
Hello! Im an artic!
“Aku …” Zuo’er panik dan sudah hampir menangis, dia kemudian berkata dengan mata memerah: “Aku yang tidak pandai berbicara, tapi bagaimana ini? Selir Mulia pingsan!”
Lu’er berkata dengan nada tidak baik: “Apanya yang bagaimana? Antar dia kembali ke Istana Qingyi, aku akan pergi memanggil Tabib Istana sekarang!”
Hello! Im an artic!
“Mengantar kembali? Akan butuh waktu lama untuk mengantar kembali, aku takut Selir Mulia…”
“Kenapa? Cedera ini bukan disebabkan oleh Ratu, jika membiarkan Selir Mulia dirawat di Istana Fengyi, jika hal ini tersebar maka orang lain akan berpikir bahwa Ratu yang melakukannya, nantinya kami juga akan sulit untuk menjelaskan!”
“Ini…” Zuo’er menatap Qin Ruojiu dengan panik, ada raut memohon di tatapan matanya, ekspresinya ini benar-benar berbeda dengan gadis pelayan yang begitu sombong tadi.
Melihat kekacauan ini, Qin Ruojiu tahu meskipun dirinya memiliki masalah dengan Zhao Yuanran, tapi pada saat ini, dirinya juga tidak mungkin mengabaikannya.
Hello! Im an artic!
__ADS_1
Qin Ruojiu menghela nafas pelan, memejamkan matanya dengan pasrah dan berkata: “Papah dia ke ranjang, minta Tabib untuk memeriksanya!”
“Terima kasih Ratu, Zuo Er menggantikan Selir Mulia berterima kasih pada Ratu!”
“Raut…”
“Lu’er, cepat pergi untuk memanggil Tabib, jangan sampai nantinya menunda pengobatannya.”
Zhao Yuanran akhirnya bangun setelah Tabib Istana melakukan akupuntur padanya, kemudian setelah berterima kasih pada Qin Ruojiu dengan canggung, Zhao Yuanran langsung bergegas pergi.
Qin Ruojiu menatap ke arah teh yang tumpah di atas meja, mengerjapkan matanya pelan, ada cahaya dingin yang terlintas di matanya, Qin Ruojiu lalu berkata dengan suara dalam: “Lu’er, buang benda-benda ini dan jangan pernah gunakan lagi!” Di nada suaranya terdapat sedikit rasa jijik.
“Kita tidak melakukan apa-apa padanya, kita tidak berbuat salah. Dan lagi, tujuannya datang kemari, apa benar-benar memiliki niat baik hanya untuk membeir salam padaku?”
“Benar juga, dia hanya ingin menunjukkan kasih sayang Kaisar padanya tadi malam. Lihatlah ketika dia berbicara tadi, ada raut sombong di tatapan matanya, itu benar-benar membuat orang lain marah. Kaisar pergi ke tempatnya karena sedang bertengkar dengan Ratu, dia masih berpikir…”
“Sudahlah, Lu’er, jangan bicarakan lagi. Bereskan barang-barang itu, aku sudah lelah!”
__ADS_1
Melihat ekspresi Permaisuri yang sudah menjadi suram, Lu’er tiba-tiba menyadari bahwa dirinya telah salah berbicara, Lu’er kemudian bergegas membereskan barang, tidak berani mengatakan apapun.
Setelah melewati badai di pagi hari, dalam sekejap mata, hari sudah siang.
Lu’er dengan berhati-hati membawakan makanan yang sudah disiapkan ke dalam kamar Qin Ruojiu, Qin Ruojiu menatap meja yang penuh dengan makanan lezat tapi tidak mulai makan.
“Permaisuri, setidaknya makanlah sedikit.” Lu’er tahu Qin Ruojiu sedang dalam suasana hati yang buruk, tapi dirinya tidak tahu bagaimana harus membujuknya, jadi hanya bisa menghibur dengan suara pelan.
Qin Ruojiu menarik napas dalam-dalam, tersenyum ringan dan berkata: “Bukannya aku yang tidak ingin makan, hanya saja, Lu’er, aku merasa hatiku merasa tidak nyaman!”
Setelah mendengarkan ucapan itu, Lu’er langsung mengangkat tatapan matanya dan bertanya dengan pelan: “Permaisuri kenapa?”
“Aku juga tidak tahu, yang pasti setelah Selir Mulia datang, aku selalu merasa akan ada sesuatu yang terjadi.” Qin Ruojiu mengerutkan kening dan menjawab dengan tenang.
Lu’er menoleh, melihat ekspresi serius Permaisuri, bibir merahnya sedikit terbuka dan bertanya dengan suara pelan: “Sebenarnya, aku juga berpikir kedatangan Selir Mulia kali ini memiliki tujuan yang tidak biasa.”
“Apa kamu juga menyadarinya?” Qin Ruojiu sedikit terkejut.
__ADS_1
Lu’er mengatupkan bibirnya kemudian berkata dengan lugas: “Selir Mulia sekarang menganggap Permaisuri sebagai jarum di dalam hatinya, dia sangat tidak sabar ingin menariknya keluar dengan cepat. Kebetulan Permaisuri dan Kaisar memiliki perselisihan sekarang, karena itu sangat mungkin dia mengambil kesempatan ini untuk menjebak Permaisuri dalam masalah.”
Setelah mendengar ucapan itu, Qin Ruojiu tertawa pelan mencela dirinya sendiri: “Sebenarnya dia tidak tahu bahwa orang yang bisa mengancam posisinya itu bukanlah diriku.”