
Hello! Im an artic!
Pemuda berpakaian biru itu mengeluarkan saputangan sutra dari balik lengan pakaiannya, menutupi mulutnya dan terbatuk-batuk selama beberapa saat, lalu kemudian baru berhenti.
“Kak Tuyang, apa kamu sakit?” Teringat tadi pelayannya mengatakan bahwa Kak Tuyang sudah mimisan beberapa kali ketika menunggunya, sudah pasti penyakitnya cukup berat.
Hello! Im an artic!
Dan dari raut wajahnya yang pucatnya, sepertinya penyakit ini sudah lama dideritanya, dan tidak mendapatkan penanganan tepat waktu, jadi baru bisa menjadi seperti ini.
Pemuda berpakaian biru itu mengabaikan ucapan Qin Ruojiu, dia malah berdiri dengan ekspresi sedih dan menatap Qin Ruojiu dengan tatapan mata cemas, dia kemudian berkata: “Jiu’er, pergilah denganku!”
Qin Ruojiu terkejut dengan apa yang diucapkannya, untuk sesaat Qin Ruojiu bahkan lupa bahwa Kak Tuyang sakit, jadi Qin Ruojiu hanya bisa menatapnya lekat dengan terkejut: “Kak Tuyang … pergi? Pergi ke mana…”
Tuyang yang terlihat lemah itu, ketika menggenggam Qin Ruojiu, kekuatannya itu malah terasa sangat kuat dan juga bertenaga.
__ADS_1
Hello! Im an artic!
Dia berkata: “Keluar dari Istana!”
Qin Ruojiu tidak menyangka Kak Tuyang akan mengatakan ucapan seperti itu, dirinya tidak bisa bereaksi, wajah cantiknya itu terkejut dan bingung.
“Kenapa harus keluar!”
“Adik Jiu’er, aku sudah meramalnya pagi ini, dalam 3 hari ini, kamu akan mengalami bencana berdarah, mungkin akan membahayakan nyawamu, aku tidak bisa membiarkanmu tinggal di sini lagi, hanya dengan keluar dari Istana yang menjebakmu ini kamu baru bisa memiliki kesempatan untuk bertahan hidup!”
Ketika Lu’er melihat adegan ini, dia sudah sangat ketakutan, pada saat ini ketika Tuyang mengatakan ucapan itu, dia lalu melangkah maju dengan ngeri: “Apa? Permaisuri memiliki bencana berdarah? Bagaimana mungkin?”
Tuyang menggenggam tangan Qin Ruojiu, mungkin karena tenaga yang berlebihan, atau mungkin karena ucapannya yang terlalu emosional, Tuyang langsung terbatuk terus menerus.
Kali ini, ketika dia menutupi mulutnya dengan saputangan sutra, di saat bersamaan darah hitam juga mengalir keluar dari bawah hidungnya.
__ADS_1
Lu’er dan Yan’er belum pernah melihat adengan yang begitu mengerikan seperti itu, mereka langsung berteriak karena terkejut.
Hati Qin Ruojiu juga melonjak panik, bergegas berteriak pada kedua orang itu dan berkata: “Cepat undang Tabib, cepat undang Tabib Istana!”
Pada saat ini, Tuyang mengabaikan darah yang mengalir tidak henti dari hidungnya dan juga noda darah yang menyebar di sudut bibirnya, dia memeluk Qin Ruojiu lekat-lekat dan berkata: “Jangan pedulikan aku, malapetaka akan segera datang, waktuku sudah tidak banyak, satu-satunya hal yang dapat kulakukan adalah menyelamatkanmu tepat sebelum bencana itu terjadi!”
“Apa? Malapetaka? Apanya yang malapetaka?”
“Kamu tidak perlu peduli, Jiu’er, dengarkan, kamu harus hidup dengan baik. Dikatakan dalam kitab suci bahwa hidupmu adalah takdir, kamu harus hidup bebas dan tidak terkekang, jika kamu ingin tinggal di Istana ini seperti binatang yang terperangkap dalam kandang maka kamu akan mati … ”
“Kitab Suci? Malapetaka?” Qin Ruojiu kembali terkejut, matanya seketika membelalak dengan begitu lebar, dia melangkah mundur dengan tidak percaya dan bergumam: “Mungkinkah kamu benar-benar sudah meramal nasibku berdasarkan kutukan darah penyihir?”
Tuyang tidak mengatakan apa-apa, wajahnya yang tampan itu sudah memerah dikarenakan terus menerus batuk, dari nafasnya yang menderu, bisa didengar bahwa kondisi tubuhnya itu benar-benar sangat buruk.
Qin Ruojiu berkata dengan nada semakin sedih: “Apa kamu sedang melawan langit? Ayah berkata, jika mempelajari hal-hal yang ada di buku “Kutukan Darah Penyihir”, jika mendapat hukuman ringan maka akan mengurangi umurmu, jika berat maka akan mengancam nyawamu, kamu…”
__ADS_1
“Demi Jiu’er, bahkan meski aku mati, aku juga bersedia!”
“Bagaimana bisa kamu seperti ini?” Qin Ruojiu meraung dengan sedih, air matanya mengalir deras seperti sungai yang meluap. Tangan kecil itu awalnya terangkat hendak memukuli pemuda bodoh itu, tapi ketika melihat tampilan lemah pemuda itu, Qin Ruojiu tidak tega untuk menyentuhnya. Dirinya takut jika benar-benar memukulinya maka pihak lain itu akan jatuh dan tidak bisa bangun lagi.