Permaisuri Dibalik Cadar

Permaisuri Dibalik Cadar
Bab 71 Orang Yang Bisa Membaca Nasib Hidupnya


__ADS_3

Ketika Ji Mie pergi, Qin Ruojiu sama sekali tidak menatapnya lagi dan hanya meneteskan air matanya di atas kasurnya.


Ini adalah pertama kalinya ayah yang sudah hidup bersamanya selama puluhan tahun ini meninggalkannya dengan begitu kejam. Kasih sayang dan rasa hangat yang dia rasakan waktu dulu itu semua sudah berubah menjadi kekosongan.


Benar, mulai sekarang, ayah yang menjadi harapan terakhirnya itu pun sudah tidak bisa lagi ia harapkan. Ayahnya menyuruhnya untuk masuk ke dalam istana dan menggunakan hidupnya untuk kemakmuran semua rakyat negaranya, untuk hidup kakaknya, Tu Yang. Dia itu hanya seorang wanita lemah, tetapi saat ini dia harus menanggung semua itu untuk kedamaian rakyat negara.


Kakak Tu Yang adalah penyihir yang paling berbakat dari suku penyihir saat ini. Ayahnya memberitahukannya, satu tahun kemudian kakaknya akan mewariskan statusnya sebagai Imam Tinggi Penyihir dan pada saat itu mungkin kakaknya adalah salah satu orang yang bisa membaca nasib hidupnya di kemudian hari.


Di dalam ingatannya, saat itu Kakak Tu Yang berumur 10 tahun. Dia muncul dengan jubahnya yang berwarna hijau di depan pintu rumah mereka. Bunga-bunga di depan rumah mereka itu semua sedang bermekaran. Dia terlihat seperti seorang anak yang ditelantarkan oleh orang tuanya dan berdiri cemberut di depan pintu rumah mereka. Tatapan matanya itu terlihat begitu polos tetapi kelihatannya dia sangat mengerti akan hidupnya.


Qin Ruojiu pun memanjat jendela rumahnya dan mengintip kakak yang lebih besar 2 tahun darinya itu. Qin Ruojiu ingin sekali langsung keluar dan bermain dengan kakak yang kelihatan sangat kesepian itu. Karena dari tatapan mata kakak itu, terlihat dia sangat kesepian.

__ADS_1


Angin bertiup lumayan kencang hari itu, bunga-bunga mekar yang ada di depan rumah mereka itu pun berguguran dan jatuh ke atas tanah. Ayahnya pun menggandeng Kakak Tu Yang ke hadapannya. Rambut kakaknya yang panjang, lurus dan hitam itu pun tertiup angin. Bola mata kakaknya itu sangat hitam dan bulat. Lalu dia memberikan sebuah senyuman tipis yang hangat dan lembut.


Walaupun waktu itu dia masih kecil, tetapi dia bisa merasakan kharisma dari kakaknya ini dan sampai sekarang dia masih belum melupakannya.


Ayahnya memberitahukannya kalau orang tua Kakak Tu Yang sudah meninggal dan Ayah akan membawanya ke aula leluhur dan meminta izin kepada leluhur mereka untuk mengasuhnya.


Dia ingat hari itu ayahnya membuat pengecualian dan membiarkannya bermain seharian dengan kakaknya . Ayahnya berkata, mungkin ini adalah kenangan masa kecilnya yang terakhir, jadi dia harus bermain dengan penuh sukacita.


Pada saat itu, dia dan Tu Yang tidak tahu maksud dari kata-kata ayahnya, tetapi mereka pun bermain dengan sukacita.


Mungkin, itu adalah pertama kalinya Qin Ruojiu bermain dengan anak-anak seusianya, mungkin ayahnya juga tahu kalau kali ini adalah terakhir kalinya dia bisa bermain seperti ini dengan mereka. Sehingga mereka melewati hari itu dengan penuh sukacita.

__ADS_1


Dia masih ingat, ketika Tu Yang dibawa pergi oleh ayahnya, dia pernah bersumpah, “Adik Jiu’Er, aku pasti akan bisa membaca nasibmu di masa depan. Kamu harus menungguku.”


Tetapi, sudah 10 tahun berlalu dan Tu Yang masih belum kembali juga. Kata-kata yang diucapkan kakaknya saat kecil itu masih sering bergema dengan jelas di telinganya ketika dia bermimpi di tengah malam.


Dia dan Tu Yang hanya bermain bersama selama satu hari, tetapi hubungan mereka yang polos dan tidak tercela itu membuatnya tetap yakin dan belum menyerah sampai sekarang.


Hari ini setelah mendengar ayahnya mengungkit tentang kakaknya, gambaran kakaknya yang berdiri di depan pintu rumah mereka itu pun bermunculan kembali ke di dalam benaknya. Semua itu masih terlihat begitu jelas di dalam ingatannya.


“Permaisuri, Permaisuri, kamu baik-baik saja kan ….” Lu’Er yang baru berjalan masuk itu pun terkejut melihat Qin Ruojiu yang sedang menangis. Qin Ruojiu berusaha untuk menahan suara tangisannya tetapi air matanya terus mengalir keluar dari matanya. Lu’Er pun ikut merasa sedih melihat Permaisurinya yang menderita selama ini.


Melihat Lu’Er yang masuk, Qin Ruojiu pun menundukkan kepalanya lalu mengusap air matanya lalu berkata, “Aku baik-baik saja.”

__ADS_1


__ADS_2