Permaisuri Dibalik Cadar

Permaisuri Dibalik Cadar
Bab 217 Kaisar Sangat Marah


__ADS_3

Berbicara sampai sana, Qin Ruojiu tersenyum pahit dan matanya yang jernih itu mulai berair. Ada kesombongan dan sikap keras kepalanya yang tidak bisa dihapus.


Kaisar Zhaolie menundukkan kepalanya. Tatapan matanya itu terlihat sangat dalam dan dingin.


Qin Ruojiu masih tetap tersenyum dingin. Kali ini dia tidak lagi takut dan khawatir, tetapi malah merasa seperti menantikan kematian ini. Benar, daripada dia hidup seperti ini, lebih baik dia mati. Sedangkan Kaisar Zhaolie malah melototnya dengan tatapan dingin dan lanjut berkata, “Kelihatannya demi dirinya kamu beneran rela mempertaruhkan nyawamu. Dan demi dirinya, kamu tidak lagi peduli dengan nyawa begitu banyak orang yang tidak berdosa. Sebenarnya apa arti dirinya bagimu? Lalu apa arti Kaisar untukmu?


Memangnya kamu sama sekali tidak bisa merasakan semua rasa sayang dan peduli yang Kaisar berikan padamu? Ataukah di dalam hatimu, Kaisar hanyalah seorang iblis yang selalu menggunakan kekuasaannya untuk menekan orang kecil?”


Qin Ruojiu benar-benar tidak menyangka Kaisar akan bertanya seperti ini padanya. Dia tercengang dalam seketika dan melihat lurus ke dalam mata pria yang dingin dan tidak berperasaan itu.


Kemudian, Qin Ruojiu bertanya, “Apakah Kaisar pernah memberikan kesempatan padaku untuk memilih?” Selesai mempertanyakan hal itu, pandangan Qin Ruojiu pun terasa kabur karena tertutup air matanya yang tergenang.

__ADS_1


Saat itu, emosi Kaisar Zhaolie sudah mencapai titik batasnya. Dia langsung menggunakan tangannya untuk menarik baju Qin Ruojiu dan menggunakan tangannya yang lain untuk mencengkram dagu Qin Ruojiu. Dia melihat kejam ke dalam matanya dan jantungnya berdebar dengan kencang. Benar, dia sudah berbuat sebanyak itu tetapi di dalam hati wanita ini dia masih sajalah seorang pria yang tidak ada apa-apanya.


Wanita ini bilang dia tidak memberinya kesempatan untuk memilih, itu berarti selama ini dia terus memaksanya dan menekannya. Jadi kelembutan dan sikapnya nurut yang pernah wanita ini berikan padanya itu semua hanya akting? Atau karena dia takut, jadi dia terpaksa nurut dengannya?


Terpikir sampai di sana, Kaisar Zhaolie langsung menggigit telinga Qin Ruojiu dan berkata dengan nada geram, “Ternyata kamu menganggap Kaisar Zhaolie seperti itu di dalam hatimu. Kalau begitu Kaisar akan melakukannya sesuai dengan apa yang kamu anggap.”


Qin Ruojiu sudah digigit olehnya sebelum dia sempat menghindar. Qin Ruojiu yang diperlakukan seperti itu langsung mendorongnya dan berkata dengan nada kesal, “Lepaskan aku, aku lagi datang bulan ….”


Mendengar hal itu, Kaisar Zhaolie terdiam sebentar lalu tertawa keras di dalam kesunyian malam. Kemudian Kaisar berkata dengan nada licik, “Kaisar ingat, jadwal datang bulan kamu itu harusnya akhir bulan ini.”


“Jangan kira karena Kaisar nggak tanya, Kaisar nggak tahu apa-apa. Lain kali jangan pakai cara seperti ini untuk membohongi Kaisar lagi. Kalau tidak Kaisar akan sangat marah!”

__ADS_1


Qin Ruojiu tidak bisa tidur nyenyak selama satu malaman. Kaisar Zhaolie yang amarahnya tidak bisa dipadamkan itu mengganggunya sepanjang malam.


Sampai keesokan paginya, dia yang sudah sangat lelah itu baru tertidur.


Dalam mimpinya, Qin Ruojiu merasa dirinya seperti hanyut ke suatu tempat yang familiar dan asing untuknya. Sekelilingnya dipenuhi dengan ribuan lampion lampu yang bergantungan di sepanjang jalan sampai matanya tidak bisa dibuka.


Dia berdiri di bawah pohon yang dikelilingi oleh kabut dingin malam hari. Di atas pohon itu bergantungan begitu banyak bunga sakura yang berguguran satu per satu.


Tatapan mata di depannya terlihat agak kabur. Pemandangan yang ada di depannya itu seolah terlihat seperti pemandangan yang pernah dia lihat beberapa tahun yang lalu. Di belakangnya ada pejalan kaki yang berjalan tergesa-gesa. Dia tidak tahu siapa yang berjalan di belakangnya, dia hanya melihat mereka sedang berjalan tergesa-gesa.


Qin Ruojiu berdiri bingung di sana seolah sedang menunggu sesuatu dan tersesat.

__ADS_1


Pada saat itu, dari ujung jalan tempat dia berdiri muncul seorang pria berbaju putih. Pria itu sedang berdiri membelakanginya.


“Siapa?” Qin Ruojiu berteriak. Pria yang ada di depannya itu tampak sedikit akrab dengannya.


__ADS_2