
Hello! Im an artic!
Alasan utamanya adalah setelah tinggal begitu lama di kediaman, Leng Bingxin jarang berbicara, setelah sekian lama tidak dapat dihindari dirinya menjadi sedikit kesepian. Ketika belum mengetahui tujuan Bei Fengchen, Leng Bingxin masih sering melihat tampilan Bei Fengchen yang tampan dan juga senyum serta hatinya yang hangat, tapi sekarang hatinya sudah mati, kecuali bersikap terbuka untuk menjalani hidup setiap hari, hidupnya ini seakan sudah tidak menemukan arti apapun.
Hari ini, saat kembali dari Lembah Jueqing, mereka sama sekali tidak berbicara di sepanjang perjalanan.
Hello! Im an artic!
Leng Bingxin menyibak tirai jendela dan melihat pemandangan di luar.
Saat ini tanaman hijau terbang melintas di hadapannya, dilapisi dengan kabut dan sedikit bayangan biru yang tipis dan halus, tiba-tiba terpantul di penglihatan Leng Bingxin.
Leng Bingxin menoleh keheranan, menatap Bei Fengchen dengan raut heran.
Sosok ramping itu menatapnya tanpa bergerak, tanaman hijau itu dengan ringan tertiup angin dan terangkat semakin tinggi.
__ADS_1
Hello! Im an artic!
Ada senyum samar di tatapan matanya, Bei Fengchen memakai pakaian putih bersih. Bahkan sinar matahari pun malu untuk meninggalkan bayangan padanya.
Leng Bingxin sedikit terpaku menatapnya, rambut hitam Bei Fengchen yang tersampir dari leher putih mutiaranya itu memunculkan kilau puitis. Tulang punggungnya begitu tegap, seolah dalam sosok cantik seperti pohon poplar ini terdapat kekuatan yang besar dan tangguh.
Leng Bingxin harus mengakui bahwa Bei Fengchen pada saat ini benar-benar seorang pria yang anggun dan menawan. Aura bercahaya dan indah menguar dari wajahnya. Tidak ada kemunafikan dalam senyumannya, dan tatapan matanya itu begitu jernih dan tulus.
Leng Bingxin perlahan mengatupkan bibirnya, kemudian Bei Fengchen sudah mulai berbicara: “Apa wajahmu masih sakit?”
Leng Bingxin ucapannya yang datar tapi juga menunjukkan perhatian yang dalam. Untuk sesaat Leng Bingxin berpikir bahwa ucapan Bei Fengchen itu benar-benar berasal dari dalam hatinya.
Ya, Bei Fengchen pada saat ini, kulitnya itu sudah seperti teratai salju putih di Gunung Kunlun, dan matanya itu sudah seperti air kolam suci di puncak Gunung Tianshan.
Leng Bingxin menggelengkan kepalanya pelan, tidak lagi menatap sepasang mata itu, sepasang mata itu bisa membuat orang lain salah paham, sepasang mata itu juga bisa membuat orang lain berpikir bahwa itu serius.
__ADS_1
Bei Fengchen sedikit mengernyitkan alisnya, mengangkat lebih tinggi kain berwarna hijau di tangannya dan berkata: “Pakailah ini, lepas ketika lukamu sudah sembuh di kemudian hari!”
Leng Bingxin terkejut pada awalnya, kemudian sepertinya dirinya memahami sesuatu, perlahan-lahan Leng Bingxin mengambil kain hijau di tangan Bei Fengchen, ada senyum pahit yang terulas di sudut bibirnya.
Dulu dirinya adalah seorang wanita yang sangat cantik, kecantikannya itu bahkan bisa mengejutkan dunia, demi menghindari kesulitan dan bencana, dirinya harus menutupi kecantikannya itu dengan cadar hitam. Sejak saat itu dirinya dikenal dengan sebutan wanita jelek.
Pada saat ini, parasnya secara tragis menjadi cacat dan tampak menakutkan, dirinya sudah menjadi wanita yang benar-benar jelek dan dirinya masih harus menutupi wajahnya dengan kain, ini sungguh ironis.
Apa mungkin selama sisa hidupnya, dirinya akan selamanya hidup di bawah lapisan kain ini? Selamanya akan menjadi bahan pembicaraan orang lain?
Apa ini adalah kehidupan yang Tuhan berikan padanya? Kapan dirinya baru akan benar-benar menjalani hidupnya sendiri?
Ketika Bei Fengchen melihat orang di hadapannya, ketika menatap lekat pada kain, di bola mata hitam itu sama sekali tidak terlihat emosi, tatapan macam apa itu? Tatapan mata itu seakan telah melihat dan melalui semua perubahan kehidupan di dunia, melebur ke dalam dunia dan tidak mempedulikan lagi urusan di dunia, sepenuhnya hanya melihat perubahan di dunia dengan tatapan dingin.
Dalam sekejap, bibir Leng Bingxin tampak sangat pucat seakan tidak memiliki jejak darah, membuat hati Bei Fengchen yang sedari tadi tenang seketika memiliki keinginan untuk menghangatkannya, bahkan meski hal itu akan membuatnya ternoda dengan sedikit warna duniawi, jika tidak mungkin saja Leng Bingxin akan menghilang di detik berikutnya.
__ADS_1