
Hello! Im an artic!
Ji Xingfeng yang raut wajahnya sudah dingin seperti es, setelah sampai di Pingzhou, raut wajahnya itu semakin suram dan sangat tidak enak dilihat, hanya saja ketika sesekali dia bertemu dengan para rakyat yang memberi hormat padanya, Ji Xingfeng baru menunjukkan senyum memaksa. Bisa dilihat bahwa Ji Xingfeng sama sekali tidak menyukai tempat ini.
Ye Wushuang berpikir dalam hati, Ji Xingfeng pasti tidak senang datang kemari, dia adalah orang yang begitu sombong, angkuh dan dingin, awalnya dia bisa dipanggil dengan sebutan Kaisar, taip karena dijebak oleh Ratu Qin sebelumnya, Ji Xingfeng tidak hanya kehilangan tahta tapi dia juga dikhianati oleh wanita yang dicintainya, sekarang dia bahkan dipindahkan oleh Kaisar ke tempat yang begitu miskin seperti ini, hatinya pasti dipenuhi dengan kebencian dan kemarahan.
Hello! Im an artic!
Bisa dibayangkan betapa bencinya Ji Xingfeng pada dirinya pada saat itu, lalu sekarang betapa bencinya dia pada Zhao Xueyan. Jika dipikir-pikir… Ji Xingfeng juga merupakan orang yang menyedihkan.
Tapi sekarang apa dirinya memiliki hak untuk mengasihani Ji Xingfeng? Dirinya bahkan masih terintimidasi olehnya.
__ADS_1
Ketika mereka tiba di kediaman Pangeran Ping, sekelompok besar pelayan sudah menunggu di depan pintu.
Ketika para pelayan pria melihat Pangeran Ping sudah kembali dari perjalanannya, dan bahkan membawa wanita cantik yang begitu menakjubkan, tidak ada satupun dari mereka yang tidak membelalakkan mata mereka lebar-lebar, tatapan mata mereka dipenuhi dengan kegembiraan. Para pelayan wanita juga terpaaku, mereka semua menatap Ye Wushuang dan merasa malu karena diri mereka sama sekali tidak bisa dibandingkan.
Hello! Im an artic!
Ye Wushuang sendiri sama sekali tidak merasa bangga akan tatapan mata semua orang, sebaliknya Ye Wushuang masih bersikap datar, bahkan ada sedikit ketidakberdayaan di tatapan matanya. Karena dirinya juga pernah menjalani hidup yang begitu rendah. Pada saat itu parasnya cacat dan dengan terpaksa harus menutupi wajahnya dengan cadar, Ye Wushuang mengingat dengan jelas ekspresi terkejut dan ketakutan yang ditunjukkan oleh orang lain setiap kali mereka melihat bekas luka di wajahnya. Ya, manusia memang selalu seperti ini, mudah terpana pada penampilan, selamanya tidak akan pernah bisa melihat langsung ke dalam lubuk hati seseorang.
Bagi Ji Xingfeng, kediaman Pangeran Ping ini adalah Istananya dan juga rumahnya. Tapi bagi Ye Wushuang, tempat ini benar-benar asing.
Pada saat ini, Ji Xingfeng malah berjalan ke hadapannya, matanya yang tajam itu menatapnya sekilas dengan datar, bibir tipisnya sedikit terangkat, menunjuk ke seorang gadis mungil dan manis di samping dan berkata: “Kemari.”
__ADS_1
“Baik!” Setelah pelayan itu menerima perintah, dia langsung berjalan ke hadapan Ye Wushuang dengan takut, tidak berani mengangkat kepalanya dan juga tidak berani berbicara.
Raut wajah Ji Xingfeng begitu dingin, dia berkata tanpa senyum: “Di kemudian hari, dia akan menjadi pelayan yang merawat dan mengurus segala sesuatunya di sisimu.”
Menghadapi suasana yang kaku ini, yang bisa dilakukan Ye Wushuang hanyalah menganggukkan kepalanya, kemudian dia menoleh dan bertanya pada pelayan yang bersikap patuh itu: “Siapa namamu?”
Gadis kecil itu sepertinya tidak menyangka bahwa Ye Wushuang akan bertanya padanya dengan nada yang begitu lembuat, dia mengangkat kepalanya dengan terkejut, sepasang matanya yang berbinar cerah itu dipenuhi dengan kegembiraan dan berkata: “Namaku…”
“Namanya Yuya!”
Tidak menunggu pelayan itu selesai berbicara, Ji Xingfeng sudah menyela dengan dingin. Di saat bersamaan dia menatap dengan dingin ke arah Ye Wushuang, tatapan matanya yang gelap itu seakan sedang mengharapkan reaksi Ye Wushuang.
__ADS_1
Tak bisa disangkal nama “Yuya” masih begitu bergemuruh di benak Ye Wushuang. Yuya mati demi dirinya, tampilan Yuya sebelum kematiannya pun masih diingatnya dengan sangat jelas, tatapan ketidakberdayaan dan kesedihan pada saat Yuya melompat dari tebing benar-benar tidak bisa dilupakannya sampai sekarang.
Gadis kecil itu tidak mengerti mengapa sang Pangeran tiba-tiba mengganti namanya, tapi dirinya mengerti bahwa sebagai seorang budak, hal itu tidak seharusnya ditanyakannya. Yang bisa dilakukannya hanyalah mengikuti perintah Pangeran Ping dan mengubah namanya di kemudian hari menjadi “Yuya”.