Permaisuri Dibalik Cadar

Permaisuri Dibalik Cadar
Bab 227 Kewajiban Istri


__ADS_3

Hatinya sedikit sakit, memejamkan mata dan berinisiatif memberikan ciuman panas bertubi-tubi padanya.


Mengenai hal ini, Qin Ruojiu tidak tahu sebenarnya siapa yang benar dan siapa yang salah, mungkin setiap orang memiliki kesulitannya masing-masing, tidak memiliki pilihan, tapi Qin Ruojiu memiliki hak untuk mengejar kebahagiaannya sendiri. Qin Ruojiu ingin melepaskan bahkan jika harus mempertaruhkan nyawanya.


Ketika Kaisar Zhaolie pergi, hari sudah larut.


Qin Ruojiu bersandar di ranjang empuk yang terbuat dari kayu pir, menatap lekat pada sosok gagah Kaisar Zhaolie, punggungnya itu agak lebar dan tampak sangat kokoh.


Ketika Kaisar Zhaolie berbalik, Qin Ruojiu bisa dengan jelas melihat dia memiliki tubuh yang gagah, bahu yang lebar, dada yang tegap, begitu kuat sudah seperti tiang baja. Ketika berdiri di hadapannya sudah seperti sebuah menara batu, ketika berjalan terlihat begitu berkharisma. Menyadari Kaisar Zhaolie menatapnya dan juga memasang senyum jahat di sudut bibirnya, Qin Ruojiu baru menyadari bahwa sikapnya yang tidak sopan. Tadi dirinya ternyata melamun sambil menatap tubuh pria miliknya. Sekarang ketika mengingatnya kembali, Qin Rupjiu merasa dirinya seperti seorang pencuri yang tertangkap basah, wajahnya yang cantik itu memerah.

__ADS_1


Saat itu juga, Qin Ruojiu langsung membenamkan kepalanya dan tidak berani melihat Kaisar Zhaolie.


Melihat raut malu di tatapan mata Qin Ruojiu, ada senyum tipis di sudut bibir Kaisar Zhaolie, dengan ekspresi santai Kaisar Zhaolie berkata: “Qin Ruojiu, kita ini adalah suami istri, mengapa kamu begitu canggung? Hanya melihatku yang tidak memakai pakaian saja sudah malu seperti itu, bagaimana kamu akan melayaniku di kemudian hari?”


Mendengar ucaoan itu, Qin Ruojiu terpaku kemudian bertanya sambil mengerutkan kening: “Melayani?”


Kewajiban seorang Istri…hati Qin Ruojiu tergerak, benar, kapan dirinya pernah melakukan kewajiban seorang Istri?


Dalam sekejap, wajah yang tadinya dilapisi oleh rona merah setelah bercinta tadi sekarang sudah menjadi sedikit pucat. Rasa malu tadi sudah menghilang sepenuhnya, ekspresi Qin Ruojiu secara bertahap menjadi lebih serius. Besok dirinya akan pergi, dirinya bukan lagi Istrinya, dan semua yang ada di hadapannya ini akan menghilang.

__ADS_1


Qin Ruojiu mengangkat tatapan matanya, menatapnya Kaisar Zhaolie dengan penuh kasih sayang dan keengganan, meskipun pria di hadapannya ini terlihat dingin dan acuh, tapi hal itu tetap tidak bisa menyembunyikan kharisma seorang Raja yang ada dalam dirinya. Kaisar Zhaolie menoleh dan menatap Qin Ruojiu, garis-garis wajahnya itu begitu tampan, parasnya itu hampir sempurna. Paras yang tegas, alis yang tinggi, bibir yang tipis, itu sudah seperti diukir, terpahat dengan dalam di lubuk bati Qin Ruojiu.


Melihat Qin Ruojiu yang menatapnya dalam dengan tatapan mata penuh perasaan dan emosional seperti itu, ada luka yang tak bisa disembunyikan di tatapan matanya dan juga rasa sedih yang tak terlukiskan. Bibir tipis Kaisar Zhaolie terangkat pelan, dia menyimpulkan bahwa wanita ini mencintainya. Kalau tidak tatapan matanya pada saat ini tidak akan menunjukkan begitu banyak ekspresi familiar saat wanita lain menatapnya.


Saat ini, Kaisar Zhaolie sangat gembira, perlahan-lahan berjalan ke sisi Qin Ruojiu, hanya mengangkat lengannya dan membelai kening Qin Ruojiu dengan pelan, tatapan mata Qin Ruojiu bertatapan dengan tatapan mata Kaisar Zhaolie yang begitu dalam dan mengeksplorasi, tatapan yang begitu bangga itu membuat Qin Ruojiu terpaku, wajahnya tiba-tiba menjadi panas, tanpa sadar Qin Ruojiu menoleh, tidak berani menatapnya lagi, tapi dirinya masih merasakan tatapan Kaisar Zhaolie, entah kenapa ditatap oleh tatapan seperti itu membuat hati Qin Ruojiu menjadi panik, gerakan tangan dan kakinya menjadi sedikit kaku, tapi dirinya tidak berani menegur orang yang berperilaku seenaknya ini.


“Kenapa?” Merasakan kecemasan Qin Ruojiu, Kaisar Zhaolie bertanya dengan nada menggoda. Mungkin Kaisar Zhaolie benar-benar melihat dengan jelas kepanikan dalam hati Qin Ruojiu, mungkin Kaisar Zhaolie hanya ingin menggodanya dan ingin melihat kecanggungan Qin Ruojiu.


Qin Ruojiu tidak berani mengangkat kepalanya tapi dirinya malah berkata dengan samar: “Kaisar, kali ini izinkan aku melakukan tugasku sebagai seorang Istri!”

__ADS_1


__ADS_2