Permaisuri Dibalik Cadar

Permaisuri Dibalik Cadar
Bab 8 Apa Kesalahannya?


__ADS_3

“Permaisuri, apakah kamu terluka? Kenapa kamu bisa di sini?” bukankan dia seharusnya berada di istana kaisar? Kenapa dia bisa mondar-mandir di luar? Bahkan menggelinding di tangga luar istana dan berlumuran darah.


“Tuan Pengawal, apakah kau bisa menopangku?” tanya Qin Ruojiu dengan nafas yang pendek, di matanya sudah tidak ada rasa semangat, ia seperti bayi yang kehilangan arwah.


“Panggil aku Zhuo Ying saja, Permaisuri!”


Saat berbicara, Zhuo Ying pun menopang lengan Qin Ruojiu yang lemah, tetapi begitu mendengar dia “ssshh”, dia pun terkejut dan langsung melepaskannya. Qin Ruojiu yang mau berdiri pun terjatuh lagi.


“Maafkan Aku, maafkan aku yang telah membuat menyakiti Permaisuri…” Zhuo Ying kewalahan karena tidak tahu harus menopangnya atau tidak. Jika menopangnya, dia takut malah akan menyakiti Permaisuri, karena ia adalah orang yang kasar. Tapi jika tidak menopangnya, ia juga salah, Yang Mulia Permaisuri sedang kesakitan, sebagai bawahan, ia seharusnya membantunya.


Qin Ruojiu duduk di lantai sambil menatapke tempat jauh, bulu mata yang baikan sayap itu berkedip sedih, “Zhuo Ying, kamu tidak usah menyalahkan dirimu sendiri. Bukan kamu yang menyakitiku, aku memang sudah terluka. Jika tidak merepotkan kamu, apakah kamu bisa menggendongku? aku benar-benar tidak bisa berdiri.”

__ADS_1


“Permaisuri, aku…” pria dan wanita tidak boleh bersentuhan, apalagi wanita ini adalah permaisuri, istri kaisar. Jika berani menyentuh, kepalanya akan dipenggal.


“Kakiku terkilir, aku tidak bisa jalan. Kalau kamu keberatan, tolong panggilkan dayang istana, apakah bisa?” ucap Qin Ruojiu dengan pelan dan memohon, pandangan matanya penuh kekecewaan.


Zhuo Ying tidak pernah melihat pandangan seperti itu, rasanya seperti mengalami luka dan kesedihan yang mendalam, yang bisa menggemparkan dunia. Mungkin Permaisuri adalah wanita yang sangat jelek, tetapi kedua pandangannya itu begitu bersinar dan indah, bagaikan 2 buah kristal. Membuat orang tidak bisa menolak.


Dia pun berjongkok dengan perlahan, menunduk, tidak berani bernafas terlalu kuat, kemudian menggendong Qin Roujiu ke dalam pelukan dengan perlahan, seperti seorang ibu yang melindungi bayinya, kemudian bangkit dengan pelan-pelan.


Angin yang dingin, dia yang menyedihkan ini seperti sekuntum bunga yang lemas, jika Hujan turun atau petir menyambar, mungkin ia tak akan bisa selamat.


Apa kesalahan Permaisuri? Kenapa Kaisar sampai memeprlakukannya seperti itu?

__ADS_1


Qin Ruojiu tidak tahu kapan dia kembali Istana Fengyi, saat terbangun, hari pun sudah siang.


Cahaya matahari menyinari ranjang permaisuri, alis gadis itu mengernyit seperti menahan penderitaan. Dahi yang berwarna putih sampai keluar keringat. Di dalam mimpi, sepertinya dia melihat sesuatu yang mengerikan dan ingin menghindar, dia ingin menghindar, tetapi langkahnya begitu berat. Pada akhirnya, dia pun baru terbangun.


Keadaan di hadapan bukan pemandangan yang dia kenali. Bukan kamar yang penuh dengan gantungan lonceng, melainkan istana yang dingin, mewah dan membuat orang terpana.


“Permaisuri, kamu sudah bangun?” terdengar suara yang garing, hormat dan asing dari tempat yang jauh.


Qin Ruojiu menggerakkan badannya dengan pelan, tubuh bagian bawahnya terasa sakit, membuatnya susah bergerak. Apa yang terjadi? Pikiran yang kacau, semalam… pernikahan? Malam pertama… terjatuh… semua ini datang bagaikan air pasang, Qin Ruojiu pun tidak berdaya lagi.


Gadis yang membelakangi sinar matahari itu segera meletakkan ember dan lari menghampiri Qin Ruojiu, kemudian bertanya dengan ngos-ngosan, “Permaisuri, jangan bergerak, berbaring dulu.”

__ADS_1


Dengan ditopang oleh gadis itu, Qin Ruojiu pun berbaring kembali, kemudian ia menatap gadis itu dengan tidak tenang.


__ADS_2