
Hello! Im an artic!
Ya, daging ini mungkin hanya bisa dinikmati dengan begitu nikmatnya oleh anak-anak yang begitu polos dan naif ini, tidak tahu apa orang lain yang akan didorong ke dalam lubang api itu sedang merasa sedih dan bersembunyi seorang diri di kejauhan?
Jika itu adalah dirinya, apa dia bisa menelan potongan daging ini?
Hello! Im an artic!
Keesokan harinya, Ziyue benar-benar dijemput untuk memasuki Istana Pangeran Mahkota.
Meskipun tidak menggunakan bunga dan tandu mewah untuk mengundangnya masuk, tapi Pangeran Mahkota menyambutnya dengan cukup meriah.
Hadiah pernihakan diantarkan kotak demi kotak, dan sutra satin itu benar-benar sangat mempesona.
Meskipun hanya menikahi seorang Selir, tapi hampir semua pejabat dari Negara Beifeng ikut berpartisipasi, lagipula masalah ini juga sudah menyebar ke seluruh Ibukota dalam beberapa hari terakhir. Bagaimanapun juga Pangeran Mahkota adalah calon Raja di kemudian hari, dan Ziyue adalah wanita cantik yang terkenal di Negara Beifeng. Bagaimana mungkin pernikahan ini tidak dipandang dengan baik oleh orang lain?
Hello! Im an artic!
__ADS_1
Pagi-pagi sekali, para pelayan di istana sudah mengenakan pakaian yang cerah, mereka sedang sibuk mengurus pekerjaan mereka masing-masing.
Hari ini adalah hari yang meriah, juga hari baik bagi Nona Ziyue, dan juga merupakan hari yang membahagiakan bagi semua orang yang ada di seluruh Istana.
Para pelayan bergegas ke aula depan dengan tergesa-gesa, sebentar-sebentar mengambil kesempatan ketika menyajikan teh dan juga mengucapkan berkah, tidak ada yang tidak saling berdesakan.
Ya, hari ini adalah kesempatan langka untuk memanjakan diri dengan susah payah, mengambil permen pernikahan, mendapatkan angpao, itu merupakan kesempatan langka seumur hidup.
Leng Bingxin mengenakan pakaian biasa, menutupi wajahnya dengan kain cadar, bersandar seorang diri di pintu samping “Wang Yue Lou”, melihat Ziyue yang mengenakan pakaian merah sedang dijemput pergi oleh orang lain.
Dibandingkan dengan hiruk pikuk di depan aula yang tampak sangat ramai dan meriah, dirinya yang berada di sini tampak terlihat begitu kesepian, kesepian yang tidak bisa diungkapkan.
Menikah dengan Pangeran Mahkota, jika dibicarakan memang sangat membanggakan, tapi sebenarnya dirinya didorong pada binatang buas oleh orang lain.
Di kemudian hari, dia tidak bisa lagi hidup setenang dan sedamai seperti di sini, tidak mungkin lagi berharap pria yang dicintainya akan melihatnya. Ziyue di kemudian hari hanyalah bidak berbahaya yang ditempatkan di sisi Pangeran Mahkota, nyawanya bisa terancam setiap saat.
Semua orang sedang tertawa, bahkan Ziyue mungkin juga sedang tertawa, sedangkan dirinya, Leng Bingxin, masih sedingin biasanya, dia melihat sekeliling dengan acuh, di tatapan matanya itu tidak ada lagi hal lain selain kesedihan dan ketidakpedulian.
__ADS_1
Ketika dirinya berbalik, dirinya bertabrakan dengan Runxue yang datang dengan terburu-buru. Wajah Runxue memerah dan penuh dengan senyum, sepertinya hatinya sangat bersemangat.
Dibandingkan dengan kedinginan di tatapan matanya, tatapan mata Runxue yang panas itu benar-benar sangat berbeda.
Runxue terengah-engah sambil menyeringai, dia berkata dengan nada gembira: “A’chou, kenapa kamu tidak pergi untuk melihat keramaian?”
Leng Bingxin menggelengkan kepalanya, senyum masam terulas di sudut bibirnya, itu bukanlah hal yang bisa dilihat oleh Runxue.
“Tidak, masih ada yang harus kulakukan … kalian pergilah!”
“A’chou, kenapa kamu begitu sibuk sepanjang hari? Benar juga, Pangeran sedang mencarimu!”
“Pangeran mencariku?” Leng Bingxin mengerutkan kening, menatap Runxue dengan terkejut.
Runxue menatap kerumunan di kejauhan dengan gembira, dia menjawab dengan santai: “Ya, aku bertemu Pangeran ketika datang kemari, dia bertanya apa aku melihatmu atau tidak, jika melihatmu maka memintamu untuk pergi ke kamar dan menunggunya.”
“Apa dia mengatakan ada urusan apa?” Leng Bingxin seketika langsung menjadi waspada.
__ADS_1
Runxue tidak memperhatikan ekspresi Leng Bingxin, hanya menggelengkan kepalanya dengan bodoh: “Dia adalah Pangeran, bahkan jika ada urusan pun aku juga tidak berani untuk bertanya. Kamu cepatlah pergi, jika ada urusan penting maka itu tidak baik.”