
Hello! Im an artic!
Wajah itu tertutupi oleh cadar dan tidak bisa terlihat, tapi ada senyum yang anggun tampak di matanya. Pada saat itu, seperti melihat dia yang tiga tahun lalu. Ketika dia masuk istana, wanita itu juga tersenyum begitu ceria padanya. Hanya pesonanya yang sedikit berkurang.
Pada saat itu, wanita ini sedikit naif dan sifatnya kekanakan. Kalau tertawa selalu begitu lepas. Namun sekarang, senyumnya tampak lebih damai, seperti ada sentuhan ketenangan yang memengaruhi orang. Tak peduli senyum yang mana, semuanya telah membuat hatinya tergerak.
Hello! Im an artic!
Kelihatannya, wanita ini benar-benar bertekad keluar istana. Dari senyuman sekilas tampak itu, Ji Xingyun tidak sedikit pun melihat keenganan untuk pergi dan rasa tidak rela. Ada semacam rasa bebas yang membuatnya nyaman dan lega.
Tiba-tiba Ji Xingyun merasa kecewa dan sedih karena senyuman itu. Wanita itu benar-benar mau pergi. Wanita yang selama tiga tahun ini diabaikan oleh dirinya sudah akan pergi. Selain itu, kenapa dia bisa pergi dengan begitu tenang dan tidak ada beban? Apa istana benar-benar begitu membuatnya tersiksa? Lalu bagaimana dengan dirinya?
Bukankah wanita ini mencintainya? Kenapa di tempat yang tidak ada dirinya, wanita itu masih bisa tersenyum seperti itu?
__ADS_1
Orang-orang selalu seperti itu. Ketika merasa orang yang kamu benci pantas menderita dengan segala penghinaannmu, tapi orang itu malah hidup dengan baik, perbedaan yang kontras akan membuatmu melakukan segala yang mungkin untuk menghancurkannya. Bahkan membenci ketidakadilan di langit dan beranggapan orang-orang seperti itu tidak layak untuk bahagia.
Hello! Im an artic!
Benar, saat ini Ji Xingyun hanya perlu membuat titah untuk membuat wanita itu tetap tinggal.
Ji Xingyun memasang ekspresi cemberut di wajah tampannya saat melihat kereta kuda sudah hendak keluar sepenuhnya dari istana. Tiba-tiba dia berbalik seakan ingin menangkap sesuatu. Tanpa diduga, dia bertemu dengan Zhao Xueyan dengan wajah yang lembut dan cantik.
Zhao Xueyan segera menyadari rasa tidak senang dan kecemberutan di wajah Ji Xingyun. Kemudian dia bertanya dengan suara lembut, “Kenapa? Kaisar tidak rela Kakak meninggalkan istana?”
Begitu perasaannya berhasil ditebak dengan benar, Ji Xingyun sempat terkejut sejenak sebelum akhirnya tersenyum dingin. Mata hitamnya bagaikan cahaya yang suram dan mencoba mengesampingkan fakta yang tidak ingin dia terima. Dia berkata, “Mana mungkin. Aku hanya merasa kalau membiarkan dia keluar istana seperti itu terlalu mudah untuknya.”
“Lalu Kaisar ingin bagaimana?” Zhao Xueyan menatapnya dengan gugup.
__ADS_1
Tangan di bawah lengan bajunya yang besar itu mengepal, wajah Ji Xingyun yang dingin itu tidak menunjukkan apa-apa dan hanya berkata dengan sungguh-sungguh, “Aku ingin memenjarakan dan mengasingkannya di istana seumur hidupnya.”
Mendengar ini, wajah Zhao Xueyan memucat. Dia segera membungkuk dengan hormat, “Kaisar, jangan…”
Melihatnya tiba-tiba seperti ini, Ji Xingyun tertegun dan melangkah maju untuk membantunya berdiri, “Kenapa, Xueyan?”
“Kaisar terlalu kejam kalau melakukan itu. Tolong lepaskan dia. Hidup kakak sudah sangat menyedihkan.”Zhao Xueyan berkata dengan air mata berlinang, matanya penuh simpati dan belas kasihan untuk Ye Wushuang. Dengan melihat ekspresi ini, hati Ji Xingyun seketika melunak.
Ji Xingyun perlahan membantunya berdiri, wajahnya tampak bingung, “Kamu begitu melindunginya?”
“Lagipula aku pernah memiliki hubungan dengannya, Kaisar biarkan saja dia pergi. Kalau kamu tidak rela, Xueyan akan merasa bersalah dan tidak tenang sepanjang hidupku.” Setelah itu, Zhao Xueyan kembali menyeka air matanya dan mulai sibuk menangis sendiri.
Benar, susah payah membuat wanita itu keluar dari istana. Bagaimana bisa dia membiarkan Kaisar membawanya kembali? Belum lagi kalau kaisar kembali terkenang cinta lamanya dan kembali baik pada wanita itu. Kalau wanita itu tidak keluar istana sekarang, bukankah rencana yang telah dia buat bersama Pangeran Keempat akan sia-sia?
__ADS_1