
Hello! Im an artic!
“Wow, benarkah? Kenapa aku tidak pernah melihatnya? Kak Lu’er, ayo cepat digambar!” Yan’er berseru dari samping.
Qin Ruojiu berkata dengan cemas: “Jangan gambar lagi, itu terlalu menakutkan, apa ini masih adalah aku?”
Hello! Im an artic!
Melihat wajah Qin Ruojiu, muncul rona merah di pipinya yang bersinar dengan cerah. Lu’er kemudian berkata dengan gembira: “Permaisuri, lagipula juga tidak ada yang harus dikerjakan, jadi biarkan kami meriasmu dengan baik. Lihat diri Permaisuri, setelah memasuki Istana, Permaisuri tidak pernah merias diri dengan begitu rapi seperti Selir lainnya.”
“Benar, Permaisuri…”
“Tidak perlu, cepat ambil air, aku yang seperti ini benar-benar tidak bisa bertemu dengan orang lain, cepatlah!”
Tidak menunggu mereka berdua selesai berbicara, Qin Ruojiu sudah menyuruh mereka untuk keluar.
Hello! Im an artic!
Kedua gadis kecil itu benar-benar sangat berlebihan, mereka melukisnya seperti ini ketika Qin Ruojiu tenggelam dalam pikirannya.
__ADS_1
“Permaisuri… cobalah, bagaimana Permaisuri tahu jika tidak mencoba!”
“Benar, Permaisuri, biarkan kami melihatnya!”
Kedua gadis kecil itu tidak punya pilihan selain diusir keluar.
Setelah keduanya pergi, Qin Ruojiu menghela nafas getir lalu kembali ke depan meja rias.
Wanita di depan cermin itu terlihat sangat cantik dan juga asing.
Wajah dan rambut itu sudah seperti seorang Dewi.
Qin Ruojiu segera bangkit berdiri ketika mendengarnya, Qin Ruojiu hendak mengkritik Lu’er dan Yan’er karena berpikir mereka berdua tidak mendengarkan perintahnya untuk mengambil air, tapi malah mengintip dari luar jendela, mereka benar-benar pantas dihukum, tapi sebelum kata-kata itu diucapkan, kepulan asap putih melayang di depannya, dengan sedikit aroma yang tercium, aroma bunga yang elegan memenuhi indera penciumannya.
Aroma itu membuatmu mabuk, begitu samar dan menyegarkan, seolah-olah dirimu ingin menikmatinya selamanya dan tidak ingin bangun lagi.
Qin Ruojiu hendak menanyakan jenis bunga apa itu, aromanya begitu enak dicium, tapi pertanyaan ini baru saja terbentuk di benaknya, tiba-tiba Qin Ruojiu merasa sekujur tubuhnya terasa lemas dan pikirannya seketika kosong.
Sekujur tubuhnya terhuyung dan mundur ke belakang, perlahan-lahan sudah tidak dapat menemukan kekuatan untuk menyangga tubuhnya.
__ADS_1
Pandangannya berubah menjadi redup dan kabur, Qin Ruojiu menggelengkan kepalanya dengan sekuat tenaga, mencoba untuk membuat dirinya sadar, tapi Qin Ruojiu menyadari bahwa di sekitarnya tidak ada satupun benda yang bisa membuatnya sadar.
Perlahan-lahan, tatapan mataku berangsur-angsur berubah menjadi titik hitam yang samar… berangsur-angsur menghilang dan tak terlihat…
Ketika Qin Ruojiu kembali tersadar, dirinya merasa kepalanya seperti akan meledak.
Pegal di sekujur tubuhnya itu membuat tubuhnya yang sudah lemah semakin merasa tersiksa.
Sebelum Qin Ruojiu memiliki waktu untuk membuka matanya, dirinya merasakan tubuhnya terhuyung dari sisi ke sisi, dirinya benar-benar berada di tempat yang tidak seimbang.
Perasaan ini membuat dirinya merasa sangat tidak nyaman. Qin Ruojiu memegangi kepalanya yang sakit, melihat sekeliling dengan wajah heran. Baru kemudian Qin Ruojiu tahu bahwa dirinya sepertinya tidak lagi berada di Istana Fengyi, tapi berada di sebuah gerbong kereta kuda yang sudah sangat bobrok, di dalam kereta kuda ini tidak ada benda lain selain bungkusan paket berwarna abu-abu. Di luar kereta kuda, dari waktu ke waktu terdengar suara kusir yang berteriak keras ke arah kuda.
Qin Ruojiu terpaku selama beberapa saat terhadap semua hal yang tidak bisa dijelaskan ini, setelah menilai sekeliling dengan linglung, Qin Ruojiu bergegas mengangkat tirai.
Di luar tirai terdapat pepohonan dan rerumputan. Angin berhembus membawa keharuman bunga, ketika melewati jalan setapak, jalanan itu diiringi dengan keharuman bunga dan juga aroma tanah, membuat lingkungan sekitar terasa begitu sejuk dan hening.
Qin Ruojiu mengakui bahwa pada saat ini, dirinya malah jatuh cinta pada rasa kebebasan dan ketenangan ini.
Namun Qin Ruojiu mau tidak mau harus merasa bingung akan situasi tidak jelas pada saat ini. Qin Ruojiu dengan kuat menggenggam pegangan di gerbong kereta kuda lalu berteriak dengan panik: “Berhenti …”
__ADS_1