
Tatapan matanya itu terlihat dingin dan penuh amarah, lalu dia berkata dengan nada kecil, “Kenapa wanita ini mau bunuh diri? Tabib Liu, cepat periksa kondisinya. Kalau sampai terjadi sesuatu padanya, Aku akan memenggal kepalamu.”
Tabib Liu pun langsung bergegas berjalan ke hadapan Kaisar. Dia belum sempat beristirahat dan langsung bersujud di depan Kaisar lalu menganggukkan kepalanya, “Baik, Kaisar!”
Selesai bicara, Tabib Liu langsung memegang pergelangan tangan Qin Ruojiu dan berusaha untuk mencari denyut nadinya.
Ketika melihat wajah Qin Ruojiu yang pucat pasih dan ada tetesan air yang sedang bergantung di bulu matanya itu. Hati Kaisar Zhaolie terasa tersentak sejenak.
Ini bukan perasaan belas kasihan atau perasaan sakit hati, melainkan perasaan asing yang membuatnya binggung.
Tidak, dia tidak mungkin memiliki rasa sayang pada wanita ini, tidak mungkin. Alasan dia tidak rela melihatnya meninggal itu karena dia masih ingin memberinya lebih banyak siksaan lagi, bukan rasa cinta.
“Tabib Liu, sebenarnya apa yang terjadi padanya? Cepat katakan!” Kang Yin tidak peduli dengan kondisinya sama sekali. Dia juga tidak peduli kenapa Kaisar bisa datang ke sini. Yang ingin dia ketahui hanyalah keadaan Qin Ruojiu.
Jantungnya berdebar sangat kencang.
__ADS_1
Dia tidak boleh membiarkan satu-satunya orang yang mengerti tentang dirinya di dunia ini meninggal begitu saja.
Kaisar Zhaolie pun menyipitkan matanya dan berkata dengan nada dingin, “Adik kesembilan, kamu pulang dulu. Masalah ini biar aku yang urus saja. Pakaianmu basah kuyup, cepat pulang dan ganti pakaianmu dulu, jangan sampai sakit.”
Kang Yin pun tersenyum dingin lalu membalikkan badannya, terlihat seperti tidak ingin meninggalkan tempat itu. Lalu dengan nada dingin dia berkata, “Tidak Kaisar, aku mau memastikan dia baik-baik saja.”
“Kamu ….” Ini adalah pertama kalinya adik ke sembilannya membantahnya. Dan dia membantah perintahnya karena wanita ini. Tidak tahu apa karena rasa cemburu atau karena adiknya yang selalu menurut padanya itu tiba-tiba membantahnya, amarah Kaisar Zhaolie pun langsung meluap.
Melihat Kaisar dan Pangeran ke-9 yang sedang beradu mulut, Tabib Liu yang ketakutan itu pun langsung berkata, “Kaisar, Pangeran, kalau sekarang kita tidak mengeluarkan air yang ada di dalam tubuh Permaisuri, nyawa Permaisuri akan terancam.”
“Apa?” Mereka berdua pun menjawab dengan serentak dan mengalihkan pandangan mereka pada Qin Ruojiu.
Setelah mendengar Qin Ruojiu akan meninggal, hati Kaisar Zhaolie langsung kacau. Dia merasa takut dan khawatir.
Kemudian dia pun menahan semua perasaan yang ada di dalam dirinya dan berjalan ke arah Tabib Liu, “Bagaimana cara mengeluarkan air di dalam tubuhnya?! Cepat katakan!”
__ADS_1
Tabib Liu punenjawabnya dengan suara ketakutan, “Kaisar, dada Permaisuri harus ditekan, kalau tidak airnya tidak bisa keluar.”
“Biar aku yang kerjakan ….” Kang Yin tidak peduli dengan reaksi semua orang yang ada di sana dan langsung berjalan ke arah Qin Ruojiu.
Namun, Kaisar Zhaolie langsung berjalan selangka dan menghalanginya. Setelah itu dia berkata dengan nada dingin, “Biar aku saja!”
Kang Yin pun terkejut dan melihat ke Kaisar Zhaolie dengan tatapan yang dalam. Setelah itu dia melihat ke arah Qin Ruojiu yang lemas tidak berdaya itu. Akhirnya dia pun memilih untuk mundur.
Kaisar Zhaolie langsung mengalihkan pandangannya ke arah Qin Ruojiu. Di dalam hatinya ada perasaan rumit yang membuatnya tidak mengerti. Kemudian dia pun berlutut lalu meletakkan tangannya di atas dada Qin Ruojiu dan menekannya sekuat tenaga.
Qin Ruojiu yang tidak sadarkan diri itu mengeluarkan suara dan badannya bergerak, tetapi air yang ada di dalam tubuhnya itu masih belum dimuntahkan olehnya.
Kaisar Zhaolie pun mengerutkan keningnya lalu menekannya lagi. Tetapi Qin Ruojiu masih memberikan respon yang sama dan tidak memuntahkan air yang ada di dalam tubuhnya.
Tabib Liu yang terlihat khawatir itu langsung mengingatkannya, “Kaisar, pakai tenaga, kalau tidak, dia tidak bisa memuntahkan airnya, Permaisuri sudah hampir ….”
__ADS_1
Setelah mendengar itu, Kaisar Zhaolie pun terkejut dan terlihat ketakutan.
Hati Kang Yin terasa sangat sakit, dia tidak berani melihat apa yang ada di hadapanya. Dia hanya berdiri di samping dan berdoa di dalam hatinya. Wajahnya terlihat sangat khawatir dan penuh dengan ketakutan.