
Hello! Im an artic!
Qin Ruojiu menatap sosok punggung sekelompok orang yang pergi itu, matahari terbenam membentangkan siluet mereka yang begitu kurus dan lemah.
Itu seakan-akan seperti timah yang panjang dan berat, yang seketika langsung membuat jantung Qin Ruojiu sesak dan sulit untuk bernapas.
Hello! Im an artic!
Ucapan Tuyang itu, Qin Ruojiu tidak tahu apa itu akan menjadi kenyataan atau tidak. Tapi Qin Ruojiu mengerti tidak peduli itu bencana atau berkat, dirinya tidak akan bisa menghindar.
Ya, jauh di dalam lubuk hatinya, Qin Ruojiu juga sedang bertaruh dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri.
Yang dipertaruhkan Qin Ruojiu adalah apa Kaisar Zhaolie benar-benar akan membunuhnya dengan tangannya sendiri atau tidak.
Tidak peduli bagaimana dirinya membuat Kaisar Zhaolie marah, tidak peduli bagaimana dirinya tidak mematuhinya, bahkan ingin melarikan diri dengan adiknya yang paling disayanginya, Kaisar Zhaolie tidak membunuhnya.
Hello! Im an artic!
Dan kali ini, apa Kaisar Zhaolie akan benar-benar membunuhnya seperti yang dikatakan oleh Tuyang?
Tidak, Qin Ruojiu tersenyum pahit, dirinya percaya bahwa Kaisar Zhaolie tidak akan … tidak akan…
__ADS_1
Di malam hari, ketika bulan cerah berangsur-angsur naik ke atas langit, cahaya perak dingin itu menyinari bumi yang sunyi.
Qin Ruojiu khawatir akan cedera Tuyang, dirinya berbaring di ranjang yang empuk, membalikkan tubuhnya berulang kali, tidak bisa tidur untuk waktu yang lama.
Pada saat ini, terdapat suara samar di luar pintu, meskipun itu sangat pelan dan sangat lembut, tapi Qin Ruojiu masih bisa mendengar dengan jelas di malam yang sangat hening ini.
Saat itu Qin Ruojiu langsung berbalik, melihat Yan’er dan Lu’er yang mengenakan pakaian tidur mereka dan berdiri diam di sana, ekspresi mereka penuh dengan kekhawatiran dan ketakutan.
Sinar bulan menyinari wajah mereka, ada semacam raut kesepian dan ketidakberdayaan yang begitu menyedihkan. Qin Ruojiu hendak bertanya tapi dirinya tidak dapat mengatakan sepatah kata pun, akhirnya hanya bisa menghela nafas pelan.
“Kenapa kalian masih belum tidur?”
Yan’er melangkah maju, menarik Lu’er dan berkata dengan sedikit takut: “Kak Lu’er dan aku tidak bisa tidur, ingin datang untuk melihat Permaisuri!” Meskipun mereka tidak mempercayai ucapan Tuyang, tapi mereka juga tidak boleh meremehkan ucapan itu. Semalaman, mereka berdua takut akan terjadi sesuatu pada Permaisuri, seolah selama mereka tidak bisa melihat Permaisuri, mereka merasa bahwa adegan yang dikatakan Tuyang itu sangat mungkin akan terjadi.
“Kalau begitu, malam ini kita bertiga akan berdesak-desakan dan tidur bersama!”
Yan’er awalnya sangat gembira, tapi kemudian dia malah berkata dengan sedikit bingung: “Apa? Tidur dengan Permaisuri? Ini …”
Lu’er mengangguk dan berkata: “Bukankah kamu selalu ingin melihat Permaisuri? Tidurlah dengan Permaisuri malam ini, lagipula Permaisuri juga tidak mempermasalahkannya!”
“Kak Lu’er …”
__ADS_1
Melihat ekspresi Yan’er yang malu-malu, Qin Ruojiu lalu tertawa.
“Kemarilah, cepat, aku akan memberi tempat untuk kalian.”
Untungnya ranjang itu cukup besar, mereka bertiga berbaring telentang tanpa merasa sempit sama sekali.
Qin Ruojiu tidur di bagian tengah, Lu’er dan Yan’er tidur di setiap sisi, keduanya masing-masing merangkul lengan Qin Ruojiu dan menyandarkannya di kepala mereka, dengan begitu mereka baru bisa tertidur dengan nyaman.
Qin Ruojiu awalnya tersenyum denga penuh kasih, kemudian dirinya tanpa daya tidak tertidur hingga fajar menjelang.
Keesokan harinya, Yan’er dan Lu’er tertidur dengan sangat nyenyak, mereka melihat Permaisuri masih tertidur, Yan’er kemudian bergegas membangunkan Qin Ruojiu.
Melihat Permaisuri yang terlihat linglung, kedua matanya juga memerah dan sedikit bengkak, Yan’er terkejut dan berkata: “Permaisuri, kamu kenapa?”
Qin Ruojiu melihat sekeliling dan pandangannya sedikit kabur, meskipun Qin Ruojiu tidak tahu apa yang salah dengan dirinya, tapi dirinya memang sulit untuk membuka matanya.
Qin Ruojiu langsung menggunakan saputangan sutra untuk menggosok matanya dan berkata dengan suara pelan: “Tidak apa-apa!”
Lu’er lebih sensitif, dia tahu Permaisuri tidak tidur tadi malam. Lu’er langsung mendorong Yan’er turun dari ranjang dan berkata: “Jangan lihat lagi, pergilah untuk mengambil air, biarkan Permaisuri mencuci wajahnya lebih dulu!”
Setelah merapikan semuanya, Qin Ruojiu sudah duduk di depan meja rias.
__ADS_1
Terdengar suara khawatir Yan’er dari luar: “Kak Lu’er, alangkah baiknya jika tiga hari ini berlalu dengan lebih cepat!”
“Kenapa?”