Permaisuri Dibalik Cadar

Permaisuri Dibalik Cadar
Bab 675 Siapa Yang Mengirim Kalian Kemari


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Mengapa mereka ingin membunuh dirinya, dan lagi dari penampilan serta jumlah orang bisa dilihat bahwa mereka sudah merencanakannya sedari awal. Ye Wushuang tidak memiliki musuh di Kota Wuyou, dan satu-satunya orang yang benar-benar ingin membunuhnya adalah—


Ye Wushuang tahu dirinya sulit untuk melarikan diri dari bencana ini, kerena itu dia tidak berjuang untuk melawan sama sekali. Ye Wushuang tahu dengan jelas bahwa jika melawan maka hanya akan membuat kematiannya semakin menyedihkan.


Hello! Im an artic!


Melihat pisau tajam pihak lawan yang sudah akan menusuknya, sosok tampan tiba-tiba melintas di udara, sebelum Ye Wushuang bisa melihat dengan jelas siapa yang datang, dia melihat orang-orang bertopeng di hadapannya sudah ditendang oleh sosok yang melintas di udara dan sekarang sedang memunggunginya ini.


Ye Wushuang yang tadinya mengerutkan kening akhirnya menjadi tenang, kemudian Ye Wushuang baru dapat melihat dengan jelas bahwa orang yang menyelamatkannya itu ternyata adalah She Jingtian. Ye Wushuang melihat pakaian ungu milik She Jingtian yang berkibar, ekspresinya dingin, sepasang mata hitam itu begitu dingin hingga membuat orang lain gentar. Di malam yang gelap, dia muncul di hadapannya seperti ini seolah-olah seperti Dewa Pelindung yang secara khusus dikirimkan oleh Tuhan untuk menyelamatkannya.

__ADS_1


“Tuan Penguasa Kota…” Ye Wushuang memanggil pelan, She Jingtian menoleh dan menatapnya dengan tatapan menenangkan: “Jangan takut, ada aku di sini.”


Kalimat yang begitu singkat, She Jingtian mengatakannya dengan jelas dan penuh kekuatan, bahkan meski pihak lawannya itu berjumlah lebih banyak, tapi Ye Wushuang percaya bahwa She Jingtian bisa mengalahkan mereka.


Hello! Im an artic!


Orang bertopeng hitam yang ditendang oleh She Jingtian masih belum bangkit berdiri, kemudian sekelompok orang di belakangnya sudah mengangkat pedang milik mereka dan menerjang. Tapi tujuan mereka bukanlah She Jingtian melainkan Ye Wushuang yang sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk melawan.


Melihat kerumunan yang menerjang, She Jingtian menghindar kemudian menarik Ye Wushuang ke dalam pelukannya, menyelamatkan Ye Wushuang dari tusukan pedang yang berbahaya itu. Melihat sekelompok orang berpakaian hitam itu tidak bermaksud untuk melepaskan, She Jingtian sudah tidak bisa menahan amarahnya, She Jingtian kemudian membereskan seorang pembunuh dengan satu tangannya dengan kecepatan secepat kilat, kemudian menyambar senjata tajam di tangan lawan, She Jingtian bergerak dengan cepat, sosoknya yang lincah itu seakan menggambar sebuah busur yang anggun di udara, dirinya langsung menyerang pembunuh kekar yang ada di seberangnya.


Orang itu tidak menyangka She Jingtian akan menyerang ke arahnya, orang itu panik dan tidak tahu harus berbuat apa, ketika hendak berbalik dan melarikan diri, tidak disangka She Jingtian sudah menyerang punggungnya dengan menggunakan telapak tangannya, orang itu terhuyung-huyung beberapa langkah lalu memuntahkan darah segar. Yang membuat orang lain merasa aneh adalah meski sudah dipukuli hingga seperti itu, tapi orang berpakaian hitam lainnya tidak hanya tidak berani melangkah maju untuk membantu, tapi mereka malah masih menatap lekat ke arah Ye Wushuang.

__ADS_1


Ye Wushuang berpikir dalam hati, sebenarnya seberapa besar rasa dendam orang itu pada dirinya? Mereka bahkan tidak mempedulikan pimpinan mereka dan hanya ingin membunuhnya.


Tapi, meski tatapan mata orang-orang itu menunjukkan niat membunuh, namun mereka tidak berani bertindak gegabah.


She Jingtian juga merasa ada yang aneh dengan masalah ini, tapi begitu memikirkan jika dia tadi datang terlambat, mungkin saja Ye Wushuang sudah kehilangan nyawanya, ketika dia memikirkan Ye Wushuang hampir saja berpisah dengannya untuk selamanya, rasa yang menyayat hati merangsangnya hingga membuat She Jingtian kehilangan akal sehatnya.


Ekspresi She Jingtian berubah menjadi dingin, menarik kerah pimpinan pembunuh itu sudah seperti Shura dalam kegelapan malam, She Jingtian mengangkat pisau tajam di tangannya dan sudah hendak menusuk jantung orang itu. Tapi orang itu malah rela mati, memejamkan matanya dan tidak melawan sama sekali.


Kemudian pada saat ujung pisau itu sudah akan terjatuh, sudut mata She Jingtian malah menatap token giok yang tergantung di pinggang orang itu. Giok itu terukir gambar burung dewa yang menginjak awan. Meski pola gambar itu sangat jarang terlihat, tapi She Jingtian sangat familiar terhadap pola itu.


Saat itu juga She Jingtian sudah seperti disambar petir, dengan marah melepaskan senjata tajam di tangannya, mata hitamnya itu menoleh ke arah lawannya dengan amarah yang haus darah: “Siapa yang mengirim kalian kemari?”

__ADS_1


__ADS_2