
Hello! Im an artic!
“Ayah, aku masih tidak mengerti.” Qin Ruojiu mengerutkan keningnya semakin dalam, meskipun dirinya tidak mengerti apa yang dimaksud Ayahnya, tapi Ayah sudah mengatakan poin penting dari masalah ini. Jika tidak berdasarkan temperamen Ayah yang tenang maka pasti tidak akan menunjukkan ekspresi seperti itu.
“Tidak masalah juga memberitahu yang sejujurnya, Tu Yang mempelajari “Kutukan Darah Penyihir” dan juga mempraktekkannya di saat bersamaan, ini bertentangan dengan etika surga, bisa mendapat karma dari Surga!”
Hello! Im an artic!
“Karma Surga?” Kedua tangan Qin Ruojiu gemetar, memikirkan pemuda tampan yang memiliki aura layaknya peri itu akan mendapatkan karma Surga demi dirinya, Qin Ruojiu tidak bisa menahan rasa takut dan panik di dalam hatinya, matanya seketika membelalak lebar.
Ji Mie tidak mempedulukan ekspresi Putrinya dan berkata secara langsung: “Tidak salah, karma Surga! Jika ringan maka hanya merusak tubuh dan memperpendek umur. Jika berat maka bahkan nyawanya itu pun tidak bisa dipertahankan, akan disambar petir sampai mati!”
“…” Qin Ruojiu mencoba menenangkan kepanikan dan ketakutan di dalam hatinya, menatap ke sudut di sekitar, berusaha keras menenangkan dirinya dan berkata: “Ayah … apa itu benar?”
__ADS_1
“Jiu’er, Ayah tidak akan berbohong padamu!” Ji Mie menghela nafas pelan, membelai kepala Qin ruojiu dengan tatapan mata penuh cinta kasih.
Hello! Im an artic!
Qin Ruojiu menggelengkan kepalanya dan berkata: “Ayah, tidak boleh, Ayah harus menghentikannya, jangan biarkan dia berbuat seperti itu. Bagaimana jika dia benar-benar terluka?”
“Tidak ada gunanya, sifat anak itu bahkan lebih keras dibanding dirimu. Dan lagi dia sudah merapal mantra selama berhari-hari, tidak sampai 2 bulan, dia seharusnya sudah bisa meramal nasibmu. Tapi jika menghentikannya di tengah proses, mungkin itu akan lebih membahayakannya.”
Setelah mendengarkan ucapan itu, Qin Ruojiu yang sudah tidak berdaya hanya bisa memegang erat tangan Ji Mie, menunjukkan ekspresi yang sangat cemas dan berkata: “Ayah, tidak boleh, jangan sampai terjadi sesuatu padanya.”
“Ayah… bagaimana bisa Ayah berkata seperti ini?” Mata Qin Ruojiu berkaca dan air matanya mengalir tanpa sadar dikarenakan dirinya belum pernah mendengar ucapan seperti ini.
Air mata itu terjatuh di punggung tangan Ji Mie, terasa panas hingga menusuk jantung dan paru-parunya.
__ADS_1
“Ruojiu, kamu seharusnya mengerti bahwa Tuyang menggunakan nyawanya untuk melindungi bahaya, dan yang dia hadang adalah malapetaka. Kali ini Ayah melindungi di sisinya, bahayanya itu tidak lebih kecil dari Tuyang.”
Menghadapi ucapan lembut Ji Mie, kata-kata itu membuat mata Qin Ruojiu semakin memerah, air mata sudah tidak dapat terbendung lagi: “Ayah, bisakah Ayah tidak pergi? Tidak boleh terjadi sesuatu padamu, aku hanya memiliki Ayah saja, jika terjadi sesuatu pada Ayah, aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa! ”
Melihat Putrinya yang menangis, emosi tenang yang selalu ditampilkan oleh Ji Mie juga akhirnya goyah: “Jiu’er, kamu sudah dewasa, sudah belajar cara melindungi diri sendiri. Tuyang yang terus merawatku selama 10 tahun terakhir ini, dalam hatiku, dia itu sama sepertimu, dia itu adalah anakku. Kali ini, tidak peduli apa itu demi dirimu atau demi dirinya, aku tetap harus berada di sisinya, bahkan meski itu bencana, aku juga dapat berbagi dengannya, aku menerimanya!”
“Ayah…”
“Sudahlah, jika benar-benar terjadi sesuatu kali ini, Ayah juga sudah puas. Lagipula Ayah masih dapat melihatmu dan juga Negara Qing untuk terakhir kalinya. Ayah sangat iri pada pria itu, dia bisa menikahimu, bahkan meski dia adalah Kaisar, dia juga seharusnya merasa bahagia.”
Jelas-jelas tahu ucapan Ayahnya itu hanya untuk menghibur dirinya, tapi Qin Ruojiu masih tidak bisa menahan tangis ketika mendengarnya.
Qin Ruojin berkata dengan tercekat: “Ayah, tidak peduli bagaimanapun, Ayah harus berjanji padaku untuk kembali dengan selamat. Aku tidak ingin tidak memiliki Ayah, aku tidak ingin kehilangan keluarga terakhirku!”
__ADS_1
Ji Mie tidak bisa memberikan kepastian, karena dia tahu betapa mengerikannya malapetaka itu, itu bukanlah bencana yang bisa dihindari oleh manusia biasa bahkan jika ingin mencoba untuk menghindar.