Permaisuri Dibalik Cadar

Permaisuri Dibalik Cadar
Bab 39 Apa Yang Bisa Dilakukan di Istana


__ADS_3

Setelah Qin Ruojiu sadar kembali, dia baru menggelengkan kepala dengan lemas, kemudian mengelap keringat di dahinya. Ekspresinya memucat dan ia menunduk, “Aku baik-baik saja, sekarang sudah jam berapa ?”


“Sekitar jam 6 pagi !” jawab Lu’Er dengan pelan.


Qin Ruojiu bangkit dan mengangguk, “Bantu aku bangun, dan sisirkan rambutku.”


“Permaisuri, ini masih pagi, kenapa tidak melanjutkan istirahatmu?” Lu’Er terkejut ketika melihat dia mau bangun.


Teringat mimpinya semalam, Qin Ruojiu menggelengkan kepala, “Tidak, aku mimpi aneh semalam,aku tidak bisa tidur lagi. ”


“Baik, Permaisuri!”

__ADS_1


Ia duduk di depan cermin dengan tenang, ia menatap wajahnya yang ditutup dengan cadar hitam itu, kemudian mimpi buruk kemarin pun, kembali muncul di pikirannya.


Di dalam mimpi buruknya, seorang pria tersenyum dengan dingin dan marah sambil menatapnya, kemudian pria itu menjulurkan tangan iblisnya untuk mencekik lehernya, membuatnya kehabisan nafas…


Hatinya pun semakin takut. Tidak tahu sudah berapa lama berlalu, pandangan matanya pun menjadi samar-samar dan buram. Saat ini, Lu’Er tersenyum dan menunduk, “Permaisuri, sudah selesai. Apakah kamu menyukai sanggulan ini?”


Qin Ruojiu menatap dirinya dari cermin, rambut yang hitam dan tebal itu disanggul model awan, rambut hitamnya berkilau, sangat menarik perhatian. Sejak kecil, Ayahnya sudah sering memuji rambutnya yang indah itu, walaupun ia menutupi wajahnya yang cantik itu, hanya dengan rambutnya saja, ia sudah bisa membuat pria-pria di dunia ini jatuh hati.


“Bagus sekali. Lu’Er, kamu sangat terampil. Tatanan rambut ini sangat bagus sekali!” Qin Ruojiu menjulurkan jari untuk membelai rambutnya sendiri.


Lu’Er begitu rendah hati, Qin Ruojiu pun tersenyum.

__ADS_1


“Permaisuri, kamu ada rencana apa hari ini?”


“Apa lagi yang bisa aku lakukan di istana?”


“Permaisuri, kemarin ada yang memberikan kain sutera kepada istana, kain-kain itu berwarna cerah, terasa sangat lembut saat disentuh. Apakah Permaisuri mau pergi melihat kain-kain itu? Lagi pula Permaisuri juga tidak memiliki rencana lain, bagaimana kalau kita pergi memilih kain untuk dijadikan kerajinan atau pakaian?”


Qin Ruojiu merasa idenya masuk akal. Beberapa hari ini sangat membosankan baginya. Ia pun teringat masa-masa saat Ayah tidak mengizinkannya belajar ilmu sihir, dan malah menyuruhnya mempelajari pekerjaan wanita seperti menyulam, menjahit serta musik, catur, sejarah dan gambar. Kebetulan sekarang apa yang ia pelajari itu bisa dipakai.


Qin Ruojiu pun setuju, dia meminta Lu’Er memilih beberapa kain yang bagus, kemudian dia mencari jarum dan benang, dia ingin menyulam “bunga peony yang berlomba untuk mekar”. Sulaman peonynya sangat indah, Ayah sering memuji sulamannya, dan mengatakan bahwa sulamannya bahkan lebih bagus daripada ahli sulam di istana.


Beberapa hari ini, Qin Ruojiu menghabiskan waktunya di istana dengan menyulam bunga peony, terkadang jalan-jalan di taman bunga, saat suasana hati membaik, dia bahkan bermain musik di Taman Baihua.

__ADS_1


Hari ini, suasana hatinya tidak begitu tenang, ia belum berhasil menyulam sebuahpun bunga peony, sedangkan tangannya sudah tertusuk beberapa kali. Walaupun tidak luka parah, tapi aliran darah dalam jari berhubungan dengan jantung, semakin jarinya terluka, ia semakin tidak tenang. Jadi, dia meletakkan sulamannya dan menghela nafas panjang, kemudian berjalan ke Taman Baihua.


Cuaca hari ini sangat cerah, udara juga hangat, sama sekali tidak dingin.


__ADS_2