
Hello! Im an artic!
Rambut hitam panjang yang sehalus sutra itu terbang tidak beraturan karena tertiup angin, mata hitam pekatnya itu diiringi dengan senyum tipis samar dengan sentuhan aura peri, seperti pohon willow musim semi di tepi danau yang bergoyang dikarenakan angin hangat di bulan Maret, membuat orang lain sangat suka memandangnya, pesonanya itu begitu halus bagaikan batu giok.
Meski masih anak-anak, tapi auranya yang sangat luar biasa itu benar-benar membuat orang lain tidak bisa melupakannya. Ayah berkata bahwa orangtua Kak Tuyang sudah meninggal, dan Kak Tuyang akan dibawa oleh Ayah ke aula leluhur untuk meminta instruksi, mulai saat itu, Kak Tuyang dibesarkan oleh klan.
Hello! Im an artic!
Qin Ruojiu masih ingat, hari itu Ayah membuat pengecualian dan membiarkan dirinya bermain dengan anak laki-laki seharian, dia berkata bahwa mungkin ini adalah kenangan masa kecilnya yang terakhir, kegembiraan di masa kecil.
Ketika mengatakan itu, kerutan di alis Ayah menjadi semakin dalam, setelah berbicara dengan sungguh-sungguh, Ayah menatap ke arah Tuyang dengan pandangan yang jauh.
Pada saat itu, baik Qin Ruojiu maupun Tuyang masih tidak mengerti apa maksud Ayahnya, tapi mereka bermain dengan sangat gembira.
Mungkin ini pertama kalinya Qin Ruojiu bisa bermain dengan anak seusianya, mungkin Ayahnya juga tahu bahwa ini adalah kali terakhir dia bisa memanjakan masa kecil Tuyang, jadi mereka sangat menghargai hari itu.
__ADS_1
Hello! Im an artic!
Qin Ruojiu masih ingat ketika Tuyang dibawa pergi oleh Ayahnya, Tuyang pernah bersumpah dengan suara lantang: “Jiu’er, aku pasti bisa meramal nasibmu, kamu harus menungguku, bahkan jika mati pun, aku pasti akan membantu menyelesaikan semua bencana untukmu.”
Tapi 10 tahun berlalu, Kak Tuyang tidak pernah muncul lagi. Ucapan masa kecil itu sering bergema dengan jelas di telinganya saat dirinya sedang bermimpi di tengah malam. Pertemuan kembali di hari ini, terjadi setelah 10 tahun kemudian …
Dia yang dulunya merupakan anak laki-laki tampan dan belum dewasa, sekarang sudah berubah menjadi pria tampan tapi terlihat sakit-sakitan.
Meski tampilannya berubah, tapi ketegasan di tatapan matanya dan juga aura tidak biasa yang bagai Dewa itu malah tidak bisa dihapus sama sekali.
Tuyang tidak menyangka gadis kecil yang imut, sederhana, dan kesepian yang membuat orang lain merasa pilu itu kini sudah berubah menjadi begitu cantik dan sangat memukau.
Terlebih lagi, dia sudah menjadi Ratu Negara Kangqing hari ini, waktu berlalu begitu cepat, segala sesuatu tampaknya telah melalui perubahan, tidak peduli apa itu benda maupun manusia. Namun, kebaikan murni yang terdapat di tatapan matanya itu masih tersisa.
“Ya, ini aku, adik Jiu’er, ini aku… aku Tuyang…” Tuyang maju ke depan dan menggenggam tangan Qin Ruojiu, sudah seperti anak kecil pada waktu itu yang tidak memiliki pemikiran lain, tidak memiliki pemikian yang mengganggu.
__ADS_1
Lu’er melihat alis Permaisuri yang selama ini terus berkerut akhirnya terlihat sedikit bahagia hari ini, Lu’er langsung memberikan isyarat pada pelayan di belakangnya, semua orang tidak berani tinggal lebih lama dan bergegas undur diri.
Qin Ruojiu berdiri diam di tempat, membelalakkan matanya yang besar dengan tidak percaya, tatapan matanya dipenuhi dengan kegembiraan dan kebingungan: “Kak Tuyang, 10 tahun tidak bertemu, kamu masih mengenaliku?”
Pemuda berpakaian biru itu tersenyum tipis, senyumnya begitu indah hingga membuat orang lain tidak bisa mengalihkan pandangan.
Dia berkata: “Tidak peduli apa itu 10 tahun atau 20 tahun, di lubuk hatiku, akan selalu terdapat bayangan adik Jiu’er, tidak ada yang bisa menggantikannya … uhuk uhuk…”
Tidak tahu apa karena dia berjalan terlalu cepat atau karena hatinya terlalu bersemangat, wajah pemuda berpakaian biru yang awalnya terlihat pucat itu akhirnya memiliki rona merah. Tapi batuknya itu tidak mereda dan dia malah terbatuk dengan semakin keras.
Qin Ruojiu terkejut saat melihatnya, dia bergegas maju untuk membantu dan berkata: “Kak Tuyang, kamu kenapa? Kamu kenapa?”
“Uhuk uhuk… aku … uhuk uhuk… aku baik-baik saja, tidak masalah…” Pemuda berpakaian biru itu mendorong Qin Ruojiu ke samping, seolah takut Qin Ruojiu ketakutan melihat tampilannya.
Qin Ruojiu menuruti keinginannya, mula-mula berdiri di samping, kemudian memerintahkan seseorang membawakan kursi untuk pemuda berpakaian biru itu agar dia bisa duduk.
__ADS_1