Permaisuri Dibalik Cadar

Permaisuri Dibalik Cadar
Bab 416 Tidak Ingin Membuat Diri Sendiri Semakin Menderita


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Pintu Paviliun Mufang dibuka dan suara berderit terdengar.


Leng Bingxin yang awalnya meringkuk di atas ranjang akhirnya berbalik tanpa sadar, cahaya lilin di luar pintu menyilaukan mata, membuat orang lain tanpa sadar menghalangi cahaya itu dengan menggunakan tangan.


Hello! Im an artic!


Pada saat ini, sosok kurus dan tinggi mendekatinya perlahan-lahan.


Pria itu memiliki paras yang menawan, bibir merah dan gigi putih, serta tampilan yang begitu mempesona. Dalam cahaya lilin yang terang, itu sama sucinya dengan sosok seorang Dewa, seolah-olah dia sama sekali bukan milik dunia fana.


Di luar cahaya lilin merupakan area yang gelap, sudah seperti sebuah lubang tanpa dasar yang membuat hati orang lain yang melihatnya merasa dingin.


Leng Bingxin merapikan pakaiannya yang berantakan lalu duduk bersila di ranjang, menatap dengan dingin pria yang berada di bawah cahaya lilin itu.


Hello! Im an artic!

__ADS_1


Sosoknya perlahan-lahan mendekat, sama sekali tidak terlihat sedikit pun keinginan di atas wajah tampan itu.


Setelah itu, dia meletakkan lilin yang ada di tangannya di atas meja lalu melangkahkan kakinya ke arah Leng Bingxin.


Leng Bingxin berkata: “Ini sudah begitu larut, untuk apa kamu datang kemari?”


Bei Fengchen tersenyum samar, tatapan matanya yang hangat seperti sinar bulan yang terbit di luar jendela, begitu indah dan lembut. Namun hal itu malah membuat orang lain merasakan semacam niat membunuh yang tersembunyi dan tak terduga.


Sejak Bei Fenchen berbicara dengan Beifeng Funing, Leng Bingxin tahu bahwa Bei Fengchen bukan orang sederhana dan lemah seperti yang terlihat.


Setelah sekian lama, Bei Fengchen perlahan-lahan berkata dengan suara seringan bulu: “Apa kamu sudah mendengar semuanya malam ini?”


Leng Bingxin bukan orang bodoh, jadi dirinya tidak bisa menyangkal. Dan lagi berdasarkan pemikiran Bei Fengchen yang begitu tidak bisa ditebak itu, tidak mungkin dia tidak bisa menebak bahwa Leng Bingxin ada di sana malam ini.


Jadi Leng Bingxin berkata dengan nada acuh: “Sepertinya Negara Beifeng memang memiliki niatan untuk menelan Negara Kangqing bukan? Menghabiskan begitu banyak usaha membina begitu banyak wanita cantik untuk bekerja keras untuk kalian, yang kalian nantikan adalah semua ini bukan?”


Tatapan mata Bei Fengchen yang datar itu sedikit menggelap, wajahnya itu tampak sedikit tidak enak dilihat di bawah cahaya lilin, tidak tahu apa wajahnya terlihat pucat karena benar-benar memiliki penyakit, atau karena wanita asing seperti Leng Bingxin mengetahui rahasianya.

__ADS_1


“Kamu sangat pintar, sepasang mata yang tampak acuh tapi malah bisa melihat begitu banyak hal.” Bei Fengchen tidak menjawabnya secara langsung, tapi malah memberikan pujian yang terdengar sangat menusuk telinga.


Leng Bingxin tersenyum tanpa daya, meskipun wajahnya yang dibalut kain kasa itu terasa sedikit sakit tapi Leng Bingxin masih tetap tersenyum.


Leng Bingxin berkata: “Apa lagi yang bisa dimiliki pria selain kekuatan untuk mengendalikan?”


“Karena kamu tahu semua ini, mengapa kamu masih mengatakannya?” Wajah Bei Fengchen menjadi semakin gelap dan dingin, ini bukan pertama kalinya Leng Bingxin melihat Bei Fengchen yang tidak terlihat lembut dan hangat. Bei Fengchen yang sekarang tertutup lapisan es, membuat orang lain merasa begitu dingin.


“Memang kenapa jika mengatakannya? Lalu memang kenapa jika tidak mengatakannya? Karena tidak bisa mengubah fakta, kenapa aku harus mengubur dan menjadikannya rahasia di dalam hatiku? Itu sudah cukup menyakitkan, aku tidak ingin membuat diri sendiri semakin menderita!” Leng Bingxin berkata dengan datar sambil menatap wajah Bei Fengchen yang tidak memiliki ekspresi.


Seakan hal semacam ini sudah menjadi hal biasa bagi Leng Bingxin. Dirinya tidak seperti wanita lain yang menangis kencang setelah mengetahui bahwa dirinya dimanfaatkan, Leng Bingxin juga tidak seperti wanita lainnya yang memaksa Bei Fengchen untuk menjanjikan sesuatu. Ketenangan dan ketidakpedulian Leng Bingxin membuat Bei Fengchen memiliki sedikit rasa sakit hati.


Bei Fengchen berkata: “Sebagai Pangeran dari Negara Beifeng, menaklukkan negara dan melawan dunia adalah misiku, itu semua sudah menjadi tugasku sedari kecil.”


Leng Bingxin tersenyum samar, senyumnya itu penuh penghinaan dan ketidakpedulian, Leng Bingxin berkata: “Pangeran? Dalam hatimu, apa kamu benar-benar bersedia menjadi seorang Pangeran?”


Begitu ucapan itu dikatakan, bahkan meski di hadapannya itu gelap gulita, Leng Bingxin masih bisa merasakan seluruh tubuh orang di hadapannya ini terpaku.

__ADS_1


__ADS_2