
Hello! Im an artic!
Tapi setelah sesaat kemudian, Bei Fengchen mengontrolnya. Bibirnya yang tipis perlahan terangkat, mengambil satu langkah ke depan, dengan tenang meraih tangan Leng Bingxin dan berkata: “Ikutlah denganku.”
Jika dulu maka Leng Bingxin sudah menghempaskan tangannya dan menolaknya dengan dingin. Tapi sekarang, Leng Bingxin tahu bahwa hal itu sudah tidak perlu lagi.
Hello! Im an artic!
Meninggalkan Runxue dengan wajah linglung, Leng Bingxin mengikuti Bei Fengchen ke “Paviliun Zhilan” yang merupakana tempat paling tenang di Istana. Sebelum mereka tiba, wangi bunga di mana-mana sudah menarik perhatian semua orang.
“Paviliun Zhilan” dibangun di antara bunga-bunga, struktur bangunannya sederhana dan elegan, tapi malah memberikan perasaan yang sangat jelas dan jernih pada orang lain.
Paviliun Zhilan dikelilingi oleh bunga ungu kecil di sekitar dan juga kupu-kupu berwarna-warni yang terbang menar-nari. Matahari bersinar cerah, seolah diterangi oleh sesuatu yang aneh, keindahannya itu begitu luar biasa tampak seperti surga.
Leng Bingxin sedikit menghentikan langkahnya, melihat tempat yang begitu indah bagai lukisan ini, matanya memancarakan sinar cahaya tampak tidak percaya.
__ADS_1
Hello! Im an artic!
Leng Bingxin tidak tahu ada tempat seperti ini di Istana, tidak dapat disangkal bahwa dirinya sangat menyukai tempat ini.
Pada saat ini, suara kecapi terdengar samar dari dalam rumah.
Bunyi kecapi itu terdengar begitu jauh, sudah seperti suara gemericik air yang mengalir.
Ketika Leng Bingxin mendengar suara kecapi, detak jantung langsung bergetar.
Dulu ketika dirinya berada di Negara Kangqing, dirinya juga bermain kecapi seorang diri di taman bunga.
Ketika Bei Fengchen memasuki Paviliun Zhilan dengan membawa Leng Bingxin, di dalam Paviliun Zhilan itu sudah ada beberapa wanita cantik yang sedang bersandar di pagar.
Seorang wanita menawan yang memakai gaun sutra panjang bermotif lotus sedang bermain kecapi sambil menundukkan kepala dan tersenyum pada dua orang gadis menawan yang sedang menari.
__ADS_1
Dia mengangkat jari-jarinya dengan lembut, jarinya menari perlahan di atas benang sutra yang tipis, sudah seperti nada di bawah sinar matahari, begitu cepat namun jelas dan juga bersih.
Sedangkan dua wanita cantik lainnya yang sedang menari begitu kompak, mereka menari dengan penuh gaya dan juga tersenyum dalam setiap gerakannya, membuat orang lain tidak bisa mengalihkan pandangan terhadap mereka.
Ini adalah pemandangan yang begitu indah dan luar biasa, pemandangan serta objek di dalamnya sangat menyenangkan untuk dilihat.
Sampai ketika mereka baru menyadari keberadaan Bei Fengchen, mereka kemudian baru bergegas berhenti dengan panik.
Mereka berjalan menghampiri bersama-sama, berlutut pada Bei Fengchen dan berkata dengan sedikit kegembiraan di mata mereka: “Lan’er, Hong’er, Huang’er memberi hormat pada Pangeran.”
Suara mereka bertiga sudah seperti burung pipit kuning yang keluar dari lembah pegunungan, benar-benar sangat indah.
Leng Bingxin yang berdiri di belakang Bei Fengchen diam-diam merasa kaget, ternyata tidak hanya Ziyue saja wanita cantik yang ada di Istana ini, masih ada beberapa yang memiliki paras yang sangat menawan.
Setelah Bei Fengchen melihat ketiganya memberi hormat, dia mengangguk dan berkata sambil tersenyum lembut: “Bangunlah!”
__ADS_1
Setelah itu para wanita cantik yang memiliki nama Lan’er, Hong’er, dan Huang’er itu berdiri satu demi satu, mengangkat tatapan mata mereka dengan malu-malu, diam-diam menatap Bei Fengchen.
Ketiga wanita ini memiliki kecantikannya masing-masing. Wanita bergaun biru yang mengenakan selendang putih itu sepenuhnya mencerminkan kecantikan dalam sosok tubuhnya yang indah. Rambut panjang sebatas pinggang itu berkibar karena hembusan angin, terdapat beberapa helai rambut yang terbang dengan nakal di depan, tidak memakai hiasan apa pun di rambutnya, hanya sebuah pita berwarna biru muda yang terikat dengan lembut di rambutnya. Lehernya mengenakan kalung kristal berwarna ungu, kristal itu sedikit bercahaya, kulitnya seputih salju, sudah seperti peri yang turun ke dunia fana, tangannya begitu lembut, kulitnya tampak kenyal, lehernya begitu ramping, giginya seperti putih, alisnya begitu indah, ketika tersenyum terdapat tatapan semurni air di mata indahnya itu, terkadang terdapat sedikit kesedihan yang membuat orang lain merasakan semacam perasaan tak terjangkau.