
“Lu’Er, sekarang sudah malam. Kamu pergi tidur saja, tidak perlu menjaga aku!” Qin Ruojiu terlihat sangat lemas dan berusaha untuk berbicara dengan lembut.
Pada saat itu juga, tangannya yang sedang bersembunyi di dalam selimut itu pun secara tidak sadar mengusap perutnya, anak di dalam perutnya itu sudah pergi begitu saja? Nasib anaknya sangat malang, ia bahkan tak sempat melihat dunia. Hatinya pun terasa perih dan sedih.
Melihat ekspresi wajah Qin Ruojiu yang tampak sedih itu, Lu’Er pun turut merasa sedih dan air mata dari matanya itu pun mulai mengalir keluar. Lalu dia berkata dengan lembut, “Permaisuri, ini semua salah kita. Kalau saja bukan karena kita, anak ini tidak mungkin meninggal begitu saja. Ini semua salah kita. Sekarang kamu pasti sedih sekali, kamu boleh memukulku, boleh marah padaku.”
Melihat Qin Ruojiu yang terbangun dan terlihat tenang itu malah membuat Lu’Er merasa semakin khawatir.
Qin Ruojiu pun tersenyum pahit lalu mengusap kepala Lu’Er. Tangannya itu terasa sangat dingin tetapi gerakannya itu sangat lembut. Nada suaranya terdengar lembut, “Ini bukan salahmu. Lu’Er, kamu pergi tidur saja. Anak u memang belum ditakdirkan untuk tidak terlahir. Ini bukan salah siapa-siapa. Kalau ada pihak yang harus disalahkan, akulah yang harus disalahkan. Sebagai ibunya, aku tidak bisa menjaga anakku sendiri.”
“Permaisuri ….” Lu’Er benar-benar sangat sedih, sudah sampai saat seperti ini pun, Qin Ruojiu masih bisa mengatakan kata-kata seperti itu. Lu’Er lebih ingin mendengarnya marah daripada mendengar berkata seperti itu.
__ADS_1
“Lu’Er, aku ingin sendirian. Walaupun anakku sudah tiada, tetapi aku yakin arwahnya masih disini. Aku yaki,n dia pasti akan datang mencariku. Aku mau berbicara dengannya!”
Lu’Er yang mendengar hal itu pun terkejut dan membesarkan matanya. Dia tidak berani mengatakan apa-apa. Dia hanya bisa memanggilnya, “Permaisuri ….”
“Lu’Er, kamu tidak mungkin tidak mengabulkan permintaanku ini kan?”
Qin Ruojiu pun melihat ke arah Lu’Er dengan wajah penuh harapan yang dibarengi dengan perasaan sedih dan kecewa.
Ia memukul perutnya sendiri, bukan karena dia yang kejam. Tetapi karena dia sudah tidak punya cara lain lagi. Dia hanya bisa berharap anaknya ini tidak menyalahkannya.
Tetapi Lu’Er juga tidak bisa membuktikan firasatnya itu. Bagaimanapun juga ini hanya firasatnya saja dan belum tentu benar.
__ADS_1
Melihat Lu’Er yang tidak mengatakan apa-apa padanya, Qin Ruojiu pun tersenyum pahit dan melihat ke arah Lu’Er dengan tatapan penuh perasaan dan berkata, “Jangan takut, aku akan baik-baik saja. Aku hanya ingin sendirian sebentar. Lu’Er kamu keluar dulu!”
Lu’Er tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Qin Ruojiu, tetapi dia tahu perasaan wanita ini sekarang pasti sangat hancur dan kecewa.
Sebenarnya dia ingin menemaninya, tetapi ketika dia melihat tatapan mata Qin Ruojiu yang terlihat tegas itu, dia tahu Permaisuri tidak akan membiarkannya tetap di sini.
Setelah melihat sebentar ke arah Qin Ruojiu, Lu’Er akhirnya menganggukkan kepalanya dan berbalik meninggalkan kamar itu.
“Permaisuri, kalau begitu kamu istirahat dulu. Lu’Er keluar dulu. Tetapi Permaisuri harus berjanji pada Lu’Er, Permaisuri tidak akan melakukan hal bodoh.” Ketika mengatakan kalimat terakhir itu, Lu’Er sedikit takut dan terus memperhatikan raut wajah Qin Ruojiu. Dia ingin melihat ekspresi apa yang ditunjukkan Qin Ruojiu.
Ia tidak menyangka, Qin Ruojiu malah tersenyum lembut sambil menganguk-anggukkan kepalanya seperti seorang anak kecil dan nurut. Dia tidak terlihat sedih atau marah sama sekali.
__ADS_1
“Tenang saja, kamu keluar saja. Aku ini Qin Ruojiu, aku seorang Permaisuri, bagaimana mungkin aku melakukan hal bodoh seperti itu?”
“Baiklah kalau begitu. Kalau ada masalah, panggil kita, Xiao Huan dan Yan’Er juga ada di luar.” Setelah mendengar jawaban dari Qin Ruojiu, Lu’Er baru bisa merasa lega dan keluar dengan perlahan dari kamar itu.