
Melihat Qin Ruojiu yang terlihat bengong, Kang Yin pun langsung bertanya dengan penuh perhatian, “Ruojiu, kamu kenapa? Apa yang sedang kamu pikirkan?”
Qin Ruojiu mengangkat kepalanya dan berkata, “Kemarin malam kamu sudah melukai Pangeran Funing, dia bakalan ….”
“Dasar bodoh, nggak usah khawatir. Kemarin malam dia sudah langsung dikirim balik ke negaranya.”
“Apa? Dikirim balik ke negaranya? Jadi hubungan persahabatan antara kedua negara?”
“Tentu saja gagal!”
Kang Yin menjawab dengan tenang. Pupil matanya yang hitam itu memancarkan cahaya yang menyenangkan.
Qin Ruojiu menundukkan kepalanya lalu bertanya dengan gelisah, “Apakah itu tidak akan merusak hubungan persahabatan antara kedua negara?”
Kang Yin melihat lurus ke dalam matanya dengan tatapan dalam dan berkata, “Benar, tetapi emangnya kenapa? Siapa suruh dia melecehkan kamu. Kalau saja bukan karena status dia adalah seorang pangeran, aku pasti bakal langsung membunuhnya.” Ketika berbicara, dari dalam tatapan mata Kang Yin, Qin Ruojiu bisa melihat kebencian dan kedengkian yang mendalam.
Qin Ruojiu melihatnya dengan ekspresi sedikit terkejut dan bingung, “Kalau hubungan persahabatan rusak karena aku, apakah hal itu tidak apa-apa?”
__ADS_1
“Tenang saja, kerajaan Beifeng tidak bakalan balas dendam segampang itu. Melihat kekuatan angkatan perang yang dimiliki Kaisar, mereka juga pasti berpikir matang-matang sebelum bertindak. Lagian dalam masalah kali ini yang salah itu mereka bukan kita. Kalau saja mereka masih menggunakan gencatan senjata untuk menyerang kerajaan kita, itu berarti mereka benar-benar cari mati.”
“Baguslah kalau begitu, semalam aku pikir Kaisar pasti mau membuat perhitungan denganmu.”
Qin Ruojiu langsung melontarkan kata-kata itu dengan nada lega dan hangat. Kemudian Kang Yin langsung melihatnya dengan tatapan yang hangat. Tiba-tiba kedua tangannya yang besar dan hangat itu langsung menggenggam tangan Qin Ruojiu yang dingin dan kecil. Dalam seketika tangan Qin Ruojiu terasa semakin hangat, hangat ….
Kang Yin berkata, “Dasar bodoh, mana mungkin? Kaisar selalu memperlakukanku dengan baik, mana mungkin dia menyakitiku gara-gara orang luar?”
“Tetapi, jelas-jelas kemarin dia langsung menyuruh orang datang untuk membawamu kembali, aku kira ….”
“Dia itu mau tahu kondisi luka di tubuhku, bisa dibilang dia khawatir denganku. Setelah dia tahu aku terluka, dia lebih marah daripada semua orang. Kalau saja bukan karena dinasehati oleh para menteri istana, aku rasa Kaisar Zhaolie tidak mungkin memulangkan Pangeran Funing ke negaranya secepat itu. Berdasarkan karakter abangku, dia tidak mungkin membiarkan orang itu pergi dengan tenang.”
Kelihatannya, dia salah paham terhadapnya.
Benar juga, Kang Yin itu adalah adik kandungnya. Bagaimana mungkin dia melukai adiknya sendiri? Terlebih lagi mana mungkin karena Pangeran Funing, dia menghukum adik yang paling dia cintai ini.
Kalau begitu kenapa semalam dia tidak menjelaskannya? Kenapa dia sengaja membiarkannya salah paham padanya?
__ADS_1
Di dalam hatinya mulai muncul perasaan bersalah. Benar juga, dia adalah seorang Kaisar, orang yang paling berkuasa di negara ini, kenapa dia harus melaporkan apa yang dia lakukan padanya?
Dia adalah pria yang selalu berada di posisi tertinggi dan selalu dihormati semua orang, tidak ada orang yang berani menentang apa yang dia kehendaki. Dirinya tidak ada hak untuk bertanya. Mungkin ini adalah salah satu cara dia bertindak dan sikap dia menjadi seorang Kaisar.
Sampai kapan pun dia akan tetap berdiri sendiri.
Melihat Qin Ruojiu yang terdiam begitu lama, Kang Yin mulai khawatir dan bertanya, “Kamu kenapa?”
Qin Ruojiu menggelengkan kepalanya dan rasanya dia ingin bersenyunyi dari tatapan mata Kang Yin. Tetapi dia malah mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Kang Yin dengan serius. Hatinya terasa sakit, saat ini dia baru menundukkan kepalanya.
“Aku tidak apa-apa, aku hanya merasa sedikit lelah!”
“Kalau begitu biar aku anterin kamu pulang gimana?”
“Tidak usah, aku bisa pulang sendiri!”
“Tapi ….”
__ADS_1
“Kenapa, kenapa luka Pangeran Kesembilan bisa sembuh secepat itu? Dan kenapa sekarang kamu bisa keluar untuk bermain sebahagia itu?”