
Hello! Im an artic!
“Semua orang takut mati, tapi setidaknya aku tidak ingin hidup dengan terlalu membingungkan, karena jika seperti itu maka mati pun kematianku itu tidak akan jelas!
“Apa kamu benar-benar tidak takut mati?”
Hello! Im an artic!
“Tidak takut.” Leng Bingxin tidak berbohong, menatap Bei Fengchen sambil mengucapkan kata demi kata, tanpa ada rasa takut sedikit pun di tatapan matanya.
“Aku tidak percaya ketika pisau disayatkan di lehermu, kamu tidak akan gemetar sama sekali?” Sambil berbicara, Leng Bingxin sudah merasakan lehernya terasa dingin.
Pisau milik Bei Fengchen sudah ditempatkan di leher Leng Bingxin dengan begitu cepatnya.
Dalam kegelapan, dua pasang mata dingin itu mengerjap. Itu sudah seperti konfrontasi sesama keras kepala, dan juga seperti pertarungan hidup dan mati.
Hello! Im an artic!
__ADS_1
Selama periode waktu itu, Leng Bingxin tidak merasakan sakit di lehernya. Leng Bingxin bahkan memejamkan mata, seolah bisa merasakan sensasi pisau yang menusuk daging, tetapi tidak ada apa-apa sama sekali. Hanya saja hati Leng Bingxin terasa sedikit sakit, dan rasa sakit itu perlahan-lahan mereda.
“Kenapa? Apa masih perlu ragu-ragu untuk membunuh seseorang yang mengancammu? Jika kamu begitu bimbang, apa kamu bisa menduduki dunia dengan stabil di kemudian hari?” Leng Bingxin membuka matanya dan berkata dengan sedikit sinis.
Bei Fengchen tidak menganggapnya serius, sebaliknya malah berkata dengan tak berdaya: “Ternyata kamu begitu tidak menyayangi dirimu sendiri.” Dia mengatakan hal ini dengan sedikit tidak jelas, sekarang tampaknya dialah yang tidak menghargai nyawa Leng Bingxin, jelas-jelas dia yang meletakkan pisau di lehernya, jelas-jelas dia yang ingin membunuhnya.
“Huh! Hidup dan mati, bukankah itu semua hanya berdasarkan pada satu kalimat dari Pangeran?” Leng Bingxin berkata sambil mendengus dingin, ada sorot tajam yang dikeluarkan dari tatapan matanya yang dingin.
“Kamu…” Bei Fengchen tidak bisa berkata-kata, hanya bisa meletakkan pisau yang ada di tangannya. Kemudian setelah meraba-raba beberapa saat, dia mengeluarkan satu botol porselen dan berkata: “Aku bukan datang untuk membunuhmu, kamu juga tidak perlu menggunakan kata-kata untuk memprovokasiku, tujuanku kemari sepenuhnya dikarenakan lukamu.”
Leng Bingxin menundukkan kepalanya, ada raut terkejut yang terlintas di matanya, kemudian rautnya kembali ke ketenangan aslinya.
“Ini adalah salep Yulu yang diberikan oleh Qinghao saat kita pergi, salep ini terbuat dari ratusan bahan obat yang berharga, memiliki efek yang luar biasa terhadap bekas luka, kamu bisa memakainya.”
“Tidak perlu!” Leng Bingxin berbalik, mencoba menolak niat baik dari Bei Fengchen. Lagipula mereka tadi masih berperang, dan sekarang Bei Fengchen memperlakukannya dengan cara seperti ini, bagaimanapun juga Leng Bingxin tidak merasa terbiasa dengan itu.
Tapi saat Leng Bingxin baru saja berbalik, tiba-tiba dirinya ditarik kembali.
__ADS_1
Ya, telapak tangan besar milik Bei Fengchen mencengkeram lengannya dengan erat, hanya perlu menggunakan sedikit kekuatan saja, Leng Bingxin sudah ditarik masuk ke dalam pelukannya.
Aroma samar rumput di tubuhnya sedikit membuat orang terpana, Leng Bingxin mendongak, dirinya bertatapan dengan tatapan mata yang begitu dingin dan juga membentur dagu Bei Fengchen yang terdapat sedikit janggut.
Wajah Leng Bingxin memerah, dirinya bergegas menolehkan kepala dan tidak berani melihat lebih lama lagi. Terlalu berbahaya jika dirinya berada terlalu dekat dengan Bei Fengchen. Jadi pada saat itu juga Leng Bingxin berjuang untuk bangun, tapi Bei Fengchen malah memeluknya semakin erat dan berkata: “Patuhlah, pakai obatnya dan istirahatlah.”
Leng Bingxin tahu dirinya sudah jatuh di tangan Bei Fengchen, bagaimana mungkin dirinya bisa menang melawannya?
Saat ini Leng Bingxin tidak bisa mengatakan apa-apa, hanya bisa menundukkan kepala dalam diam dan tidak lagi berbicara.
Bei Fengchen menarik Leng Bingxin dan berjalan ke sisi kursi, lalu memaksa Leng Bingxin untuk untuk meringkuk menyamping di sebuah kursi panjang, tubuh bagian atas Leng Bingxin menyamping menyandarkan wajahnya di atas pangkuannya.
Bei Fengchen kembali ke sifat lembutnya, dia kemudian berkata dengan datar: “Aku akan membantumu untuk mengoleskan obat, pejamkan matamu!”
Setelah Leng Bingxin mendengar ucapan ini, dia sedikit menundukkan tatapannya, tidak tahu apa itu karena gugup atau ketakutan, Leng Bingxin bahkan masih memegang tangan Bei Fengchen, pipinya di balik kain kasa merona dan dirinya bergegas melepaskan tangan itu.
Setelah itu, semua yang terjadi selanjutnya diserahkan pada Bei Fengchen.
__ADS_1
Leng Bingxin sedikit memejamkan matanya, kain kasa di wajahnya itu dibuka selapis demi selapis.