Permaisuri Dibalik Cadar

Permaisuri Dibalik Cadar
Bab 214 Dia Suka Dengannya


__ADS_3

Di sepanjang perjalanan, Lu’er membantu menopang Qin Ruojiu untuk kembali ke Istana Fengyi.


Di langit yang gelap itu pun terlihat jelas bintang yang berkelap kelip dan cahaya bulan yang terang dan menghangatkan. Angin sepoi-sepoi yang bertiup dari luar jendela itu membawa aroma lembut yang membuat orang mabuk.


Qin Ruojiu sedang bersandar di kursi kayunya sambil memikirkan adegan berdarah yang terjadi barusan. Sampai sekarang dia masih belum bisa pulih. Adegan yang terjadi saat itu benar-benar membuat dia khawatir dengan Kang Yin.


Kalau saja bukan karena kehadiran dirinya yang begitu tiba-tiba, Kang Yin pasti tidak akan terluka. Kalau bukan untuk melindungi dirinya, Kang Yin juga tidak akan menjadi seperti sekarang ini. Terpikir dirinya adalah sumber masalah yang membuat Kang Yin menderita membuat hati Qin Ruojiu merasa tidak begitu tenang.


Lu’er yang ada di sampingnya itu melihat ada yang tidak beres dengan Nyonya. Lalu dia pun bertanya dengan khawatir, “Nyonya, sudah lumayan malam. Bagusan istirahat di atas kasur saja!”

__ADS_1


“Kamu pergi saja!” Qin Ruojiu menjawabnya dengan nada suara yang datar dan terasa hampa. Di dalam ruangan yang hening itu, suara yang diucapkan Qin Ruojiu terasa begitu dingin. Suaranya itu terdengar seperti suara yang datang dari dalam jurang. Lu’er yang mendengar suara itu pun merasa sedikit takut.


Lu’er terdiam sebentar lalu mengangkat kepalanya dan hendak mengatakan sesuatu. Tetapi sebelum dia sempat berbicara, Qin Ruojiu sudah memotongnya duluan dan berkata, “Aku ingin sendirian.”


Ratu kelihatan benar-benar terkejut kali ini. Bukan cuman dia, bahkan Lu’er dan Xiao Huan yang melihatnya saja pun terkejut. Setelah mereka sampai ke istana, Xiao Huan sudah langsung pulang duluan. Alasan mengapa Lu’er masih bertahan di sini karena dia takut terjadi apa-apa dengan Ratu.


Sekarang Ratu sudah tidak apa-apa, dia ingin menyendiri. Lu’er tahu kalau dia masih bertahan di sini, dia juga tidak berguna sama sekali. Kemudian dia pun tidak banyak berbicara dan langsung membalikkan badannya untuk pergi meninggalkan ruangan itu.


Sekarang dia merasa sangat lelah dan suasana hatinya juga sangat berantakan. Tetapi dia tidak bisa tertidur. Karena, Kang Yin yang terluka itu masih terlihat begitu jelas di dalam ingatannya. Tetesan darah yang mengalir keluar dari tubuh Kang Yin itu terlihat seperti sepasang mata yang sedang melototinya. Tatapan membuat dia merasa tidak tenang dan tidak bisa tertidur.

__ADS_1


Dia bersandar di pilar kursinya dengan lemas di malam yang sepi. Selain suara detak jantungnya dia tidak mendengar suara apa-apa lagi. Benar, dia sedang mengkhawatirkan pria itu. Karena selain pria itu, tidak ada lagi orang lain yang benar-benar peduli dan perhatian padanya di dalam istana.


Dia tahu, pria yang benar-benar mencintai dirinya seperti Kang Yin itu tidak ada duanya. Meskipun dia harus mati, meskipun dia harus menanggung penderitaan yang begitu berat, di dalam hati Kang Yin hanya ada dirinya seorang.


Qin Ruojiu tidak tahu harus bagaimana menerima perasaannya itu. Qin Ruojiu hanya tidak ingin membuat Kang Yin terluka. Tetapi, dirinya malah terus menyakiti Kang Yin. Dia ada kakak iparnya, ini adalah sebuah kenyataan yang tidak bisa diubah. Jika Tuhan bisa mengatur kembali hidupnya, dia beneran berharap kepada Tuhan untuk membiarkannya bertemu dengan orang baik seperti Kang Yin. Tetapi sayangnya, orang yang dinikahinya adalah seorang iblis yang tidak punya hati.


Teringat dengan abangnya, di dalam benak Qin Ruojiu pun terus bermunculan bayangan abangnya yang dingin dan tidak berperasaan itu dan sikapnya yang terlihat begitu tergiur dan terobsesi ketika melihat lukisan Li Qing tadi. Hatinya pun tiba-tiba terasa sakit, dia merasa sesak sampai dirinya seolah tidak bisa bernafas.


Benar, dia tidak bisa membohongi orang lain. Dia suka dengan pria itu, tidak tahu sejak kapan posisi di hatinya itu sudah didominasi oleh pria itu.

__ADS_1


Entah itu sisi dirinya yang dingin dan kejam ataukah dirinya yang lembut dan perhatian padanya. Pokoknya di dalam otaknya itu terisi dengan wajah pria itu. Dia benar-benar jelas tahu isi hatinya sendiri.


Tidak tahu sudah berlalu berapa lama, akhirnya Qin Ruojiu yang bersandar di pilar kursi kayu itu pun tertidur.


__ADS_2