
Pada saat itu, Lu’er yang masuk ke kamar pun terkejut setelah melihat kekacauan yang ada di dalam sana. Dia pun berteriak, “Nyonya ….”
Sekujur tubuh Qin Ruojiu terasa lemas dan kepalanya kosong. Seluruh tenaga yang ada di tubuhnya itu seolah baru tersedot habis. Dia hanya menggelengkan kepalanya sebentar lalu tidak sadarkan diri lagi.
Kang Yin hendak bangun, tetapi Kaisar Zhaolie langsung menekannya keras ke atas lantai lalu melangkah dengan cepat dan langsung menggendong Qin Ruojiu.
Kaisar Zhaolie langsung mengerutkan keningnya dan wajahnya dipenuhi dengan kekhawatiran. Kemudian dia memberi perintah, “Lu’er, cepat pergi panggil tabib!”
“Baik, Kaisar!” Ketika melihat gunting yang dipenuhi darah dan Nyonya yang lemas tidak sadarkan diri itu, Lu’er pun tahu keadaan saat ini sangat gawat. Dia pun langsung bergegas untuk pergi memanggil tabib.
__ADS_1
Ketika melihat wajah Qin Ruojiu begitu pucat dan darah yang terus mengalir keluar dari lehernya, Kaisar Zhaolie pun merasa sedih dan berkata kepada Kang Yin dengan nada dingin, “Kamu sudah lihat semua ini kan!”
Kang Yin yang merasa sedih itu pun berusaha untuk bangun dari lantai. Tubuhnya sedikit oyong lalu dia terduduk kembali dan berkata dengan nada rendah, “Kaisar, jangan lukai dia lagi. Kamu bunuh saja aku, cepat bunuh aku.” Di suaranya yang rendah itu ada perasaan sedih yang bercampur dengan perasaan menyesal dan penolakan.
Kaisar Zhaolie sama sekali tidak menghiraukan apa yang dia katakan dan langsung menidurkan Qin Ruojiu dengan perlahan di atas kasurnya.
Qin Ruojiu yang ada di depannya terlihat begitu pucat dan matanya tertutup rapat. Bulu mata hitamnya yang panjangan dan tebal itu masih basah. Kain cadar berwarna hitam yang terbuka setengah itu memperlihatkan bibirnya yang biasanya indah dan merah bagaikan buah ceri itu. Tetapi saat ini, bibirnya tidak kelihatan meronah dan berkilau lagi. Yang ada hanyalah noda darah dan bibirnya yang kering dan sedikit retak.
Kang Yin yang terdiam di sana tiba-tiba tertawa. Di dalam matanya terlihat tatapan mata yang yakin dan penuh dengan tekad. Dia menjawabnya dengan nada yang sama, “Kalau kamu tidak memperlakukannya dengan baik, meskipun kamu menggunakan seluruh kekuatan Kerjaan Kang Qing, aku tetap akan datang membawanya pergi!”
__ADS_1
Dia sengaja mengucapkan kalimat terakhir itu dengan kuat dan keras seolah itu adalah sebuah momentum yang bisa menembus seluruh Istana Fengyi. Tatapan matanya yang biasanya lembut dan hangat itu sekarang dipenuhi dengan kemarahan dan tekad yang sangat mendalam. Setelah itu, dia langsung membalikkan badannya dan pergi meninggalkan ruangan itu.
Ketika Qin Ruojiu terbangun, langit sudah gelap. Di dalam kamarnya itu hanya ada cahaya dari lilin yang sedikit menusuk matanya.
Saat Qin Ruojiu membalikkan badannya, dia melihat Yan’er yang sedang tertidur di sampingnya. Kemudian, dia pun bergerak dengan hati-hati dan berusaha untuk turun dari kasur.
Yan’er yang merasakan pergerakan itu pun langsung terbangun dan melihat Nyonya yang sudah terbangun. Dia pun langsung berteriak senang, “Nyonya, anda sudah bangun?”
Qin Ruojiu baru menggelengkan kepalanya sedikit tetapi dia sudah merasakan rasa sakit di bagian lehernya. Kemudian dia pun mengangkat tangannya dan mengelus lehernya. Entah sejak kapan kain kasa putih ini melilit lehernya dan rasanya sedikit sakit.
__ADS_1
“Nyonya, jangan disentuh. Tadi anda terluka. Biar aku pergi panggil tabib.” Selesai bicara, Yan’er pun langsung berbalik tanpa menunggu jawaban dari Su Xueqing.
Beberapa saat kemudian, Lu’er pun datang membawakan makanan untuknya. Ketika dia melihat Qin Ruojiu yang tidak tahu sejak kapan berbaring di atas sofa dan menutup matanya dengan rapat itu, Lu’er langsung terkejut dan memanggilnya. Ketika dia melihat Qin Ruojiu tidak memberinya tanggapan apa-apa, dia pun semakin bingung dan langsung berjalan ke arahnya dan menggoyangkan tubuh Qin Ruojiu dengan perlahan. Kemudian dia berteriak dengan sedikit panik, “Nyonya, Nyonya, bangun, cepat bangun ….”