Permaisuri Dibalik Cadar

Permaisuri Dibalik Cadar
Bab 92 Satu-satunya Permintaanku Padamu


__ADS_3

Kaisar Zhaolie pun langsung maju lalu mengepalkan tangannya dan berkata, “Serahkan saja dia padaku!” Jelas-jelas dia ingin membunuh wanita ini, tetapi kenapa ketika melihat wajah wanita ini pucat pasi dalam keadaan sekarat seperti ini, dalam hatinya dia tiba-tiba merasa sakit dan perih.


Kang Yin pun memeluknya dan mundur selangkah dengan perlahan. Ini adalah pertama kalinya dia melihat Kaisar Zhaolie dengan tatapan yang penuh kesedihan, “Kakak, jangan membunuhnya. Aku mohon padamu, ini adalah satu-satunya permintaanku padamu, jangan bunuh dia!”


“Aku tidak akan membunuhnya, aku hanya mau kamu menyerahkannya padaku. Dia tidak boleh mati segampang itu. Dia berhutang padaku. Dia sudah membunuh anakku, aku akan membuatnya menggunakan seluruh hidupnya untuk membayar itu!”


Kaisar Zhaolie berkata dengan tegas dan mengerikan bagaikan seorang iblis. Tatapan matanya itu juga sangat tajam dan menakutkan, sampai-sampai semua orang yang ada di sana pun ketakutan melihat tatapan matanya.


Setiap kata yang keluar dari mulutnya itu membuat hati orang berdebar kencang. Walaupun Kang Yin begitu peduli dengan Qin Ruojiu , tetapi Kasiar Zhaolie tetap tidak akan melepaskan wanita itu begitu saja.


Kaisar Zhaolie pun mengangkat wanita yang sudah lemas tak berdaya dan dipenuhi dengan darah itu.


Anak itu adalah darah dagingnya ….

__ADS_1


“Pengawal cepat pergi panggil Tabib. Nyawa wanita ini adalah nyawa kalian semua. Kalau saja dia meninggal, kalian semua juga akan mati!” Kasiar Zhaolie pun memerintahkan perintahnya dengan dingin. Setelah itu seluruh Istana Fengyi pun dipenuhi dengan kekacauan.


Semua orang yang ada di sana pun bubar dan berusaha untuk mencari cara mempertahan kan hidup mereka. Ada yang pergi memanggil Tabib Liu, ada yang memasakkan air panas, ada pula yang berdoa. Pokoknya, Permaisuri mereka tidak boleh meninggal.


Kaisar Zhaolie pun menundukkan kepalanya dan merasa sedih ketika melihat wanita yang ada di dalam pelukannya itu.


Kenapa wanita ini selalu memancing kebenciannya dan membuatnya marah? Kaisar Zhaolie membencinya, tapi kenapa saat ini kemarahannya meluap dan ia merasa khawatir? Tidak, dia tidak ingin Qin Ruojiu meninggal, Qin Ruojiu itu suka membantu orang, bukan? Demi menyelamatkan beberapa budaknya yang tidak berguna itu, dia bahkan rela membunuh anaknya sendiri.


Kalau begitu, jika Qin Ruojiu benar-benar meninggal, dia akan menyuruh semua orang yang ada di sini ikut mati bersamanya


Kabut yang ada di langit mulai menghilang dan digantikan dengan cahaya dari bulan yang tampak terang dan menerangi seluruh Istana Fengyi yang luas dan mewah. Cahaya bulan yang terang itu juga turut menerangi kolam yang ada di jauh sana. Air yang ada di dalam kolam itu terlihat tenang dan tidak berombak sama sekali. Ketenangan dari kolam itu seolah membawa kedamaian.


Istana Fengyi dipenuhi dengan aroma cemara yang ringan.

__ADS_1


Ketika Qin Ruojiu membuka matanya, dia melihat Lu’Er yang sedang tertidur di samping kasurnya. Lu’Er yang tertidur di samping kasurnya itu terlihat seperti seorang anak kecil yang polos tanpa berdosa.


Hanya saja di ujung matanya itu terlihat bekas air mata yang membuat orang merasa kasihan melihatnya.


Qin Ruojiu menahan rasa sakit yang ada di tubuhnya dan berusaha untuk beranjak naik dari kasurnya. Sekujur tubuhnya dipenuhi dengan rasa sakit seperti disetrum. Rasa sakit di lukanya yang terbuka itu membuatnya hampir pingsan lagi.


Dengan suaranya yang kecil dia memanggil, “Lu’Er ….” Dia tidak sampai hati melihat anak kecil ini kedinginan. Lalu dia pun mengambil selimut kapas yang ada di atas tubuhnya itu dan meletakkanya dengan perlahan di atas tubuh Lu’Er.


Ketika mendengar suara panggilan yang kecil itu, tiba-tiba Lu’Er pun terbangun dan terlihat sedih. Wajah Lu’Er dipenuhi dengan ekspresi wajah yang takut dan sedih, lalu dia berkata, “Permaisuri, bagaimana dengan keadaan Permaisuri?”


Qin Ruojiu pun melihat ke dalam mata Lu’Er, dia melihat perasaan sedih di dalam matanya. Lalu Qin Ruojiu pun tersenyum lembut dan berkata, “Aku baik-baik saja”


Mata Lu’Er pun mulai memerah. Dia menggenggam tangannya dengan erat dan menangis. Tidak tahu kenapa, kata-kata yang sudah sampai di ujung mulutnya itu tidak berani dia katakan keluar. Benar, dia tidak boleh mengungkit masalah anak itu lagi, dia juga tidak boleh mengungkit masalah lain lagi. Dia tidak mau melihat Permaisurinya sedih seperti ini lagi. Permaisurinya adalah seorang wanita yang sangat baik, tetapi tidak tahu kenapa dia harus menanggung semua penderitaan ini.

__ADS_1


Tuhan kenapa Kamu harus berbuat seperti ini padanya?


__ADS_2