
Hello! Im an artic!
“Yang kamu katakan benar.” Pangeran Liang menggelengkan kepalanya sebagai jawaban, terdapat sedikit rasa penasaran di tatapan matanya terhadap wanita ini.
“Baiklah, kita sudah makan kenyang, apa Pangeran Liang sudah memiliki rencana sore ini? Di musim semi ini, apa kamu ingin pergi berperahu di danau? Atau ingin mengundang penyanyi dan penari untuk bersenang-senang di Kastil?”
Hello! Im an artic!
Menghadapi usulan She Jingtian, Pangeran Liang menggoyangkan jari telunjuknya yang ramping dan bersih itu sambil berkata dengan tatapan mata jijik: “Vulgar, nanti aku akan menemui orang penting.”
“Siapa?”
“Tentu saja wanita cantik di negeri ini, Min’er.”
“Baiklah, dia sudah lama menantikanmu.”
Hello! Im an artic!
Mendengar ucapan ini, suasana hati Pangeran Liang dengan anehnya menjadi sangat baik: “Benarkah? Sudah setahun tidak melihatnya, apa dia sudah tumbuh lebih tinggi?”
__ADS_1
“Ya, sudah tumbuh lebih tinggi dan juga lebih pengertian.”
“Pengertian?” Pangeran Liang jelas tidak berani mempercayainya, tahun lalu dirinya melihat bagaimana Min’er mengamuk pada pelayannya, sifat Min’er yang mudah tersinggung itu berbanding terbalik dengan kecantikannya itu.
“Ya, ada Nona Wushuang di sisinya tahun ini, dia sudah banyak berubah.” She Jingtian bergumam, terdapat sentuhan lega pada senyumannya yang hampir tidak disadarinya.
“Nona Wushuang? Siapa itu?” Pangeran Liang dengan pelan merapikan rambut di depan dadanya, wajah yang lebih cantik dan lebih menawan dibanding seorang wanita itu terlihat sedikit bingung.
“Dia adalah wanita dari Negara Qi yang baru saja kubicarakan padamu.”
“Hmm? Hanya seorang pelayan tapi kamu sudah menyebutnya dua kali, dia tidak mudah.”
She Jingtian menstabilkan pikirannya lalu berkata dengan ekspresi serius: “Dia bukan pelayan, tapi tangan kanan yang membantu Min’er, aku tidak pernah menganggapnya sebagai pelayan.”
“Benarkah? Kalau begitu aku ingin bertemu dengannya, sebenarnya wanita macam apa yang bisa membuatmu memberikan penilaian yang begitu tinggi?”
Ketika tiba di Paviliun Zhaixing, terdengar suara nyanyian yang begitu jernih dan mempesona. Kedua pria tampan itu masing-masing menghentikan langkah kaki mereka.
“Aku datang dari pegunungan… dengan membawa bunga anggrek… menanamnya di taman kecil, berharap bunganya akan segera mekar… Aku mengamatinya tiga kali sehari, hingga periode mekar selesai… tapi bunga anggrek itu malah… tidak bertunas satupun, musim gugur tiba dalam sekejap mata… memindahkan bunga anggrek itu ke ruang yang hangat… menghargai dan merawatnya setiap hari, tidak bisa melupakannya setiap malam…”
__ADS_1
Wanita itu bernyanyi dengan begitu mempesona, di saat bersamaan dia dengan lembut membuat ketukan dengan menggunakan tangannya, berdiri di luar paviliun yang sunyi, samar-samar bisa mendengarnya dengan sangat jelas.
“Menantikan mekarnya bunga di musim semi… untuk memenuhi keinginan yang sudah lama ditunggu-tunggu, taman dipenuhi dengan bunga, menambahkan begitu banyak keharuman…”
Suaranya begitu jernih dan merdu, seperti suara kicau burung di tengah lembah, berputar dengan perlahan, membuat orang merasa terlena.
Pertama kali mendengar lagu yang begitu ceria, Pangeran Liang tampak sangat bahagia, dia lalu berseru dengan kencang: “Kak She…”
Siapa tahu, baru saja dia berteriak, She Jingtian langsung mengulurkan jari telunjuknya dan menempelkannya ke bibir dengan gugup sambil mengeluarkan suara “Ssstt—”, tampangnya begitu serius seolah dia takut merusak momen indah ini.
Pangeran Liang adalah orang yang cerdas, dia tidak banyak bicara, hanya berdiri berdampingan dengan She Jingtian dan mendengarkan dengan saksama.
“Aku datang dari pegunungan dengan membawa bunga anggrek…
Menanamnya di taman kecil, berharap bunganya akan segera mekar… Aku mengamatinya tiga kali sehari, hingga periode mekar selesai.
Tapi bunga anggrek itu malah tidak bertunas satupun… Musim gugur tiba dalam sekejap mata, memindahkan bunga anggrek itu ke ruang yang hangat… Menghargai dan merawatnya setiap hari, tidak bisa melupakannya setiap malam… Menantikan mekarnya bunga di musim semi, untuk memenuhi keinginan yang sudah lama ditunggu-tunggu…”
Suaranya begitu pelan dan lembut, seperti angin di musim semi yang berhembus dan menyentuh hati mereka, di saat bersamaan juga menghilangkan kabut yang sudah sekian lama bertahan.
__ADS_1
Hingga pada saat ini She Jingtian baru tiba-tiba merasa bahwa dirinya ternyata begitu mengharapkan suara Ye Wushuang sedemikian rupa, tidak melihatnya selama lebih dari sebulan, apa dirinya benar-benar ingin melihat bagaimana keadaannya?