelah Lu’er mendengarkan ucapan itu sampai habis, tanpa menunggu jawaban Qin Ruojiu, dia langsung berkata: “Apa itu hidup tanpa penyesalan? Apa Pangeran ke-9 ingin menjalani kehidupan rakyat biasa? Kehidupan bertani? Kehidupan di maka bekerja saat matahari terbit dan beristirahat saat matahari terbenam?”
Kang Yin malah tersenyum samar, senyum itu seperti langit biru dan awan putih, begitu jernih dan cerah.
“Apa itu tidak baik? Setidaknya menurutku hidup seperti itu merupakan yang paling nyata. Apa kamu ingin aku berada di Istana sepanjang harinya, hidup tertekan, menunggu orang lain melayaniku, hidup seperti orang yang tidak berguna, apa itu yang dinamakan hidup? Apa itu yang dinamakan kehidupan manusia? Tidak, kuberitahu padamu, itu bukanlah kehidupan, itu bukanlah hidup, itu namanya buang-buang waktu.”
__ADS_1
Setelah selesai berbicara, Kang Yin menyibak lengan pakaiannya, menolehkan kepala, tatapan matanya berangsur-angsur berpindah ke kedalaman Istana, mata hitamnya itu dipenuhi dengan jejak kebosanan dan kebencian.
Berdasarkan tatapan seperti itu, Qin Ruojiu tahu bahwa hati Kang Yin sudah tidak dapat dihalangi lagi.
Sebenarnya Qin Ruojiu sudah tahu Kang Yin akan meninggalkan Istana sejak dulu, tapi Qin Ruojiu tidak menyangka hari ini akan datang secepat itu.
Lu’er yang diceramahi oleh Pangeran ke-9 menoleh ke arah Qin Ruojiu dengan sedikit tidak berdaya: “Permaisuri, tolong bujuk Pangeran ke-9, sebenarnya kehidupan di luar Istana itu tidak sesederhana yang dibayangkan.” Ya, Lu’er tidak ingin Kang Yin pergi, setidaknya jika ada Kang Yin di Istana, maka Permaisuri memiliki sandaran di sampingnya, memiliki sedikit rasa aman.
Menghadapi ucapan Lu’er, Qin Ruojiu hanya tersenyum samar, tidak ada raut ingin membujuk di wajahnya tapi hanya raut penyesalan yang tersisa: “Ketika Pangeran ke-9 akan pergi, lebih baik memberitahu lebih dulu, jika ingin pergi maka biarkan aku mengantarmu!”
Begitu perkataan itu diucapkan, tidak hanya Lu’er saja tapi bahkan Kang Yin sendiri juga tercengang.
__ADS_1
Tapi tak lama kemudian, raut wajahnya yang penuh dengan kekecewaan itu akhirnya mengulas senyum tak berdaya, di saat bersamaan juga terdapat sentuhan rasa sakit yang sulit untuk diungkapkan.