Permaisuri Dibalik Cadar

Permaisuri Dibalik Cadar
Bab 438 Apa Kita Pernah Bertemu


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Leng Bingxin tidak tahu bagaimana dia bisa terlihat begitu lemah dan tidak bertenaga pada saat ini, tapi Leng Bingxin tahu bahwa selama pergi dari sini, maka Bei Fengchen akan langsung baik-baik saja.


Bei Fengchen tersenyum samar, ada raut pujian di tatapan matanya: “Pangeran Mahkota, mohon dimaklumi, semua orang di sini sudah pasti tahu bahwa aku memiliki penyakit sedari kecil, tubuhku semakin lemah belakangan ini, Tabib sudah mengingatkanku berkali-kali bahwa aku tidak boleh memakan benda yang terlalu berat, terutama arak, bagiku itu benar-benar mematikan seperti racun!”


Hello! Im an artic!


Mendengar ucapan ini, para penonton kembali menghela nafas.


“Ternyata begitu, tubuh Pangeran ternyata… huh…”


“Pangeran adalah orang yang baik maka sudah pasti memiliki nasib baik, tapi kenapa hal ini bisa terjadi?”


“Benar, benar, Pangeran adalah pahlawan Negara Beifeng, jika terjadi sesuatu padanya, lalu bagaimana dengan Negara Beifeng?”


Hello! Im an artic!

__ADS_1


Setelah mendengar ucapan ini, Pangeran Funing segera menurunkan gelasnya, dia berkata dengan ekspresi bersalah: “Paman, tidak perlu meminum arak ini, Paman cepatlah duduk, cukup bersulang dengan menggunakan teh sebagai gantinya saja!”


“Pangeran Mahkota bersulang padaku tapi aku malah mengecewakanmu, kumohon Pangeran Mahkota memaklumi dan tidak tersinggung!” Saat berkata, Bei Fengchen sedikit terbatuk sambil menutup bibirnya, urat di dahinya itu sedikit terlihat, benar-benar terlihat sangat menyedihkan. Dia benar-benar terlihat seperti sakit parah.


Dan sekarang yang lainnya segera melirik ke arah Leng Bingxin dengan pandangan jijik, lagipula Bei Fengchen yang ada di sampingnya sudah seperti itu tapi gadis di sebelahnya ini malah bisa tidak berbuat apa-apa dan hanya menampilkan ekspresi dingin di wajahnya, benar-benar membuat orang lain merasa marah dan juga sedih di saat bersamaan. Di sisi Pangeran sejak kapan ada pelayan yang begitu tidak tahu aturan seperti ini?


Leng Bingxin tentu saja mengabaikan tatapan mata yang tidak memiliki niat baik itu, dia hanya menatap lurus ke depan, tatapannya begitu kosong seakan tidak ada yang bisa dilihatnya.


“Paman, kamu terlalu segan. Awalnya Paman sudah berniat baik, Paman seharusnya beristirahat dengan baik di kediaman Paman, kali ini Paman bisa datang kemari, aku benar-benar sangat senang!”


“Pangeran Mahkota bisa memaklumiku, itu benar-benar sangat baik!”


Leng Bingxin hanya menatapnya sekilas dengan datar, kemudian menatap ke kejauhan dengan acuh. Bei Fengchen melihatnya, ada sedikit ketidakberdayaan yang terlintas di wajahnya.


Orang di sekitar bertanya satu demi satu: “Pangeran, kami memiliki permintaan, tidak tahu apa Pangeran mengijinkannya atau tidak?”


“Kalian langsung katakan saja, tidak perlu terlalu membatasi ketika berbicara di hari bahagia Pangeran Mahkota!”

__ADS_1


“Tidak tahu siapa wanita cantik yang ada di sisi Pangeran ini?”


“Benar, apa dia juga adalah wanita cantik yang ditemukan oleh Pangeran?”


“Kenapa dia tidak mau menunjukkan wajah di balik cadarnya? Jika dia benar-benar memiliki kecantikan yang tiada tara, mengapa tidak membiarkan kita yang ada di sini melihat kecantikannya?”


“Benar, sungguh suatu berkah bisa melihat wanita cantik seperti Ziyue, tidak tahu apa wanita yagn ada di sisi Pangeran …”


Bei Fengchen yang tidak menyangka mereka akan bertanya mengenai hal ini sedikit terkejut, dia menoleh dengan heran, menatap ke arah Leng Bingxin yang tatapan matanya terlihat agak dingin.


Baru saja membuka mulutnya untuk berbicara, Leng Bingxin malah tiba-tiba berdiri.


Gaun putihnya itu berkibar, seperti teratai di tengah kolam, wajah yang ditutupi cadar itu memberikan daya pikat yang misterius. Sepasang mata itu langsung mengarah ke aula, begitu angkuh seperti salju.


Pada saat ini, gelas di tangan Pangeran Mahkota tiba-tiba terjatuh, menatapnya dengan heran dan berkata: “Siapa kamu?”


Melihat situasi ini, Bei Fengchen bergegas berdiri, akhirnya ada sedikit kekhawatiran yang terlintas di wajahnya yang pucat: “Pangeran Mahkota kamu…”

__ADS_1


“Apa kita pernah bertemu?” Beifeng Funing mengerutkan keningnya, matanya yang dalam dan dingin itu menunjukkan raut curiga.


Leng Bingxin malah mengangkat alisnya, menatap sekeliling dengan dingin kemudian pada akhirnya berbalik dengan tenang.


__ADS_2