
Qin Ruojiu pun melihat ke arah seruling yang ada di tangannya itu. Dia merasa sedikit bingung dan bertanya, “Kamu yang memainkan seruling ini?”
Kang Yin pun menganggukkan kepalanya dengan lembut dan menatapnya dengan tatapan mata yang bahagia, “Benar, akulah yang memainkan seruling ini.”
Ketika melihat mereka berdua yang berbincang dengan bahagia, Kaisar Zhaolie pun terlihat tidak senang dan mengepalkan tangannya, lalu dia berkata, “Permaisuri, bukankah sekarang waktumu minum obat?”
Satu kalimat itu pun langsung membuat suasana yang hangat itu berubah menjadi dingin.
Wajah Kang Yin terlihat kaget dan pucat. Di dalam matanya, bisa terlihat bahwa dia merasa sedih. Tapi ia berusaha untuk mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Qin Ruojiu dengan tatapan yang sedikit sedih.
Seharusnya Kaisar Zhaolie membiarkan adik kesayangannya ini bahagia, tetapi dia tidak sanggup membiarkan wanita yang ada di depannya ini memiliki hubungan yang dekat dengan adiknya. Tidak tahu kenapa, ketika tadi dia melihat tatapan mereka berdua yang begitu bahagia, ada perasaan sedih di dalam hatinya, perasaan seolah dikhianati yang membuatnya kehilangan akal sehatnya.
__ADS_1
Qin Ruojiu tidak berani terus melihat ke arah Kang Yin, dia merasa sedikit sedih dan hatinya serasa seperti tertusuk pisau. Permaisuri… sebuah panggilan yang begitu membebaninya. Bukan hanya membuatnya tidak bisa hidup seperti orang pada umumnya, tetapi juga mengharuskannya memikul tanggung jawab yang begitu berat. Sekarang, bahkan satu-satunya guqin yang bisa menemaninya untuk melewati hari-harinya ini juga akan segera meninggalkannya.
Qin Ruojiu pun menggenggam erat sapu tangan yang ada di tangannya dan menutup matanya dengan perlahan. Bulu matanya yang lentik dan panjang itu pun turun dan terlihat jelas. Dia pun menggigit bibirnya dengan erat karena kesal, tetapi semua itu tertutupi oleh cadar hitamnya. Setelah itu dia berkata dengan datar, “Kaisar, aku sudah minum obat.”
Setelah mendengar itu, Kang Yin pun merasakan gejolak di dalam hatinya. Lucu, ini benar-benar lucu. Ia sudah menyendiri dan kesepian selama bertahun-tahun, setelah susah payah, ia akhirnya menemukan seorang wanita yang mengerti dirinya. Tapi ternyata wanita itu adalah Permaisuri kerajaan, wanita kakaknya. Ini … apakah dia itu memang sudah ditakdirkan untuk hidup sendirian selamanya?
Setelah melihat ekspresi mereka berdua berubah, Kaisar Zhaolie pun melihat ke arah Qin Ruojiu dengan tatapan acuh dan acuh dan berkata, “Kalau masih harus minum obat, itu berarti kesehatanmu masih belum sepenuhnya pulih. Kenapa malah jalan-jalan keluar? Para pelayan yang ada di istanamu, sudah berani melawan perintahku ya?” Kaisar Zhaolie pun berkata dengan nada kesal dan melihat ke arah Lu’Er yang sedang berlutut di bawah sana.
Dari senyumannya itu terlihat rasa pahit dan tidak berdaya. Lalu dia berkata, “Aku pamit dulu.” Selesai bicara, Qin Ruojiu pun tidak melirik Kaisar Zhaolie sama sekali dan langsung berjalan pergi.
Kang Yin bisa melihat, senyuman yang diberikan Qin Ruojiu itu palsu. Senyumannya yang terlihat begitu hampa itu hanya disadari oleh Kang Yin seorang. Senyumannya itu terlihat begitu tidak berdaya, sama seperti irama musik yang dimainkannya, terdengar begitu menyedihkan.
__ADS_1
Dia ingin mengejarnya tetapi tiba-tiba Kaisar Zhaolie menghalanginya.
Tatapan mata kakaknya itu tampak begitu dingin. Telapak tangannya yang besar itu menahan dada Kang Yin, menghentikannya untuk berjalan maju ke depan. Lalu dengan sedikit kecewa dia berkata, “Adik kesembilan, maafkan kata-kata kakak tadi. Coba mintalah satu permintaan yang lain, kakak akan berusaha untuk mengabulkannya.” Dia tidak bisa merelakan wanita ini.
Bukan karena dia mencintainya, tetapi karena ia membencinya dan tidak rela ia bahagia.
Kang Yin pun tersenyum dan terus melihat ke arah Qin Ruojiu yang berjalan pergi. Lalu dia melihat ke arah kakaknya dan berkata, “Kakak, sampai kapan pun kamu tetap tidak akan mengerti aku.”
“Adik kesembilan ….”
“Dia adalah kakak iparku. Mulai sekarang, aku akan menghormatinya!” Selesai bicara, Kang Yin pun berusaha untuk tersenyum, namun di dalam tatapan matanya itu ada perasaan sedih dan kecewa yang tidak bisa ia ucapkan. Tetapi dia tetap berusaha untuk tersenyum.
__ADS_1
Dirinya tidak salah, kakaknya juga tidak salah, Qin Ruojiu juga tidak salah, ini semua adalah takdir Tuhan.