
“Permaisuri, kamu perlu khawatir. Kamu tenang saja, aku hanya menganggapmu sebagai orang yang mengerti musikku. Hanya sebatas itu, kamu tidak perlu takut. Aku yakin, walaupun Kaisar tahu, dia juga tidak akan menyalahkan kita. Aku benar-benar tulus dan tidak memiliki maksud lain.”
Qin Ruojiu mengangkat kepalanya dan melihatnya dengan tatapan datar, bibir merahnya yang sedikit terbuka. Dia ingin mengatakan, sebenarnya ia Kaisar Zhaolie lah yang membuatnya takut dan khawatir. Si orang gila itu sekarang mengira dia sengaja menggoda Pangeran ke-9. Kalau saja dia sampai tahu Pangeran ke-9 sekarang datang untuk bertemu dengannya, bisa-bisa dia akan disiksa habis-habisan olehnya. Dia ingin sekali mengatakan ini dan menceritakan semua penderitaannya. Tetapi, dari dalam tatapan mata Kang Yin, dia terlihat begitu percaya dengan Kaisar Zhaolie dan begitu menghormatinya. Apakah dia akan percaya dengan apa yang Ruojiu katakan?
Qin Ruojiu pun tersenyum pahit dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia pun memilih untuk tidak mengutarakannya. Benar, mereka itu saudara kandung, mana mungkin Kang Yin lebih percaya padanya yang bukan siapa-siapa?
Kang Yin pun mengerutkan keningnya, lalu melihat ke arah Qin Ruojiu dan bertanya dengan lembut, “Kenapa menggelengkan kepala?”
Ada rasa sedih di dalam hati Qin Ruojiu, tetapi dia tetap tersenyum. Tetapi dari tatapan matanya itu, terlihat keraguan yang ada di dalam hatinya, “Tidak, hanya saja musik seruling yang dimainkan Pangeran ke-9 itu selalu terdengar begitu sedih dan membawa perasaan kesepian yang mendalam. Alunan musik itu selalu berhasil membuat orang terbawa ke dalam musik mu.”
__ADS_1
“Benarkah? Suara musik guqinmu itu juga sama. Setelah aku mendengarnya, aku malah merasa semakin sedih.”
Qin Ruojiu pun melihat ke arah Kang Yin dan berkata, “Benar, dua suara alat musik berbeda, yang kita mainkan bersama, membuat musiknya terdengar semakin sedih, bukanlah begitu?”
“Benar, karena dua musik yang bertema sedih itu digabungkan, alunan musik itu terdengar sangat sedih dan tidak tertandingi. Maka dari itu, kita berdua bisa menjadi sahabat yang bisa mengerti perasaan satu sama lain lewat musik. Mulai kita adalah teman!” Kang Yin berbicara dengan lembut sambil tersenyum. Suaranya itu membuat setiap wanita yang mendengar itu langsung terpesona padanya.
Setelah mendengar kata-kata itu, Qin Ruojiu tetap saja belum merasa tenang. Di hidupnya ini, Kang Yin adalah satu-satunya orang yang mau menjadi teman musiknya, dan dia juga adalah satu-satunya orang yang begitu menghormatinya. Qin Ruojiu merasa begitu bahagia di dalam hatinya. Qin Ruojiu juga ingin sekali Kang Yong menghormatinya dan memperlakukannya seperti Kang Yin ini. Tetapi sayangnya, Kangyong tidak bisa melakukan itu.
“Kenapa tidak bicara? Apakah kamu tidak bersedia?” Melihat Qin Ruojiu yang tidak menjawabnya, Kang Yin merasa sedikit kecewa di dalam hatinya. Pada saat yang bersamaan dia juga memasang mukanya yang polos dan kebingungan itu lalu melihat ke arah Qin Ruojiu.
__ADS_1
Tatapan matanya itu begitu jernih dan polos.
Qin Ruojiu pun tidak tahan melihat tatapannya itu. Pada akhirnya Qin Ruojiu pun mengangguk kan kepalanya dan berkata, “Asalkan kamu bersedia, mulai sekarang, kita adalah teman.”
Wajah Kang Yin pun langsung berubah bahagia setelah dia mendengar jawaban dari Qin Ruojiu. Dia pun tertawa bahagia seperti seorang anak kecil.
Kang Yin pun berkata, “Kalau begitu, kalau lain kali aku merasa sedih, aku boleh datang menemuimu, kan?”
Qin Ruojiu tidak mengatakan apa-apa dan hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Pangeran ke-9 adalah orang yang tidak memiliki musuh di dunia ini. Hatinya masih bersih dan polos seperti seorang anak kecil.
__ADS_1
Dia itu memang selalu sendirian, walaupun seluruh orang yang ada di dunia ini mau membantunya sekalipun, dia juga tetap akan selalu sendirian.
Kang Yin dan dirinya sangat mirip. Sejak kecil Qin Ruojiu selalu hidup di bawah ketakutan dan hinaan orang lain. Oleh karena itu dia tidak berani sembarangan berbicara dengan orang lain, karena tatapan mata orang yang melihatnya itu, selalu dipenuhi dengan ejekan dan hinaan. Tatapan mata itu membuatnya merasa sedih. Maka dari itu, Qin Ruojiu juga selalu kesepian. Bahkan ada di saat tertentum dia merasa di dunia ini hanya tersisa dirinyaa seorang. Perasaan tersingkirkan di dunia ini selalu ada di hatinya.