
Hello! Im an artic!
Alis hitam yang melengkung itu seperti dilukis, sepasang mata yang menantikan cahaya, mata yang begitu menggoda, hitam dan putih terlihat dengan jelas, memiliki pesona yang memabukkan. Pita berwarna putih mutiara yang lebar dijalin, rambut panjang sebatas pinggang, menggunakan aksesoris rambut rantai manik-manik berwarna putih dan merah muda, terkadang satu hingga dua manik-manik itu terjuntai dengan tidak patuh, tapi itu bahkan semakin menambah kecantikannya yang sejati bagai ilusi, memakai sebuah gelang giok putih susu di pergelangan tangannya, giok putih yang hangat itu memancarkan kecemerlangan yang tak terlukiskan, melengkapi tempilannya yang memakai gaun yang begitu cantik dan indah, mengenakan kalung yang terbuat dari perak yang memiliki kemilau ungu samar.
Wanita yang memiliki kecantikan alami, pada saat ini sedang menatap Bei Fengchen yang duduk di kursi utama dengan manja, tatapan mata yang mendamba itu seakan ingin memakan pihak lain dalam satu gigitan.
Hello! Im an artic!
Leng Bingxin tahu dirinya sudah mengabaikan orang lain, jadi dia bergegas berdiri dan menyapa.
“Selamat pagi!” Leng Bingxin tidak tahu bagaimana harus memanggilnya, jadi dirinya hanya bisa mengucapkan kalimat itu.
Wanita itu menatap wajah Leng Bingxin dan langsung merangkul lengan kiri Bei Fengchen, ada senyum sombong yang terulas di bibirnya: “Apa kamu adalah wanita yang dipungut oleh Pangeran kemarin?”
__ADS_1
Melihat tatapan permusuhannya, Leng Bingxin hanya menaikkan alisnya dengan samar dan tidak lagi berbicara.
Hello! Im an artic!
“Oh, ternyata tampilannya seperti ini, membuatku khawatir sepanjang malam. Sepertinya aku yang terlalu khawatir!”
“Mulai makan!”
Bei Fengchen yang lembut itu langsung menepis rangkulan wanita itu dan berteriak dengan dingin.
Dirinya merasakan tekanan saat makan, bisa dilihat bahwa wanita cantik ini sangat membenci dirinya.
Tapi Leng Bingxin tidak peduli, dirinya sudah terbiasa dengan kehidupan seperti ini sedari dulu, dulu saat dirinya berada di Istana, ada lebih dari satu orang yang membencinya dan juga marah padanya.
__ADS_1
Hanya saja Leng Bingxin tidak menyangka, waktu itu dirinya adalah wanita yang cantik, wajar jika ada beberapa orang yang iri dan membencinya, tapi sekarang dirinya sudah begitu jelek tapi masih saja ada orang yang membencinya. Sebenarnya apa yang salah dari dirinya? Apa dirinya memang terlahir untuk tidak bisa hidup berdamai dengan orang lain?
Memikirkan hal ini, tanpa sadar Leng Bingxin mengangkat sudut bibirnya dan tersenyum.
Sepertinya wanita ini seharunya adalah Selir atau Permaisuri sang Pangeran. Umumnya wanita di samping Kaisar dan Pangeran itu adalah wanita yang tidak biasa, semuanya memiliki ambisi yang kuat, memiliki harga diri yang sangat tinggi, jika merupakan benda milik mereka, maka mereka tidak pernah suka membiarkan orang lain merampasnya.
Bahkan meski Leng Bingxin dia memiliki modal untuk merampas milik orang lain, tapi wanita adalah wanita, secara alami memiliki rasa iri dan cemburu yang kuat. Bahkan meski Leng Bingxin tidak memiliki paras yang cantik, selama dia adalah seorang wanita maka itu sudah cukup untuk membuat wanita lain merasa cemburu.
Leng Bingxin tidak ingin menjadi orang yang tidak tahu diri, jadi dia bergegas menyelesaikan makannya dan segera bangkit ingin pergi, setidaknya ingin memberikan ruang untuk Bei Fengchen dan wanita itu.
Namun baru saja melangkah, suara hangat dan lembut milik Bei Fengchen terdengar: “Nona Leng, tunggu …”
Ketika berbicara, pria yang memiliki paras yang tampan itu juga ikut bangkit berdiri, tidak mempedulikan tatapan mata penuh keluhan dari wanita cantik yang ada di sampingnya.
__ADS_1
“Pangeran, apa ada urusan?” Hati Leng Bingxin terkejut, kemudian tersenyum padanya. “Kamu pergi begitu saja seperti ini, apa kamu tidak membutuhkanku untuk membantumu?”
Setelah mendengarkan itu, Leng Bingxin tersenyum dalam diam: “Pangeran membawaku kemari dari bahaya dan memberiku makanan serta tempat tinggal, aku sudah sangat berterima kasih, bagaimana bisa aku meminta Pangeran untuk membantuku?” Leng Bingxin berkata dengan santai sambil melipat saputangan sutera yang ada di tangannya.