
Hello! Im an artic!
Tubuh pelayan yang berada di samping langsung gemetar ketika mendengar ucapan itu dan bergegas berlutut dan menyembah.
Mata Liqing dipenuhi dengan emosi yang bergejolak, matanya itu dipenuhi dengan kabut. Ucapan yang tidak pernah Kaisar Zhaolie ucapkan padanya, ternyata bisa diucapkan pada seorang wanita yang hanya ditemuinya satu kali? Apa semua cintanya yang dulu itu palsu?
Hello! Im an artic!
Setelah Leng Bingxin mendengar ucapan itu, sama sekali tidak ada kegembiraan, sama sekali tidak ada kebahagiaan, sama sekali tidak ada raut bersemangat, Leng Bingxin hanya menatap ke arah Bei Fengchen dengan tatapan matanya yang dingin.
Bei Fengchen – pada akhirnya menyerahkan dirinya pada pria ini layaknya sebuah hadiah.
Ya, sejak mereka masuk ke dalam Istana ini, transaksi yang tak terlihat seolah sedang terjadi.
__ADS_1
Situasi yang mencekik seperti ini hampir membuatnya tidak bisa bernafas.
Hello! Im an artic!
Leng BIngxin melihat dengan jelas sepasang matanya yang ingin melarikan diri, dan juga sorot kesepian serta rasa bersalah di dalam tatapan matanya.
Dirinya pada akhirnya bukan miliknya, selamanya akan selalu menjadi “benda” yang bisa dibuang oleh pria begitu saja, pada saat Leng Bingxin sudah akan kehilangan dirinya sendiri, tiba-tiba Leng Bingxin malah tersenyum.
Beberapa orang ditakdirkan untuk tidak dapat melarikan diri dalam hidup ini, beberapa cinta ditakdirkan untuk menjadi sebuah momok kematian seumur hidup!
Kaisar Zhaolie memeluk Leng Bingxin dan pergi, Leng Bingxin dibawa di pundak oleh kedua lengan Kaisar Zhaolie yang kokoh, sepasang tangannya yang indah melingkari lehernya dengan dingin, kepalanya sedikit menyamping, rambut hitam panjangnya itu tergerai ke bawah, rambut panjang itu menutupi setengah dari wajahnya yang sempurna, tapi hal itu tetap tidak bisa menyembunyikan tatapan matanya yang dingin, Leng Bingxin menatap Bei Fengchen dengan dingin, seolah-olah dirinya tidak akan mau mengenal Bei Fengchen lagi dalam seumur hidupnya.
Bei Fengchen menatap tatapan mata itu, jantungnya seperti ditusuk pisau, mengulurkan kedua tangannya seakan ingin meraih sesuatu, tapi pada akhirnya dirinya tidak bisa menangkap apapun.
__ADS_1
Melihat sosok dingin yang menjauh itu, Bei Fengchen hanya bisa berteriak di dalam hatinya dengan tidak berdaya, tidak … tidak …
“Tidak! Tidak… Kaisar, bagaimana bisa kamu memperlakukanku seperti ini!” Liqing seketika langsung merosot ke lantai, menatap ke arah sosok itu dengan mata yang berlinangan, wajahnya dipenuhi dengan raut kesedihan dan keputusasaan.
Wajah tampan Bei Fengchen yang berada di samping menegang, mengatupkan bibir tipisnya dengan erat, jantungnya berkedut saat melihat raut kesakitan di wajah Leng Bingxin, tapi setelah memikirkan situasi Leng Bingxin selanjutnya, raut wajahnya bergegas kembali menjadi dingin. Ya, Leng Bingxin pasti sudah tahu, Leng Bingxin membencinya, jika tidak, bagaimana mungkin Leng Bingxin akan menggunakan tatapan mata seperti itu ketika pergi? Leng Bingxin pasti terluka olehnya bukan?
Bisa disayangi oleh Kaisar Zhaolie, itu merupakan kemuliaan dari berapa banyak wanita, tapi Leng Bingxin malah seperti tubuh tanpa jiwa. Hanya Bei Fengchen yang bisa memahami senyum ironis di matanya, keputusasaan di matanya, dan juga rasa sakit di matanya. Jelas-jelas tahu Leng Bingxin tidak rela, tapi dirinya malah dengan begitu egoisnya mendorong Leng Bingxin ke jurang api.
Saat pemikiran Bei Fengchen mulai berjuang keras meronta, Liqing berdiri dengan dingin, menatap Bei Fengchen dengan tatapan dingin dan berkata: “Paman, jelas-jelas Paman tahu bahwa Kaisar Zhaolie adalah satu-satunya yang kucintai dalam hidupku, dia adalah fokus hidupku, jika kehilangan dirinya, apa Paman tahu bahwa aku tidak bisa merasakan lagi keberadaanku sendiri? Sekarang ketika melihat Kaisar Zhaolie bertindak seperti ini demi wanita lain, apa gunanya lagi aku hidup? Apa arti hidupku?”
Ketika Bei Fengchen mendengar ucapan itu, hatinya bergetar. Dulu dirinya sama sekali tidak memahami hubungan antara pria dan wanita, tapi sekarang dirinya samar-samar sepertinya sudah paham.
Bei Fengchen memejamkan matanya, memaksa dirinya untuk bersikap rasional. Bei Fengchen terus menerus menegur dirinya sendiri di dalam hati, dunia hanya selangkah lagi darinya, dirinya tidak boleh memiliki pemikiran seperti itu pada Leng Bingxin, dalam hal perasaan, dirinya tidak memiliki kebebasan. Sekarang, seluruh pikirannya, selain sepasang tatapan mata dingin yang begitu putus asa itu, sama sekali tidak dapat menampung hal lain lagi.
__ADS_1