
Hello! Im an artic!
“Terima kasih Tuan Penguasa Kota atas pujiannya.”
“Apa kamu berasal dari Negara Qi?”
Hello! Im an artic!
Awalnya masih membicarakan mengenai sutra, tapi tiba-tiba She Jingtian mengubah topik percakapannya dan langsung menanyakan mengenai asal usul Ye Wushuang.
Ye Wushuang hanya mengangguk tapi sama sekali tidak bersuara.
“Negara Qi dan Kota Wuyou berjarak ribuan mil jauhnya, jarak yang begitu jauh, apa kamu tidak merindukan keluargamu?”
“Aku tidak memiliki keluarga.”
__ADS_1
Hello! Im an artic!
Ye Wushuang berbicara dengan begitu tegas, bahkan terdapat kepahitan yang getir di tatapan matanya. She Jingtian yang pandai menilai orang itu melihatnya, hatinya merasa terkejut.
“Tidak memiliki keluarga? Apa Nona sedang bercanda?” Bagaimana mungkin wanita yang begitu muda dan cerdas ini tidak memiliki keluarga? Ayah, Ibu, Kakak, Adik… Bagaimanapun juga tidak mungkin tidak memiliki keluarga seperti yang dikatakannya itu.
“Apa menurutmu aku sedang bercanda?”
Matanya begitu jernih, kecantikannya itu juga terdapat sentuhan ketidakberdayaan dan penghinaan terhadap diri sendiri.
“Aku memiliki alasanku sendiri.”
Ye Wushuang menanggapi dengan datar, tapi terdapat rasa tidak nyaman di dalam hatinya. Benar saja, rasa keingintahuan semua pria di dunia ini sama saja, pertama-tama mengenai asal usulnya, sedikit demi sedikit akhirnya sampai pada penampilannya, mungkin banyak pria akan mengira bahwa di balik cadar ini adalah sebuah paras yang tiada tara, tapi begitu mereka tahu yang sebenarnya, mereka baru mengerti bahwa apa yang mereka bayangkan itu benar-benar konyol, kesenjangan antara khayalan dan kenyataan memang selalu tidak sesuai dengan harapan.
Melihat Ye Wushuang yang terlihat tidak ingin mengungkit lebih banyak, She Jingtian merasakan semacam rasa canggung yang belum pernah dirasakannya sebelumnya, setiap kali dirinya menatap wajah yang ditutupi oleh cadar, dirinya seakan ingin berusaha sebisa mungkin untuk melihat wanita ini. Tapi hasilnya malah membuatnya kecewa, semakin seperti itu malah semakin membangkitkan keinginan dalam batinnya.
__ADS_1
Mungkin keinginan itu menggerakkan hati Tuhan, ketika suasananya terasa sangat canggung, seekor ular kecil berwarna abu-abu kecokelatan diam-diam merayap dari samping menuju ke arah Ye Wushuang, pada saat ini ular itu melingkarkan tubuhnya dan juga mendesis sambil menunjukkan lidah merahnya, ular itu dengan melebarkan matanya dan mendekati Ye Wushuang perlahan untuk menyerangnya.
Ketika She Jingtian menyadarinya, ular itu sedang sedang membuka mulutnya hendak menggigit leher putih tanpa cela milik Ye Wushuang, seketika raut tampan She Jingtian berubah, dirinya langsung melesat meluncur ke arah Ye Wushuang: “Hati-hati …”
Sambil berkata, She Jingtian mengangkat telapak tangannya dan menggunakan tenaga dalam miliknya, Ye Wushuang mendengar suara angin keras yang terlintas melewati telinganya yang datang dari telapak tangan milik She JIngtian, di saat bersamaan Ye Wushuang juga mencium aura berbahaya. Ketika berbalik badan dikarenakan terkejut, Ye Wushuang melihat ular abu kecoklatan yang terjatuh ke tanah dengan suara dentuman kecil. Setelah meronta selama beberapa saat, ular itu akhirnya tidak bergerak lagi.
Nafas Ye Wushuang tercekat, detak jantungnya berdetak cepat mencerna adegan berbahaya itu, ketika kembali mengangkat kepalanya, Ye Wushuang melihat dua tanda gigitan taring agak kekuningan di telapak tangan putih itu. Tidak banyak berpikir, Ye Wushuang juga tahu bahwa pelakunya adalah ular kecil yang masih tergeletak di tanah.
“Apa kamu baik-baik saja?” Ye Wushuang bertanya dengan tatapan mata panik dan penuh rasa bersalah.
Pihak lain hanya melihat lukanya sambil tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya: “Tidak apa-apa, ular ini tidak berbisa, hal ini malah membuatmu terkejut, kamu tidak … kamu… kamu… wajahmu… ”
Ucapan yang awalnya hangat seperti angin sepoi-sepoi dan bulan yang cerah itu pada saat ini berubah menjadi terbata-bata, tatapan matanya yang tampan itu berubah dari tatapan mata penuh keterkejutan menjadi penuh penyesalan.
Hanya dengan tatapan mata seperti itu saja sudah membuat Ye Wushuang paham akan segalanya, Ye Wushuang mempertahankan rautnya seperti biasa, memegang wajahnya sendiri tanpa rasa terkejut, ketika menyentuh bekas luka itu, Ye Wushuang tersenyum padanya dengan sikap yang sangat santai: “Tuan Penguasa Kota adalah orang yang sudah pernah melewati angin dan ombak, tidak mungkin terkejut dikarenakan hal ini bukan?” Setelah selesai berbicara, Ye Wushuang kembali menutupi wajahnya dengan cadar yang sudah terjatuh dengan gerakan yang sangat terampil.
__ADS_1